Eksekusi Amrozi, Imam Samudra.

Malam Mencekam di Desa Amrozi 

 
Pengamanan di Rumah Amrozi 
Lamongan - Sekitar pukul 15.20 WIB, Minggu (9/11/2008) jenazah Amrozi dan Muklas akhirnya dimakamkan di sebuah tanah lapang yang berada di sebelah TPU Tenggulun, Lamongan. Pemakaman kedua terpidana mati bom Bali I ini dipimpin Ustad Abu Bakar Ba'asyir.

Jenazah Amrozi dan Muklas dimakamkan di dalam dua lubang. Kedua lubang liang
lahat itu hanya berjarak sekitar 1 meter. Selain itu, didekat kedua makam ini juga terdapat sebuah tulisan yang ditempel di pohon berbunyi, "Makam Pejuang Islam".

Sebelum dimakamkan, jenazah Amrozi dan Muklas sempat disalatkan di Masjid Baitul Mustaqin yang jaraknya sekitar 15 meter dari rumah ibu kandung keduanya, Hj Tariyem.

Setelah itu, jenazah kembali disemayamkan di Ponpes Al Islam untuk memberi
kesempatan kepada santri dan juga para pendukung yang belum sempat melakukan
salat jenazah.

Dalam pemakaman yang dihadiri ratusan massa pendukung Amrozi ini sempat terjadi insiden kecil. Wartawan baik dari mendia cetak maupun televisi dilarang untuk mengambil gambar prosesi pemakaman. Alasan yang diberikan oleh salah seorang santri, larangan itu merupakan wasiat dari Alamarhum Amrozi.

Jakarta - Amrozi Cs sudah dieksekusi, namun Tim Pengacara Muslim (TPM) tetap akan mempersoalkan adanya dugaan pelanggaran HAM. Pihaknya mendesak DPR RI untuk membentuk tim pencari fakta independen dalam kasus Bom Bali I dan juga
permasalahan sebelum eksekusi.

"Matinya Amrozi Cs bukan berarti perjuangan kita akan berakhir.Kita akan terus berjuang," kata salah satu TPM Fahmi Bachmid kepada detikcom, Minggu
(9/11/2008).

Salah satu pelanggaran yang dilakukan sebelum eksekusi kata dia, para keluarga kesulitan untuk bertemu dengan tiga terpidana mati tersebut dan juga adanya keganjilan dalam persoalan bahan peledak yang digunakan. Hingga saat ini kata Fahmi tidak penjelasan mengenai hal tersebut.

"Kita sudah mendapat surat amnesti internasional mengenai persoalan ini. Kita meminta organisasi advokat untuk menyikapi diamputasinya hak-hak advokat sebagai penegak hukum," tandasnya.

Tiga terpidana mati dieksekusi pukul 00.15 WIB di bukit Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Amrozi dan Muklas dimakamkan di Desa Tenggulun, Lamongan Jawa Timur dan Imam Samudra di makamkan di Serang, Banten.

Lamongan - Teriakan takbir dikumandangkan oleh pendukung Amrozi dan Muklas mengiring kedatangan Ustad Abu Bakar Ba'asyir di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan,Minggu (9/11/2008). Ba'asyir datang dengan pengawalan ketat dari para pendukung Amrozi.

Suasana ketegangan sedikit terasa saat Ba'asyir tiba. Pasalnya para pendukung Amrozi meminta kepada warga yang ada di jalan desa untuk segera memberikan jalan.

Ba'asyir tiba di Desa Tenggulun pada pukul 13.45 WIB dan langsung masuk ke Pondok Pesantren Al Islam. Simpatisan Amrozi tetap meminta kepada seluruh wartawan untuk tidak mengambil gambar bahkan beberapa kali mereka berteriak, "Kameranya matikan!'

Sementara itu suasana di sekitar tempat pemakamam kedua terpidana mati dipenuhi ribuan warga yang sebelumnya memadati rumah Amrozi dan ponpes. Di calon makam Amrozi dan Muklas terlihat kegiatan membuat nisan dari batu kapur.

Jakarta - Terpidana mati bom Bali I Amrozi cs sudah dieksekusi. Pasca eksekusi mati tersebut, wilayah Indonesia dalam kondisi kondusif. Tidak ada pengamanan yang berlebihan. 

"Secara umum kondusif," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira kepada detikcom, Minggu (9/11/2008). 

Abubakar mengatakan, untuk pengamanan khusus Jakarta diserahkan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman. 

"Hanya fokus di beberapa titik yang rawan seperti pusat perbelanjaan dan kedutaan," katanya.

Pengamanan Kedubes Ditingkatkan

Sementara itu, pengamanan di seluruh kedutaan besar (kedubes) asing di Jakarta ditingkatkan pasca eksekusi Amrozi cs.

"Pengamanan terutama di kedutaan-kedutaan seperti AS, Inggris dan Australia, tapi itupun hanya di depan pagar saja," papar Abubakar.

Abubakar menjelaskan ada tiga tahap pengamanan eksekusi Amrozi cs. Ketiganya yakni pengamanan sebelum eksekusi, saat eksekusi berlangsung, dan pengamanan pasca eksekusi.

Ribuan Orang Iringi Jenazah Amrozi ke Ponpes Al Islam

Lamongan - Jenazah dua terpidana mati, Amrozi dan Muklas alias Ali Gufron, dibawa ke Pondok Pesantren Al Islam setelah disemayamkan di rumah orangtuanya. Saat dibawa, jenazah keduanya dikawal dengan sangat ketat oleh para simpatisan dan pendukung keduanya. Kedua jenazah diangkut dengan dua ambulans pada pukul 12.30 WIB, Minggu (9/11/2008) 

Dari pantauan detiksurabaya.com, ribuan orang mengiring jenazah Amrozi dan Muklas. Terlihat salah satu pengacara dari TPM, Fahmi Bachmid, di antara iringan jenazah.

Jarak antara rumah ibu kandung kedua pelaku peledakan yang menewaskan 202 orang dengan Ponpes Al Islam tersebut sekitar 300 meter. Dan sepanjang perjalanan gema takbir terus berkumandang. Allahu Akbar..Allahu Akbar..terus diteriakkan oleh para simpatisan.

Jenazah Amrozi dan Muklas dibawa ke Ponpes Al Islam untuk memberi kesempatan pada santri dan juga para pendukung yang belum sempat melakukan salat jenazah. Selama perjalanan ke ponpes, para wartawan dilarang mengabadikan. Petugas dari Samapta Polwil Bojonegoro nampak bersiaga selama iring-iringan jenazah.

FPKS: Belajarlah Tidak Kembangkan Radikalisme dengan Kekerasan

Jakarta - Amrozi Cs telah dieksekusi oleh tim eksekusi dari Kejaksaan Agung, Minggu (9/11/2008) sekitar pukul 00.15 WIB. Eksekusi ini diharapkan agar masyarakat tidak mengembangkan radikalisme.

"Diharapkan setelah ini masyarakat Indonesia belajar untuk tidak mengembangkan radikalisme yang menggunakan kekerasan," ujar Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Mahfudz Siddiq dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Minggu (9/11/2008).

Eksekusi terhadap pelaku bom Bali I tersebut juga dianggap sebagai bentuk kepastian hukum. "Kasus ini memberikan kepastian hukum bagi semua pihak, terlepas dari berbagai kontroversi di dalamnya," kata Mahfudz.

Mahfudz berharap, setelah eksekusi ini dilakukan, pemerintah lebih serius menangani radikalisme. "Sementara pemerintah juga lebih serius mengatasi berbagai persoalan potensial menumbuh-suburkan radikalisme," ujar pria kalem ini.

Kepada pihak keluarga, Mahfudz meminta agar mereka ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan ini.

"Semua niat dan amal dikembalikan kepada Allah, hakim terakhir yang Maha Adil dan tidak pernah salah dalam menghakimi," pungkasnya

Kedubes Australia dan Gedung KPK Diancam Bom

Jakarta - Kedubes Australia kembali menerima ancaman teror bom, bertepatan dengan tuntasnya eksekusi Amrozi cs. Ancaman bom diterima Call Centre Polda Metro Jaya 1717 pukul 11.17 WIB.

"Ada (ancaman bom)," ujar petugas TMC Polda Metro Jaya AKP Sugeng kepada detikcom, Minggu (9/11/2008).

Sugeng mengatakan, ancaman bom tersebut berisi "Sasaran kami Kedubes Australia yang akan kami bom siang ini". 

Tim Gegana Polda Metro Jaya langsung meluncur ke TKP. Hingga pukul 13.00 WIB, petugas masih terus menyisir.

"Gegana masih di lokasi," katanya.

Sugeng menambahkan ada dua ancaman bom yang masuk hari ini. Selain Kedubes Australia, Gedung KPK juga diancam bom. Ancaman bom itu masuk pukul 07.26 WIB dan berisi "Ada bom dekat gedung KPK".

"Namun setelah disisir, nggak ada," katanya.

Sebelumnya pada 4 November 2008, Kedubes AS dan Kedubes Australia diancam bom. Pengancam mengirim SMS ke 1717 Polda Metro Jaya yang isinya "Saya menaruh bom TNT di kawasan Kedubes AS dan Australia". Namun setelah disisir oleh Densus 88, ancaman bom tersebut tidak terbukti.

Pelayat Tumplek di Makam Imam, Sejumlah Pusara Rusak

Jakarta - Ratusan pelayat sepertinya ingin melihat proses pemakaman Imam Samudra dari dekat. Mereka seakan tak peduli dan menginjak-injak makam yang telah ada di pemakaman keramat itu.

Pantauan detikcom, Minggu (9/11/2008) beberapa makam pun rusak. Bahkan beberapa nisan pusara makam di kompleks pemakaman seluas setengah luas lapangan bola itu patah dan berantakan.

Hingga pukul 11.30 WIB, pelayat masih menyemut di pemakaman teroris otak bom Bali I itu. Bergiliran, mereka menyalatkan dan berdoa di sekitar kuburan yang basih basah itu.

Seluruh keluarga Imam telah meninggalkan makam. Sebelumnya, Ibu Imam, Umi Embay Badriyah dan anak Imam, Umar, tak kuasa menahan tangis. Bahkan Umi Embay hampir pingsan.

Pasca Eksekusi Amrozi Cs, Dermaga Wijayapura Kembali Normal

Cilacap - Dua minggu terakhir, Dermaga Wijayapura Cilacap ramai dan dijaga ketat petugas. Kini, setelah eksekusi terpidana bom Bali I Amrozi Cs dan jenazahnya dibawa ke rumah duka, dermaga tersebut kembali normal.

Pantauan detikcom, Minggu, (9/11/2008) pukul 13.00 WIB, beberapa aparat kepolisian dan TNI memang masih berjaga pada jarak 100 meter dari pintu gerbang dermaga. Namun, mereka membiarkan saja pengendara atau warga yang lalu lalang di tempat tersebut.

Pintu gerbang yang dalam seminggu ini selalu tertutup dan dijaga aparat, kini dibiarkan terbuka. Beberapa petugas hanya mengawasi saja warga saat hendak menyeberang dari dan ke Pulau Nusakambangan.

Hampir seluruh wartawan yang selama ini 'ngepos' di dermaga sudah tak tampak lagi. Hanya tinggal satu dua mobil wartawan yang parkir. Tapi pengemudinya atau kru wartawan masih tertidur pulas, karena kelelahan.

"Ya, lega. Sudah kembali seperti semula," tutur salah satu petugas pengamanan Dermaga Wijayapura, Lasiyo.

Mobil-mobil polisi, kejaksaan, atau petugas tak terlihat lagi. Aktivitas penyeberangan resmi dari dan ke Nusakambangan tersebut, benar-benar telah normal.

Laporan Itelijen sekian terima kasih.

No comments: