John Kei Preman

Polda Maluku Kepolisian Daerah Maluku menangkap John Refra alias John Kei dan adiknya Fransiscus Refra alias Tito, yang diidentifikasi oleh kepolisian sebagai gembong preman Jakarta yang melakukan penganiayaan terhadap Jemi Refra (24) dan Charles Refra (22). Ia diduga memotong jari tangan kanan korban hingga Jefri kehilangan empat jari dan Charles kehilangan tiga jarinya.

Hal itu dikemukakan Kepala Kepolisan Daerah Maluku, Brigadir Jenderal Mudji Waluyo kepada pers di Ambon, Senin (11/8). Ia menjelaskan, polisi juga menangkap tiga anak buah John Kei yaitu Imanuel Warbal alias Engel, Nick Resmol dan Fransiscus Refra alian Nani. Kelima tersangka penganiayaan itu kini ditahan oleh Direktorat Reserse dan Kriminal Polda Maluku.

Penangkapan terhadap John Kei dan tiga anak buahnya dilakukan Senin subuh sekitar pukul 03.00 WIT di Desa Ohoijang, Kota Tual, Maluku Tenggara Barat. Penangkapan melibatkan ratusan aparat kepolisian dari Satuan Brigade Mobil, Detasemen Khusus 88 dan Samapta.

Tiga kendaraan taktis juga diturunkan untuk penangkapan gembong preman itu. Dalam penangkapan itu, tidak terjadi perlawanan. Sedangkan penangkapan terhadap Tito dilakukan di Bandara Pattimura Ambon pada 7 Agustus, saat ia transit dari Tual menuju Jakarta.

John Kei dan tiga anak buahnya diterbangkan dari Tual ke Ambon menggunakan pesawat yang disewa Polda Maluku. Mereka tiba di Ambon pada Senin sekitar pukul 11.00 WIT dan langsung dibawa ke markas Polda Maluku. Mereka dikawal oleh personel Detasemen Khusus 88 bersenjata lengkap dan tim reserse. Saat dikeluarkan dari mobil tahanan, wajah mereka santai dan tidak menunjukan ketegangan.

“Saya tegaskan bahwa Polda Maluku bersama Polres Malra (Maluku Tenggara) melakukan pemberantasan premanisme. Dua orang ini (Jemi dan Charles) merupakan korban premanisme. Preman tersebut kelompok John Kei dan Tito Kei,” ujar Mudji.

Mudji menjelaskan, penganiayaan itu terjadi pada 19 Juli sekitar pukul 23.00 WIT akibat salah paham antara korban dan orangtua John Kei. Charles dan Jemi dituduh akan membunuh ayah John Kei sehingga ia pulang dari Jakarta ke Tual. Motif penganiayaan belum bisa dipastikan kaitanya dengan Pilkada Kota Tual dan Kabupaten Malra yang berlangsung bersamaan pada 12 Agustus. “Kebetulan ini bertepatan dengan Pilkada Kota Tual dan Kabupaten Malra. Saya tidak tahu apakah ada kaitanya,” jelas Mudji.

Mudji menegaskan, penangkapan ini dalam rangka pemberantasan premanisme yang sangat meresahkan. Masyarakat membutuhkan perlindungan jiwa, harta, benda dan martabat. Juga untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada polisi. Kedua korban tidak melaporkan penganiayaan itu ke polisi karena takut. Kasus ini terungkap saat Mudji melakukan kunjungan kerja ke Tual dan mengetahui keadaan kedua korban yang mengenaskan.

Pengakuan korban

Jemi yang dihadirkan di Polda Maluku mengaku, ia dijemput pada 19 Juli malam oleh John Kei. Ia sempat melawan saat diseret ke dalam mobil tetapi kemudian menyerah karena ada satu teman John Kei yang keluar dari mobil sambil mengacungkan parang. Di dalam mobil Kijang Innova itu masih ada dua orang lagi.

“Saya kemudian di bawa ke rumah Tito dan dipukuli menggunakan bangku duduk dan batu. John Kei teriak ambil parang kemudian mereka kasih parang dan letakan parang di leher saya. John Kei bilang putus leher tetapi Tito bilang potong saja jari tangan,” ujar Jemi.

Jemi mengaku pasrah menaruh tangan kiri di atas meja tetapi disuruh tangan kanan. Tebasan pertama yang dilakukan Tito menggunakan parang tidak memutus jari Jemi. Keempat jarinya baru putus pada tebasan ke dua dan tersisa ibu jari. Setelah itu, Jemi dibawa ke belakang rumah, diplester mulutnya dan diikat tangan serta kaki. Setelah itu, kelompok penganiaya itu menjemput Charles di rumah saudaranya Demianus Refra.

Charles dianiaya di rumah Tito kemudian dipotong jari tangan kananya oleh Tito. Tebasan diulang hingga lima kali hingga kelingking, telunjuk dan ibu jari putus. Jari tengah dan jari manis tidak putus tetapi pangkal tulangnya retak.

Mereka kemudian disekap dalam kamar mandi di salah satu kamar di Hotel Vilia. Sekitar pukul 04.00 WIT mereka dibawa menggunakan mobil dan dibuang di muka rumah Demianus Refra. “Saya harap bapak-bapak yang di Polda serius menangani permasalahan ini. Jangan seperti yang di Polres Malra karena sudah dua minggu lebih tidak ada tanggapan,” ujar Charles.

Komisaris Is Sarifin, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara menjelaskan, mereka tidak mendapat perawatan medis selama dua minggu di Tual. Kondisi luka mereka sudah membusuk saat dibawa ke Ambon dan nyaris diamputasi. Dua jari Charles yang retak masih bisa pulih.

Makin Berkibar setelah Basri Terbunuh
Sepak Terjang Kelompok John Key di Ibu Kota

Nama John Refra Key atau yang biasa disebut John Key lekat dengan dunia kekerasan ibu kota. Nama pria 40 tahun itu semakin berkibar ketika tokoh pemuda asal Maluku Utara, Basri Sangaji, terbunuh di Hotel Kebayoran Inn, Jakarta Selatan, 12 Oktober 2004.

Padahal, dua tokoh pemuda itu seakan bersaing demi mendapatkan nama lebih besar. Dengan kematian Basri, John Key nyaris tanpa saingan. Dia bersama kelompoknya malang-melintang di dunia kekerasan Jakarta.

John Key merupakan pimpinan sebuah himpunan para pemuda asal Pulau Kei di Maluku Tenggara. Mereka berhimpun pasca kerusuhan di Tual, Pulau Kei, Mei 2000. Nama resmi himpunan pemuda itu adalah Angkatan Muda Kei (Amkei). Mereka mengklaim memiliki anggota sekitar 12 ribu orang.

Lewat organisasi tersebut, John mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector alias penagih utang. Usaha itu semakin laris ketika Basri Sangaji, pimpinan kelompok penagih utang lain, tewas. Para ''klien'' kelompok Basri mengalihkan ordernya ke kelompok John Key.

Saat itu banyak yang menduga bahwa terbunuhnya Basri merupakan buntut persaingan dua kelompok penagih utang tersebut. Tudingan semakin kuat ketika di pengadilan terbukti pelaku pembunuhan tersebut tak lain adalah beberapa anak buah John Key.

Bahkan, pertumpahan darah besar-besaran hampir terjadi tatkala ratusan orang bersenjata parang, panah, pedang, golok, dan celurit berhadapan di Jalan Ampera, Jaksel, persis di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, awal Maret 2005.

Saat itu berlangsung sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa pembunuhan Basri. Beruntung delapan SSK Brimob Polda Metro Jaya bersenjata lengkap dapat mencegah terjadinya bentrokan tersebut.

Sebenarnya, pembunuhan terhadap Basri itu bukan tanpa pangkal. Konon, pembunuhan tersebut bermula dari bentrokan kelompok Basri dengan kelompok John Key di Diskotek Stadium di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, 2 Maret 2004.

Saat itu, kelompok Basri mendapatkan ''order'' untuk menjaga diskotek tersebut, namun mendadak diserbu puluhan anak buah John Key. Dalam penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas sekuriti di diskotek tersebut tewas dan belasan terluka.

Polisi bertindak cepat. Beberapa pelaku ditangkap dan ditahan. Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun, 8 Juni pada tahun yang sama, saat sidang mendengarkan saksi-saksi yang dihadiri puluhan anggota kelompok Basri dan John Key, meletus bentrokan.

Seorang anggota John Key bernama Walterus Refra Key alias Semmy Key terbunuh di ruang pengadilan PN Jakbar. Semmy adalah kakak kandung John Key. Hal itu diperkirakan menjadi pemicu pembunuhan terhadap Basri, selain persaingan bisnis.

Bukan hanya itu. Pada Juni 2007, aparat Polsek Tebet, Jaksel, juga pernah meminta keterangan John Key menyusul bentrokan di depan Kantor DPD PDI Perjuangan, Jalan Tebet Raya 46, Jaksel. Kabarnya, bentrokan tersebut terkait dengan penagihan utang yang dilakukan kelompok John Key terhadap salah seorang kader PDI Perjuangan di kantor itu.

Pada tahun yang sama, kelompok tersebut juga mengamuk di depan Diskotek Hailai, Jakut, hingga memecahkan kaca-kaca di sana tanpa sebab yang jelas.

Pagi pada 26 Desember 2006, John Key juga mengamuk di sebuah rumah di kawasan Pondok Gede Bekasi. Akibat perbuatannya, dia ditangkap aparat Polres Bekasi pada malamnya dan langsung ditahan. Esoknya, berkas kasus dan penahanannya dilimpahkan ke Polda Metro Jaya hingga kasusnya dilimpahkan ke Kejati DKI Jakarta sebulan berikutnya. Tito Refra, membantah kakaknya sebagai gembong preman. "Anggapan itu hanyalah penilaian masyarakat belaka tanpa bukti," katanya di Mapolda Jatim kemarin.

5 comments:

Anonymous said...

Semoga iman, harapan dan kasih menyelimuti setiap insan yang masih percaya pada brutalitas sebagai cara mencapai tujuan.

Anonymous said...

cara kekerasan adalah kebiasaan primitif, dan cara ini dilakukan karena jalan-jalan yang modern nan elegan sudah tidak lagi berjalan. hukum, keadilan dan semua yang berbau keamanan, keadilan dan yang lainnya sudah bisa diperjualbelikan tanpa menghasilkan keamanan dan keadilan yang dinikmati rakyat kecil khususnya dan semakin paranoidnya orang kaya dengan keadaan yang kacau balau ini. Semua kesalahan dari pemerintahan yang lemah dalam aspek hukum.

FATH said...

kalo masih tu perut bisa kemasukan paku, silet, belatung dsb, jangan pada sombong dan arogan ya,,, inga' inga'

VIMAX Pembesar Penis said...

Tersedia :
1.Viagra USA no 1
2.Cialis England 20/50/80 mg
3.Levitra Germany 20/100 mg
4.Procomil Spray
5.Perangsang Wanita Spontan
6.Vakum + Crem Payudara Montok
7.Vakum Big Long + Lintah Oil
8.Boneka Full Body
9.Sextoys P/W Komplit

http://www.pusatobat-priaperkasa.com/

PUSATOBAT-PRIAPERKASA.COM said...

VIMAX berbagai produk dan metode menawarkan cara membesarkan alat vital dengan cepat dan aman, namun jarang yang benar-benar mampu membesarkan alat vital sesuai klaim mereka. Pada umumnya cara membesarkan alat vital yang ditawarkan tidak memberikan hasil yang diharapkan pria dewasa. Terkadang, berbagai cara tersebut juga tidak memberikan hasil yang permanen. Cara membesarkan alat vital memang berkembang dari sekadar menggunakan minyak atau alat bantu ke metode modern seperti Vimax.

Vimax merupakan cara membesarkan alat vital pria terbaik di dunia saat ini. Obat Vimax ini menjadi sangat popular karena terbukti mampu membesarkan alat vital pria sesuai janji dari Vimax. Ukuran penis akan lebih panjang hingga 4 inci, dan membesar hingga 25%, dan yang terutama hasil yang didapat akan PERMANEN selamanya. Dengan Vimax, pria dewasa dapat memperbesar alat vital tanpa memandang usia…..

VIMAX Herbal (pembesar dan perpanjang penis)

Tersedia :
1.VIAGRA USA no 1
2.SUPER POWER USA Obat Kuat Herbal
3.Obat Kuat Cialis 80mg England
4.Golden Grow USA - Obat Peninggi Badan
5.Perangsang Wanita Spontan
6.VACUM + CREM (Pembesar & Penggencang Payudara)
7.Vacum + Lintah Oil (Pembesar Dan Perpanjang Penis)
8.Alat Bantu Pria (Sextoys) Komplit
9.Alat Bantu Wanita (Sextoys) Komplit