Bambang Hendarso Danuri

Pengajuan nama calon Kapolri Komjen (Pol) Bambang Hendarso Danuri merupakan pilihan Presiden SBY dari beberapa calon yang memenuhi syarat. Namun, ada yang menyebutnya sebagai anak emas Sutanto?

Sebuah kamar khusus di Hotel Merdeka Madiun menjadi tempat bersejarah bagi Komjen (Pol) Bambang Hendarso Danuri (BHD). Betapa tidak, di kamar itulah, mungkin, dia mendapat kepastian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk siap-siap menjadi Kapolri. Sebelumnya, presiden berbuka puasa di pesantren modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Orang-orang istana yang menyaksikan pertemuan itu serta merta memastikan BHD pasti jadi TB-1. "Pak Bambang yang sekarang Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) tentu saja memenuhi syarat dari segi kepangkatan, senioritas, integritas dan pengalaman," kata juru bicara Andi Malarangeng.

Sementara itu Mensesneg Hatta Radjasa di tempat yang sama mengatakan Presiden Yudhoyono hanya mengajukan satu nama calon Kapolri, juga karena pertimbangan serta masukan agar Bambang Hendarso bisa terpilih menjadi Kapolri baru.

Hatta juga meyakini nama Bambang Hendarso tidak akan ditolak oleh DPR mengingat kriteria-kriteria yang dipenuhi dalam diri Bambang Hendarso. Hatta mengatakan bahwa pengajuan satu calon Kapolri baru ini bukan karena krisis kepemimpinan di Kepolisian.

Namun, Ketua Presidium Indonesia Police Watch. Neta S. Pane berpendapat, BHD yang dicalonkan sebagai Kapolri tidak lebih dari anak emas Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Pasalnya, selama menjadi polisi maupun menduduki berbagai jabatan tidak menunjukkan prestasi yang luar biasa. "Kinerja dan prestasinya biasa-biasa saja. Karirnya menanjak karena Sutanto jadi Kapolri. Ia memang anak emas Sutanto," katanya.

Ia menyebutkan, karir Bambang mulai naik setelah Sutanto menjabat sebagai Kapolri karena sebelumnya ia menjadi perwira yang tidak menduduki jabatan penting. Setelah menjadi Direktur Reserse di beberapa Polda dengan pangkat Kolonel Polisi dan Kombes Pol, Bambang lalu menjadi perwira non job di Mabes Polri hingga tiga tahun. "Bambang Hendarso naik pangkat secara spektakuler semasa Sutanto jadi Kapolri. Dalam tiga tahun ia bisa naik pangkat hingga tiga kali," katanya.

Karena prestasinya tidak ada yang menonjol, Pane meminta agar Bambang tidak perlu membuat gebrakan yang berbeda dengan sebelumnya. "Cukup lanjutkan saja kebijakan Sutanto antara lain pemberantasan judi, narkoba, pembalakan liar dan terorisme," katanya.

Menurut IPW, judi mulai berkembang lagi di Jakarta hingga menjadi tantangan bagi Bambang untuk melanjutkan tradisi Sutanto yang sejak jadi dulu bertindak tegas terhadap judi. Kendati begitu, Pane optimis Bambang bisa memberikan jaminan keamanan karena ia banyak berpengalaman baik di Jakarta maupun di daerah. "Bambang kan lama bertugas di Jakarta sehingga tidak akan kaget dengan berbagai persoalan di ibukota sebagai jantung Indonesia," katanya.

Dengan ditunjuknya Bambang sebagai Kapolri yang baru, tentunya ini merupakan tugas berat bagi. Terutama pembenahan internal Kepolisian yang selama ini masih dipenuhi praktek kolutif dan korupsi.

Sejumlah kasus berat seperti memberantas pungli, narkoba perjudian, ilegal logging dan lainnya yang belum dituntaskan Sutanto akan menjadi tugas Bambang.

“Terutama kasus 15 rekening gelap sejumlah pejabat Kepolisian yang berjumlah trilyunan rupiah juga harus bisa dituntaskan, sebab sampai saat ini Sutanto masih mempetieskan kasus tersebut,” ungkap Neta.

Pembenahan di jajaran lalu lintas juga perlu dilakukan, sebab manajemen lalu lintas sampai saat ini masih semeraut serta pungli masih mengakar. Padahal, jajaran lalu lintas merupakan etalasi Polri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Neta mengatakan, seandainya Bambang jadi terpilih, yang harus dibenahi adalah lalu lintas, sebab praktek pungli masih terus berlangsung sehingga meresahkan masyarakat. Selain itu Bambang juga harus mempunyai konsep yang jelas untuk mengatasi kemacetan dan permasalahan lalu lintas. Sebab angka kecelakaan lalu lintas tiap tahun meningkat. “Untuk tahun ini saja, sudah terjadi 13000 kali kecelakaan dan semua korbannya meninggal dunia,” kata Neta.

Untuk melaksanakan tugas tugas berat itu, sebaiknya Bambang merekut pembantu pembantunya dari polisi yang profesional yang mengerti akan tugasnya. Jika itu tidak dilakukan, IPW yakin kasus berat tersebut tidak akan dapat dituntaskan.

Calon lain
Namun penunjukan calon tunggal tersebut sempat menimbulkan tanda tanya besar Komisi III DPR-RI. Sebab penunjukan calon tunggal itu nantinya akan menimbulkan kecemburuan, mempengaruhi rasa integritas dan persatuan di tubuh Kepolisian. Selain itu, Komjen Bambang Hendarso yang merupakan Angkatan1974 itu tidak memiliki prestasi yang cukup dibanggakan. Komisi III berharap agar SBY dalam menentukan pengganti Sutanto tidak hanya mengirim satu orang calon saja.

“Kami berharap agar Presiden SBY kalau bisa mengirimkan lebih dari satu nama calon agar kami punya pilihan,” kata Ketua Komisi III DPR Trimidya Panjaitan .

Dalam penunjukan calon tunggal ini, Trimedya mengakui memang tidak ada aturan khusus yang mengharuskan presiden untuk mengirimkan lebih dari satu nama sebagai calon Kapolri. “Namun demikian, calon tunggal yang diajukan SBY itu bukan berarti akan langsung mendapat persetujuan dari Komisi III,” kata Trimedya.

Politisi PDPI itu juga menilai Bambang Hendarso yang merupakan calon tunggal tersebut tidak memiliki prestasi yang cukup menggembirakan. "Kalau dilihat dari prestasinya, belum cukup berprestasi. Setelah menjabat sebagai Kaditserse Polda Jawa Timur di bawah pimpinan Sutanto, Bambang lama menghilang. Kemudian muncul lagi di Jakarta. Hilang muncul lagi di Kalimantan Selatan dan muncul lagi di Sumatera Utara," kata Trimedya.

Soal adanya penolakan dari Komisi III terhadap Bambang, Trimedya tidak menampik kemungkinan tersebut. Tapi saya tidak bisa memutuskan sendiri karena dalam Komisi III ada anggota yang lain. "Kemungkinan itu ada, tapi tergantung 48 anggota komisi III yang lain,” kata Trimdeya sambil berharap agar SBY mengajukan nama lain selain Bambang sebelum lebaran nanti.

Anggota Komisi III yakni Sahrin Hamid juga mengatakan kebijakan SBY yang menunjuk Bambang Hendarso sebagai calon tunggal untuk menjabat sebagi Kapolri telah menimbulkan pertanyaan besar.

“Kenapa SBY menunjuk hanya satu calon, sementara ada pejabat Kepolisian yang punya pangkat bintang serta memiliki segudang prestasi serta yang profesional tetapi tidak ada dalam pilihannya,” kata Sahrin

Menurut Sahrin, keputusan yang dilakukan SBY ini nantinya akan menimbulkan berkurangnya rasa integritas di tubuh Kepolisian. “Seharusnya SBY mengirimkan nama calon lain selain Bambang Hendarso,” ujar politisi PAN itu.

Penunjukan calon tunggal pengganti Sutanto ini juga mendapat kritikan dari Aliansi Masyarakat Independen Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Amipka). Menurut Amipka, menilai penunjukan calon tunggal pengganti Sutanto, nantinya akan menimbulkan preseden buruk bagi masyarakat.

“Saya tidak mempersoalkan siapa yang harus menjadi Kapolri, tetapi kenapa hanya satu calon yang diajukan sebagai pengganti Sutanto. Tetapi calon tunggal yang dilakukan SBY ini tidak demokratis. Sesuai dengan partai Demokrasi yang dianutnya, SBY seharusnya lebih arif dan bijaksana dalam melakukan pilihan,” kata David Ridwan Baiz.

Ditambahkan, masih banyak pejabat Kepolisian yang berpangkat bintang dan memiliki segudang prestasi, tetapi kenapa tidak dimasukkan dalam pilihan. Bagi Amipka, pilihan calon tunggal ini belum final sebelum SBY mengajukan nama calon lain sebagai pengganti Sutanto.

Sedangkan anggota Kompolnas Adnan Pandupraja mengatakan terlepas siapa pemimpinnya dan dari apa pun alasan penggantian itu, keberhasilan Sutanto tidak lepas dari keberhasilan Bareskrim. "Bambang Hendarso Danuri adalah tulang punggung keberhasilan Sutanto, seperti dalam kasus pembalakan liar dan terosrisme. Itu kan kerjaan reskrim," ujar Pandupraja.

Menurut Adnan, keberhasilan Polri dalam menangani kasus-kasus penting saat era Sutanto, harus pula diimbangi dengan penanganan masalah intern di tubuh Polri sendiri.
"Selain penanganan ekstern, saya juga berharap penanganan ke dalam dengan membersihkan oknum-oknum polisi. Kalau polisi-polisinya masih banyak yang kotor, nggak ada gunanya," tegas Andnan.

Adnan juga mencotohkan kasus salah tangkap dan pendekatan kekerasan dalam penyidikan, sebagai bukti masih kotornya internal kepolisian. "Salah tangkap dan pendekatan kekerasan saat menyidik itu masalah laten kepolisian. Itu belum berhasil dibenahi Sutanto dan ini menjadi PR bagi pengganti Sutanto," tandasnya.

No comments: