Boncel Bersaudara, Fenomena Mafia Narkoba

Dia lagi, dia lagi....," kata Kepala Kesatuan Psikotropika, Direktorat Narkoba, Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Hendra Joni, dalam satu percakapan lewat telepon selulernya dengan seseorang, Rabu (27/2).

Sejumlah nama muncul dalam percakapan itu. Fani, Afon, Boncel, Natalia, Ana, dan Yanto. Keenam orang ini bersaudara. Seluruhnya pernah dipenjara. Sebagian diantaranya bahkan berulang kali dengan kasus serupa, perdagangan narkoba.

Sore itu Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jendral Adang Firman menjelaskan kepada wartawan, pihaknya membekuk enam tersangka jaringan Boncel bersaudara dan menyita 600.000 butir ekstasi senilai Rp 60 Miliar. Sebuah prestasi memang, tetapi ada yang lebih menarik dari itu, seperti yang disampaikan kriminolog Andrianus Meliala tentang “Fenomena Mafia” pada kasus Boncel bersaudara.

Dalam percakapan terpisah dengan Hendra, Kepala Kesatuan Narkotika, Direktorat Narkoba, Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Yupri, serta sejumlah pengusaha hiburan malam hari beberapa waktu lalu terungkap, Boncel bersaudara adalah “Pemain lama” yang menjadi bandar ekstasi produk belanda sejak tahun 1992.

Tahun 2000-an, selain mengimpor ekstasi dari Belanda, mereka juga mengimpor sabu dari Cina. Awalnya mereka memasok barang dagangan mereka ke sentra-sentra hiburan malam di Jakarta sebelum akhirnya memperluas ke kota-kota lainnya.

Petualangan Boncel bersaudara membuat kalangan pengusaha hiburan malam dan penegak hukum tidak asing kepada mereka. Fani kakak Boncel, kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan di Tangerang, sedangkan afon adiknya berada di Nusakambangan. Ana, adik Boncel yang dikenal sebagai importir dan pengedar sabu terbesar di Jakarta masih bebas aktif alias buron. Adiknya Yanto baru saja keluar dari penjara saat ini, “untuk sementara off “ kata Hendra.

Boncel dan Natalia tinggal di Belanda. Dari Negeri Kincir Angin tersebut, keduanya diduga mengendalikan bisnis narkoba.

Boncel bersaudara diduga membangun jaringan induk dengan memperkerjakan warga negara asing, seperti warga negara Taiwan, Singapura, China, dan Malaysia. Ketika salah satu jaringannya terbongkar, yang disebut-sebut media massa adalah jaringan sabu Cina, Hongkong, atau jaringan ekstasi Singapura, Thailand, dan Belanda. Terkesan, jaringan tersebut terpisah satu sama lain. Padahal, “Dia dia juga”. Yang dilupakan selama ingar bingar penangkapan terjadi adalah jaringan akar rumput yang digerakan warga kota setempat tetap berjalan normal.

Mengapa? Karena ketika salah satu jaringan induknya terbongkar, jaringan akar rumput dibawahnya akan mendapat bantuan dari jaringan induk lainnya.

Menurut Andrianus, kasus boncel menjadi fenomena mafia berbahaya di Indonesia. Lebih-lebh ditengah tumpang tindihnya hukum serta terbatasnya aparat hukum yang andal. Andrianus menjelaskan, kejahatan mafia tumbuh dan berkembang dari kelompok-kelompok keluarga.

Di lingkungan keluarga, proses pertukaran nilai menyimpang tumbuh lebih cepat dan terus mengalami penguatan secara berkelanjutan.

”Rasa sedarah, senasib, harga diri, dan loyalitas mengikat erat kelompok ini dalam seluruh aspek mereka. Ancaman hukuman fisik menjadi tumpul buat mereka,”paparnya. Mirip dengan jaringan mafia, Boncel bersaudara memiliki tiga lapisan jaringan yang mencerminkan tingkat kepercayaan dan loyalitas.

Lapisan pertama terdiri atas anggota keluarga yang mengendalikan seluruh jaringan. Lapisan kedua adalah orang-orang dekat yang bukan keluarga dan umumnya etnis perantauan, serta etnis paling luar adalah warga setempat yang direkrut orang-orang dekat.

Di Indonesia, bisnis narkoba Boncel bersaudara relatif stabil karena umumnya anggota jaringan yang terperosok dalam penjara tetap bisa melanjutkan usahanya, bahkan bisa berlangsung lebih aman dan lancar ketimbang dari luar tembok penjara seperti diakui Direktur IV Tindak Pidana Narkoba, Badan Narkotika Nasional, Brigadir Jendral (Pol) Indradi Thanos.

Ia menduga lebih dari 75% peredaran narkoba di Jakarta dan sekitarnya masih dikendalikan para narapidana penghuni tiga penjara, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Tangerang, serta Rumah Tahanan Salemba.

Andrianus berpendapat, lebih sulit menumpas jaringan narkoba model mafia ketimbang jaringan narkoba yang hanya mengandalkan modal besar dan lobi kekuasaan. Karena itu, ia mengingatkan, sebaiknya aparat hukum mengutamakan penghancuran jaringan narkoba model Boncel bersaudara sampai ke akarnya.

1 comment:

PUSATOBAT-PRIAPERKASA.COM said...

VIMAX berbagai produk dan metode menawarkan cara membesarkan alat vital dengan cepat dan aman, namun jarang yang benar-benar mampu membesarkan alat vital sesuai klaim mereka. Pada umumnya cara membesarkan alat vital yang ditawarkan tidak memberikan hasil yang diharapkan pria dewasa. Terkadang, berbagai cara tersebut juga tidak memberikan hasil yang permanen. Cara membesarkan alat vital memang berkembang dari sekadar menggunakan minyak atau alat bantu ke metode modern seperti Vimax.

Vimax merupakan cara membesarkan alat vital pria terbaik di dunia saat ini. Obat Vimax ini menjadi sangat popular karena terbukti mampu membesarkan alat vital pria sesuai janji dari Vimax. Ukuran penis akan lebih panjang hingga 4 inci, dan membesar hingga 25%, dan yang terutama hasil yang didapat akan PERMANEN selamanya. Dengan Vimax, pria dewasa dapat memperbesar alat vital tanpa memandang usia…..

VIMAX Herbal (pembesar dan perpanjang penis)

Tersedia :
1.VIAGRA USA no 1
2.SUPER POWER USA Obat Kuat Herbal
3.Obat Kuat Cialis 80mg England
4.Golden Grow USA - Obat Peninggi Badan
5.Perangsang Wanita Spontan
6.VACUM + CREM (Pembesar & Penggencang Payudara)
7.Vacum + Lintah Oil (Pembesar Dan Perpanjang Penis)
8.Alat Bantu Pria (Sextoys) Komplit
9.Alat Bantu Wanita (Sextoys) Komplit