Bank Majapahit Effendi Ongko dan Tommy Winata

BANKIR tua itu tiba-tiba muncul lagi. Effendi Ongko, mantan komisaris utama Bank Umum Majapahit Jaya, rupanya menyimpan kesumat. Yang dituju jelas: Tommy Winata. Sembilan tahun silam, menurut Effendi, taipan muda itu telah "merampoknya". Ia bahkan mengaku pernah diculik dan dianiaya aparat atas "pesanan" Tommy.

Alkisah, cerita berawal dari penerbitan warkat deposito palsu BUMJ senilai Rp 35 miliar. Itu adalah jaminan utang kepada Bank Artha Graha (BAG) dan BCA. Di antaranya, Rp 16,9 miliar diterima BAG milik Tommy. Yang menerbitkan adalah Lody Djunaedi, menantunya sendiri, yang menjabat kepala cabang BUMJ Surabaya. Menurut Effendi, ulah itu berlangsung tanpa diketahuinya.

Pat gulipat itu terjadi pada 1990. Saat itulah bank kecil ini pingsan dicekik kredit macet Rp 179 miliar, antara lain utang (call money) Rp 66,4 miliar ke 38 bank lain (salah satunya Bank Lippo). Karena tak kunjung siuman, BUMJ ditebas pemerintah pada November 1997 silam.

Singkat kata, setelah disiksa aparat, pada 21 Desember 1990 Effendi bersama istrinya dipaksa menyerahkan pertokoan Wijaya Center Surabaya dan sejumlah aset lain miliknya-yang dikuasai PT Kranggan-kepada Tommy, Suryo Pranoto (BCA), Lili Soemantri (Bank Continental), dan Husein Susilo Tjioe. Akta jual beli fiktif pun diteken di hadapan Notaris Machmudah Rijanto, tengah malam buta, pukul 23.50. Isinya, menurut Effendi, seolah-olah ia melakukan transaksi sejumlah Rp 35 miliar. "Awalnya saya menolak, tapi karena diancam saya terpaksa menekennya," katanya.

Ada soal lain yang digugat Effendi dari perjanjian itu. Pertama, di perjanjian itu Tommy tidak bertindak atas nama BAG. Padahal, yang dipersoalkan adalah utang-piutang antara BAG dan BUMJ. Lalu, menurut taksiran Vigers Indonesia, total nilai aset PT Kranggan adalah Rp 50 miliar, jauh melebihi nilai warkat deposito palsu itu. Effendi lalu menuntut Tommy mengembalikan kelebihannya. Berikutnya, PT Kranggan tidak memiliki kaitan hukum apa pun dengan BUMJ.

Tommy membantah tudingan itu. Menurut dia, kesepakatan itu hasil perundingan kedua belah pihak. Negosiasi berlangsung lama hingga baru diteken larut malam. "Perundingan Indonesia dengan IMF saja diteken pukul tiga pagi," katanya lagi. Tommy balik mempertanyakan reputasi bisnis Effendi. "Bukankah namanya pernah terlibat tindakan kriminal tahun 70-an?" Menurut sebuah sumber, kasus yang dimaksud adalah peredaran uang dan emas palsu. Saat dikonfirmasi, Effendi menyangkalnya.

Yang menarik, Kepala Hukum Kodam Jaya, melalui surat tertanggal 26 Juli 1994, tersirat mengaku pernah "mengamankan" Effendi. Bunyinya, "Penanganan kasus Sdr. Effendy Ongko... telah merugikan Yayasan TNI AD, sehingga Kodam Jaya berkewajiban menyelesaikan permasalahan itu."

Pengaruh Tommy saat itu memang luar biasa. Menurut Effendi, bos Grup Artha Graha itu selalu bilang, "Yang dirugikan adalah Yayasan Kartika Eka Paksi." Effendi juga telah mengadu ke mana-mana. Tak satu pun yang ditindaklanjuti serius. Ia, misalnya, pernah berkirim surat ke Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan saat itu, Sudomo. Melalui surat tanggal 27 Maret 1992, Sudomo hanya sanggup menyarankannya berunding dengan Tommy dan mengadukan penganiayaan itu ke kepolisian.

4 comments:

Anonymous said...

Penulis, boleh saya bertanya adakah informasi lebih mengenai Lili Soemantri? Bukan hanya sehubungan dengan kasus ini tetapi tentang Bank Continental dan background Lili Soemantri. Terimakasih.

Cipto Junaedy said...

Cipto Junaedy kagum bahwa Anda masih memiliki semua pertanyaan ini setelah menghabiskan satu tahun meneliti.

Langkah pertama untuk memulai bisnis apapun Cipto Junaedy adalah untuk mendapatkan kejelasan tentang apa yang Anda benar-benar INGIN capai dan APA yang Anda tertarik

Dari sana Cipto Junaedy harus mengidentifikasi siapa audiens target Anda membeli akan dan apa masalah utama mereka / keinginan / tantangan / kebutuhan yang. Menggunakannya untuk mengidentifikasi pasar potenial, maka Anda dapat mempersempit ke niche atau micro-niche.

Dari sana Anda harus mencari tahu apa jenis produk dan / atau jasa yang Anda perlukan untuk mengatasi masalah utama mereka / keinginan / tantangan Cipto Junaedy / kebutuhan.

Anonymous said...

Setahu saya Lili Soemantri adalah seorang pengusha yang booming pada tahun 80-90an. Dia memiliki usaha Bank Continental, Cabot Indonesia, travel agent Vata Tour, Mitshuba Electronics dan perkebunan.

Namun usahanya collapse di tahun90an. Dan menurut kabar ia sekarang menetap di amerika.

Ia hanya memiliki seorang putri tunggal.

Lili Soemantri mempunyai 10 saudara yang hampir semuanya masih menetap di Indonesia.

Ia pun dikenal dekat dengan Om Liem.

Terima kasih.

Numpang Promo said...

Terima kasih sudah memberikan informasi ini.