Bambang Hendarso Danuri dan Sutanto


Selesai sudah tugas Jenderal Polisi Sutanto sebagai Kepala Polri. Jika tak ada aral melintang, posisi TB-1 itu akan diisi oleh Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD).

Dingin, begitulah kesan awal para pendukung Jenderal Polisi Sutanto ketika tahu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tekah mengirim surat kepada Ketua DPR Agung Laksono yang isinya mengajukan nama Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang baru. Padahal, sebelum isi surat itu terungkap, mereka sudah berupaya mempengaruhi istana agar jabatan Sutanto dipertahankan hingga pemilu mendatang.

Malah, Ketua DPR Agung Laksono sempat memberi sinyal tidak akan terjadi suksesi kepemimpinan Polri. “Seharusnya awal September Kapolri sudah harus diganti. Tapi sampai sekarang belum ada surat tentang akan diganti atau dilanjutkan," kata Agung ketika itu.

Namun, teka-teki pergantian Kapolri terjawab pekan lalu, bertepatan dengan tenggat akhir. Uniknya, lewat Agung Laksono pula teka-teki itu terungkap. “Saya telah menerima surat dari presiden yang intinya menyampaikan perihal soal permintaan persetujuan dari DPR RI untuk pengangkatan Kapolri menggantikan Kapolri Pak Sutanto, Komjen Polisi Bambang Hendarso,” kata Agung Laksono.

Surat bernomor 56 tersebut akan segera ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur yang berlaku di DPR. “Tanggal 16 September (surat presiden) diumumkan di paripurna. Kemudian dibawa ke Bamus 18 September, sehingga tanggal 19 September sudah bisa diproses (fit and proper test di komisi III),” terangnya.

Agung pun mengaku tidak terkejut. Ia menjelaskan, pengajuan nama calon kapolri adalah hak prerogatif presiden. “Biasa itu. Karena hal serupa dulu juga menunjuk nama cukup satu. Apalagi itu kewenangan presiden,” ujarnya.

Namun, tentang kepastian Bambang Hendarso akan menduduki pucuk pimpinan Polri, Agung tidak berani memastikan. Keputusan akhir sepenuhnya berada di DPR. “DPR ini kan hanya persetujuan. Bisa disetujui juga bisa ditolak. Kalau waktunya Insya Allah cukup lah,” tandasnya.

Sementara itu, mengetahui masa kerjanya yang akan game over alias selesai, Kapolri Jenderal Pol Sutanto menyatakan, dirinya akan berusaha untuk menyelesaikan semua tugas. "Jika tidak ada yang tidak selesai, ya akan dilanjutkan oleh pejabat baru," katanya.

Sutanto optimis, sistem yang sekarang berjalan di tubuh Polri tidak akan terpengaruh dengan pergantian Kapolri sehingga siapapun yang akan menjabat sebagai Kapolri baru maka akan tetap dapat bekerja dengan maksimal. “Pengajuan nama-nama calon Kapolri telah melalui mekanisme yang ada. "Bahkan, sejak lulus dari taruna Akademi Kepolisian, dia (BHD, red) sudah terpantau," jelasnya.

Dia juga mengingatkan kepada penggantinya, Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri agar memperbaiki perilaku anggota polisi yang selama ini masih dikeluhkan masyarakat. "Di sana-sini masih ada kelakuan anggota polisi yang dikeluhkan warga. Ini harus dibenahi," kata Sutanto.

Seperti diketahui, naiknya Sutanto sebaga Kapolri telah membuat peta peredaran narkoba menjadi sempit, bisnis judi mati kutu dan menurunnya aksi terorisme. Itu sebab, nama Sutanto moncer menjelang pelaksanaan Pilpres 2009. Apalagi, Partai Keadilan Sejahtera menyebutnya sebagai salah satu figur yang layak maju sebagai calon presiden. PKS melirik Sutanto?

Bukan sekali-dua, PKS memuji Sutanto. Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PKS, Muhammad Razikun pernah memprediksi peluang Sutanto masuk penjaringan 100 calon pemimpin. Wakil Ketua Umum PKS, Al Muzammil Yusuf, bahkan menyebut Sutanto sebagai salah satu Kapolri terbaik yang dimiliki Indonesia. Lagi pula, di mata Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Sutanto juga cukup mampu menjadi pemimpin Indonesia mendatang. "Saya melihat Pak Sutanto itu baik, mempuyai kapasitas dan visioner," ujarnya.

Angkatan 74
Komjen Pol Bambang Hendarso merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1974, yang meraih gelar sarjana dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jakarta. Kelahiran Bogor, 10 Oktober 1952, ini beristrikan Nanny Hartiningsih.

Karir BHD melejit setelah pernah menjabat Wakasat Sabhara Polresta Bogor Polda Jawa Barat (1975), Kapolres Jayapura (1993),Wakapolwil Bogor Polda Jawa Barat (1994), Kadit Serse Polda Nusa Tengggara Barat (1997), Kadit Serse Polda Bali (1999), Kadit Serse Polda Jawa Timur (2000), Kadit Serse Polda Metro Jaya (2005), Kapolda Kalimantan Selatan (2005), Kapolda Sumatera Utara (2005-2006) dan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri (2006-sekarang). BHD juga menyandang penghargaan Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun, Satya Lencana Karya Bhakti dan Satya Lencana Ksatria Tamtama.

Seperti diketahui, nama BHD mulai dikenal masyarakat sejak menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara karena sikap tegasnya untuk memberantas pembalakan liar. Kasus Adelin Lis menjadi bukti keseriusan Bambang dalam memerangi pembalakan liar. Mahkamah Agung pun memvonis Lis 10 tahun penjara. Satu tahun setengah sebagai Kapolda Sumut, Bambang pun dipromosikan sebagai Kabareskrim Polri.

Mencuat nama BHD memupuskan nama tiga jenderal lainnya, yang sempat digadang-gadang oleh para tim sukes. Mereka adalah Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanagara, Irwasum Polri Komjen Pol Jusuf Manggabarani (Akpol 75), Kababinkam Iman Haryatna (Akpol 75), dan Kapuslakhar BNN Komjen Pol Gories Mere (Akpol 76).

Sekalipun namanya santer bakal menggantikan Sutanto, namun adik mantan Pangdam 1 Bukit Barian Mayor Jenderal (Purn) Tritamtomo tetap low profile. "Saya belum tahu apa-apa. Kan masih dalam proses," katanya seraya menambahkan, "Saya belum jadi apa-apa." mangontang silitonga, ybp

2 comments:

Badass said...

Joshua The Today Show is the right source of learning on talking to women. Of course, Joshua does not have a degree in dating, but he is the expert.

didik Purwanto said...

Sejauh ini sutanto tetap paling tegas yang bisa menyasar anggotanya sendiri....