Bagaimana Caranya Mengabdi dan Menjadi Anggota Intelijen Indonesia?

Saya telah menerima dan mengecewakan entah berapa puluh e-mail dan unpublish comment dari rekan-rekan, mungkin mencapai seratusan lebih yang menanyakan bagaimana menjadi intel, meminta informasi tentang BIN atau bahkan meminta rekomendasi untuk bisa masuk dalam komunitas intelijen Indonesia.

Mungkin sudah waktunya bagi BIN untuk lebih transparan dengan melakukan rekrutmen terbuka yang lebih kompetitif sehingga calon-calon agen yang direkrut benar-benar pilihan. Hal ini tentunya tetap diiringi dengan sistem spotting agen yang tertutup. Dua mekanisme rekrutmen yang memiliki tujuan berbeda sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Menurut saya untuk agen-agen khusus operasional, sistem rekrutmen tertutup dengan spotting berbulan-bulan masih relevan, karena karakteristik agen yang dibutuhkan adalah kemampuan khusus yang unik yang dimiliki seseorang karena pengalaman hidupnya, karena keterampilan khususnya, karena jaring komunikasinya, karena aksesnya, dll. Setidaknya model ini sangat efektif dan tampak tetap menunjukkan bahwa agen yang direkrut cukup handal dan sebagian besar unsur sipil pimpinan BIN mungkin dari model ini, selebihnya sampah.

Sementara agen-agen analis lebih membutuhkan rekrutmen kompetitif yang bisa dilakukan secara terbuka di kampus-kampus terkemuka untuk mendapatkan calon agen terbaik. Seluruh Badan Intelijen di dunia seperti CIA, MI6, MOSSAD, ASIS, dll telah melakukan rekrutmen terbuka sejak lama. Bidang-bidang pendukung seperti teknologi informasi dan peralatan intelijen jelas membutuhkan kemampuan teknis yang tinggi dari lulusan informatika, telekomunikasi, elektronika, dll. Model ini sedikit-demi sedikit juga ditempuh oleh beberapa petinggi BIN yang mencoba mendeteksi calon-calon agen potensial dari kampus, cukup banyak yang menonjol hasilnya dan berhasil menyelamatkan muka BIN dikala krisis, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
Sementara mayoritas agen BIN yang direkrut melalui jalur kekeluargaan yang tidak transparan oleh pejabat lainnya hanyalah sampah.

Sistem penyaringan yang ketat dan berlapis mudah saja untuk disusun bila BIN benar-benar ingin melakukan revitalisasi organisasi. Informasi tentang dibukanya kesempatan bergabung dengan BIN hanya dilakukan oleh para pejabat BIN yang akhirnya hanya memasukkan kenalan atau anggota keluarganya. Meski ada jaminan loyalitas, tetapi bagaimana dengan kemampuannya yang sangat terbatas. Sudah saat ketakutan BIN disusupi oleh calon agen yang tidak loyal kepada Negara dan Bangsa Indonesia disingkirkan, karena sekarang Indonesia sudah demokratis, tidak lagi menginteli bangsa sendiri secara intensif demi kepentingan dan kekuasaan politik kelompok penguasa. Tetapi mewaspadai ATHG yang sungguh-sungguh menjadi bahaya bagi rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Kehancuran organisasi BIN sejak akhir era 1980-an, 1990-an bahkan mungkin sampai tahun 2000-an jelas disebabkan oleh buruknya sistem rekrutmen kekeluargaan semacam itu. Meski saya dengar mantan Kepala BIN, Jenderal (purn) AM Hendropriyono telah merancang mekanisme rekrutmen yang lebih baik dan kompetitif serta meningkatkan sistem pendidikan dan pelatihan. Namun fakta bahwa tidak semua calon agen potensial di masyarakat tahu tentang adanya rekrutmen BIN, menurunkan prosentase kemungkinan calon agen terbaik yang terpilih masuk menjadi anggota intelijen.

Semoga para pejabat BIN tergugah untuk melakukan reformasi organisasi.

Sekian

2 comments:

Andra Blackbone said...

Download Skype 6.3.32.105 Offline Installer Video chatting software yang paling terkenal.

Eko Sujarwanto said...

Setuju Agan..1.Sistem recruitmen Anggota Intelejen .2.jiwa mengabdi kpd negara diatas suku golongan maupun Ras maupun politik kepentingan perlu di kembangkan . 3.penguasan tehnologi IT yg tercanggih.4. Management intelijen perlu di perbaiki mengikuti Era tehnologi yg semakin berkembang Cepat. SALAM