Bank Artha Prima (Gunung Agung) dan Tommy Winata

TOMMY Winata layak tercatat dalam Guinness Book of Records. Dialah pengusaha yang berhasil membeli sebuah bank dengan harga termurah di dunia. Bayangkan, Tommy membeli saham Bank Artha Prima (BAP) hanya dengan Rp 1 per lembarnya. Total uang yang harus dikeluarkan dari koceknya cuma Rp 35 ribu. Namun, keajaiban belum selesai. Tommy juga mendapat fasilitas kredit lunak Bank Indonesia (BI) sebesar Rp 1,2 triliun untuk membenahi bank itu-kemudian berubah nama menjadi Bank Artha Pratama.

Ingin dengar ceritanya? Pada 1995, PT Gunung Agung punya utang besar yang tak dapat dibayarnya. Perusahaan itu lalu menjual BAP miliknya kepada PT Jagata Primabumi, yang dipimpin oleh Hedijanto, bendahara Yayasan Dharmais, salah satu yayasan Soeharto. Belakangan, diketahui pula bahwa di balik Hedijanto ada nama Kim Johannes-pengusaha asal Medan yang pernah berkongsi dengan Nyonya Tien Soeharto dan Bambang Trihatmodjo.
Dalam kesepakatan, Hedijanto tak perlu membayar Gunung Agung. Dia cukup melunasi utang Gunung Agung ke pihak ketiga. Sial, utang yang dialihkan itu sama sekali tidak dibayar, malah Hedijanto menerbitkan promes (surat pengakuan utang jangka pendek) atas nama BAP senilai Rp 324,2 miliar. Ketika surat berharga itu jatuh tempo dan pihak bank tidak mampu membayar, Hedijanto menyerahkan BAP yang kian babak-belur ke Bank Indonesia, 15 Oktober 1995.

Begitulah kelakuan para pengusaha Indonesia: memerkosa bank habis-habisan, lalu meminta BI (negara dan rakyat) untuk menanggung risikonya.

Pada awal 1997, BI menawarkan BAP kepada Tommy Winata, yang kemudian menerimanya. Menurut Tommy, BAP ini sudah pernah ditawarkan ke Bank Artha Graha miliknya pada 1995, tapi dia mengaku tak tertarik kala itu. Kenapa kali ini dia tertarik?

Dari sisi bisnis sangat mudah dipahami: Tommy hampir tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Hanya sekadar formalitas, dia harus membeli saham BAP senilai Rp 1 rupiah saja. Dan apa imbalan untuk Tommy? Sejumlah media menulis bahwa dalam kesepakatan dengan Hendrobudijanto, direktur pengawasan BI kala itu, Tommy memperoleh kemudahan berupa kredit sebesar Rp 1,2 triliun.

Pinjaman BI itu terhitung sangat lunak: grace period-nya 15 tahun, dengan rentang waktu pembayaran 10 tahun, dan bunganya benar-benar aduhai, yakni 6 persen. Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) kala itu sekitar 13-14 persen, sementara bunga deposito 18 persen. Tak aneh jika Tommy, seperti dia akui sendiri, "mendapat income lumayan" yang "keuntungannya kita gunakan untuk memperbaiki BAP."

Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy mengaku bahwa uang yang benar-benar dia terima hanyalah Rp 530 miliar, yakni fasilitas BI untuk menyehatkan bank yang terpuruk itu. Uang selebihnya, yakni Rp 670 miliar, menurut Tommy, sudah dicairkan oleh pemilik lama.

Namun, bahkan jikapun cerita Tommy ini benar, dia tetap tidak akan menanggung kerugian BI, baik Rp 670 miliar yang dipakai direksi BAP lama maupun promes buatan PT Jagata Primabumi. Pada Juni 1997, Kepolisian Daerah Metro Jaya menahan tujuh mantan direksi dan pemegang saham BAP dari kelompok Gunung Agung. Mereka mengaku diteror secara mental dan dipaksa menandatangani kesepakatan untuk kembali menanggung utang Gunung Agung plus promes yang dikeluarkan Hedijanto.

"Kami benar-benar tak berdaya. Sebab, siapa tidak tahu hubungan antara Hedijanto dan Presiden Soeharto waktu itu?" kata Tanto Sudiro, Direktur Utama Gunung Agung. Mereka juga diancam agar tidak mempersoalkan komitmen tersebut di kemudian hari.

Tanto menuduh Tommy berada di balik semua itu. "Kawan-kawan kami ditangkap setelah Tommy berbicara dengan Kapolda," kata Tanto. Kini, untuk semua perlakuan itu, Gunung Agung menggugat Tommy Rp 1,7 triliun, yang sidang pertamanya digelar awal Mei 1999 lalu.
Tommy membantah tudingan Tanto. Dia bahkan merasa berjasa telah membantu BI menyelamatkan sebuah bank yang kolaps. Setelah diambil alih Kelompok Artha Graha, kata dia, BAP kini menjadi bank yang sehat. "Sekitar 10 persen dari kredit macet BAP bisa kembali lancar. Bahkan, pinjaman BI untuk penyembuhan BAP masih disimpan dalam bentuk SBI," katanya.

Logis saja. Tommy bisa melakukan hal itu berkat fasilitas yang demikian "dermawan" tanpa harus menanggung kerugian BI-kerugian rakyat Indonesia.

Agung Podomoro, Sinar Mas, Ciputra


Alih Generasi; Pemain Baru 
TRIHATMA K Haliman terdiam sejenak tatkala ditanya apakah ia memang dipersiapkan ayahnya, almarhum Anton Haliman, untuk menyambung estafet kepemimpinan di Grup Agung Podomoro.

Ia menyebutkan, ayahnya sangat bisa membedakan hubungan ayah anak dengan pekerjaan. Di rumah, Trihatma dan saudara-saudaranya benar-benar mendapat curahan kasih sayang. Namun di lapangan, almarhum tidak membeda-bedakan. Anak-anaknya disamakan dengan karyawan lain. Kami disuruh belajar habis-habisan di lapangan, mulai dari strata terbawah.

"Mungkin itu salah satu faktor yang memberi kami pemahaman yang dalam tentang profesionalisme," kata Trihatma. Pria berusia setengah baya ini mengungkapkan kebahagiaannya karena pernah melalui pendidikan keras dari ayahandanya.

Trihatma merupakan salah satu contoh dan tipikal dari generasi kedua di dunia bisnis Indonesia yang mengawali kariernya dari level terbawah. Ia kemudian tidak saja ikut mengemudikan perusahaan yang ditinggalkan ayahnya, tetapi melebarkan sayap melalui pengembangan banyak megaproyek properti. Padahal, "gebrakan menentukan" Trihatma praktis baru dilakukan dalam dua atau tiga tahun terakhir. Namun, mungkin inilah yang kemudian membuat Trihatma "dipandang" oleh para pemain properti lainnya.

TERDAPAT banyak generasi kedua usahawan Indonesia, termasuk di bidang properti, yang menunjukkan kinerja mapan seperti Trihatma, di antaranya Jan Darmadi, pengembang senior yang dua dasa warsa lalu bahkan sudah membangun gedung pencakar langit di Jalan MH Thamrin dan HR Rasuna Said. Jan, putra seorang usahawan tekstil di Pintu Kecil, kini menggebrak pasar properti Indonesia dengan beberapa megaproyek properti di Jakarta, termasuk sejumlah hotel.

Usahawan generasi kedua lainnya yang mempunyai kinerja mengilap ialah Muchtar Widjaja, salah seorang putra pendiri Grup Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja. Muchtar kini memimpin PT Duta Pertiwi Tbk. Muchtar kerap disebut sebagai salah seorang pencetus trade center. Trade center-nya a yang fenomenal, karena demikian laris dan nilai asetnya makin mahal, adalah ITC Mangga Dua.

Budiarsa Sastrawinata-Rina Ciputra, mantu dan anak sulung usahawan properti Ciputra, juga masuk dalam kelompok generasi kedua itu. Budiarsa pernah memimpin Bumi Serpong Damai (BSD) cukup lama. Ia kini memegang sejumlah proyek perumahan Grup Ciputra dan megaproyek properti di Hanoi, Vietnam. Sementara Rina, yang juga memegang proyek perumahan, mendirikan Century 21 di Indonesia. Anak-anak Ciputra yang lain, di antaranya Yunita dan Cakra juga menunjukkan talenta yang tinggi dalam memimpin perusahaan.

Eiffle dan Irene Tedja, juga termasuk generasi kedua yang mempunyai kinerja menawan. Menjadikan Surabaya sebagai pusat kegiatan bisnis, putra dan putri pasangan pebisnis properti Alexander dan Melinda Tedja ini menyertai orang tuanya membangun sejumlah proyek besar di Surabaya di antaranya Tunjungan Plaza, apartemen, Sheraton, Pakuwon Trade Center, dan Supermal Pakuwon.

Dua anak muda yang masing-masing berusia 27 tahun dan 23 tahun ini masih sering terlihat di proyek mereka pada pukul 07.00 dan pukul 22.00.

Pebisnis generasi kedua lainnya, yang menunjukkan kinerja bagus adalah anak-anak Sugianto Kesuma. Sugianto yang disertai anak-anaknya membangun beberapa proyek besar di antaranya Dharmawangsa Square, Kelapa Gading Square, dan Mangga Dua Square (share dengan pemain properti lain).

Dalam beberapa kasus, generasi kedua pebisnis Indonesia, sesekali dipandang dari sudut pandang sinisme. Ini karena mereka kerap kali "menghabiskan" atau "membelanjakan" uang hasil keringat ayahnya, sang generasi pertama.

Namun, dalam kasus generasi kedua pebisnis properti Indonesia malah mempunyai "kurs" amat tinggi karena mampu membangun proyek-proyek fenomenal, yang menjadi trend properti, bukan saja di Indonesia, melainkan setidaknya di Asia Tenggara.

HAL yang sungguh menarik ditunggu ialah bagaimana putra-putra generasi kedua tersebut bertarung dalam sebuah kompetisi bisnis yang amat ketat. Siapa yang paling mampu menunjukkan kemampuan, paling bisa mengendalikan rentang bisnis yang amat lebar, atau siapa yang berjalan di depan dalam hal ide-ide brilian.

Aspek menarik lain untuk diamati dari kompetisi bisnis properti di Indonesia ialah betapa generasi kedua ini mampu menyelusup di antara banyak pemain besar properti. Mereka bahkan menjadi pemain-pemain yang andal.

Pengamat dan konsultan properti, Panangian Simanungkalit, bahkan berani menyatakan bahwa pemain properti terkuat di Indonesia hari-hari ini ialah Trihatma Haliman. Ukuran Simanungkalit, antara lain, ialah besaran nilai proyek atau besaran kapitalisasi pasar yang dihasilkan.

"Kalau saya tak salah hitung, Trihatma dan grupnya tengah mengerjakan proyek senilai delapan triliun rupiah, sebagian besar di Jakarta. Ia praktis berada di papan atas pebisnis properti Indonesia, sekarang ini," tutur Panangian Simanungkalit.

"Kapitalisasi sebesar itu, sungguh bukan angka main-main, ibarat investor besar dunia datang ke Indonesia menanamkan sahamnya," kata Simanungkalit menambahkan.

Megaproyek Trihatma (sebagian share dengan usahawan lain) di antaranya ialah Mangga Dua Square, Plaza Semanggi, The Pakubuwono Residence, apartemen Tanjung Duren, Menteng, Gading Mediterania, dan Permata Mediterania. Proyek terbarunya di Jalan Sudirman, Jakarta, The Peak, akan menjadi gedung kembar tertinggi di Indonesia, masing-masing 55 lantai.
Sedikit di bawah Trihatma Haliman terdapat sederet pemain besar properti dengan nilai proyek atau kapitalisasi dana antara empat sampai enam triliun rupiah. Mereka adalah Jan Darmadi yang bermain di proyek-proyek hotel bintang lima, gedung-gedung perkantoran, Mega Kebon Jeruk, Setia Budi Atrium, dan sebagainya.

Lalu Gunarso dari Grup Gapura Prima, yang membangun 13 proyek besar. Ia di antaranya membangun The Bellezza Permata Hijau, The Bellagio (Residence dan Mansion), Serpong Town Square, Sugianto Kusuma yang di antaranya bermain di SCBD, Mangga Dua, dan Kelapa Gading.
Pemain properti lain yang berada di lingkungan proyek empat sampai enam triliun rupiah ialah Tan Kian, yang di antaranya bermain di wilayah Mega Kuningan, JW Marriot, dan Ritz Carlton. PT Duta Pertiwi, Muchtar Widjaja, dan kawan-kawan yang berjalan di depan dalam hal pusat perdagangan.

Kemudian Alex dan Melinda Tedja dari Pakuwon Jati yang membangun Tunjungan Plaza (I-IV), Sheraton, Pakuwon Trade Center, Supermal, dan sebagainya. Grup Ciputra yang bangkit lagi dengan membangun sejumlah proyek di Surabaya, Jakarta, dan Hanoi.

SISI lain yang menarik diamati dari para pemain properti tersebut ialah sikap diam dan tidak ingin muncul dalam pusat pemberitaan media massa. Mereka lebih suka bertarung dalam diam.
Salah seorang pemain senior properti yang enggan disebut namanya menyebutkan, ia dan pemain properti lainnya enggan muncul di media massa, simply, karena pemain di bisnis ini tidak suka menonjolkan diri. "Kami lebih suka menggebrak pasar properti dengan proyek-proyek layak jual," kata pemain senior properti ini. "Kepuasan pemain properti terletak di situ, bukan publisitasnya," katanya menambahkan.

Seorang lagi, masih berusia 27 tahun, master dari Amerika Serikat, anak dari salah seorang raja properti Indonesia, menyatakan, ia tidak suka muncul di pentas publik karena merasa apa yang dilakukannya masih jauh dari ukuran sukses. "Karena itu, please, jangan dulu sebut nama saya. Saya malu pada leluhur karena masih begini saja," ujar anak muda yang berwajah ganteng ini. Tentu saja ia merendah sebab ayahnya mempercayakan ia mengemudikan aneka proyek dengan skala investasi hampir dua triliun rupiah.

TERLEPAS dari pelbagai masalah tersebut, tidak ada salahnya jika para pemain properti ini, tidak selalu berdiri sendiri. Ada baiknya untuk satu dua proyek prestisius, mereka bergabung dalam sebuah konsorsium besar untuk mendirikan, misalnya, gedung tertinggi di dunia, sebagaimana dikerjakan Taiwan tahun lalu.

Proyek The Peak, misalnya, daripada membangun dua menara setinggi 55 lantai, mengapa tidak terpikirkan untuk membangun satu menara saja, setinggi 110 lantai?

Sejumlah usahawan pernah bersama-sama hendak membangun menara tertinggi di dunia, di bekas bandara Kemayoran. Akan tetapi, ketika baru mencapai tahap penyelesaian fondasi, pembangunan menara itu terhenti akibat krisis ekonomi yang hebat. Mungkin baik kalau proyek itu ditinjau untuk dibangun kembali.

Bank Majapahit Effendi Ongko dan Tommy Winata

BANKIR tua itu tiba-tiba muncul lagi. Effendi Ongko, mantan komisaris utama Bank Umum Majapahit Jaya, rupanya menyimpan kesumat. Yang dituju jelas: Tommy Winata. Sembilan tahun silam, menurut Effendi, taipan muda itu telah "merampoknya". Ia bahkan mengaku pernah diculik dan dianiaya aparat atas "pesanan" Tommy.

Alkisah, cerita berawal dari penerbitan warkat deposito palsu BUMJ senilai Rp 35 miliar. Itu adalah jaminan utang kepada Bank Artha Graha (BAG) dan BCA. Di antaranya, Rp 16,9 miliar diterima BAG milik Tommy. Yang menerbitkan adalah Lody Djunaedi, menantunya sendiri, yang menjabat kepala cabang BUMJ Surabaya. Menurut Effendi, ulah itu berlangsung tanpa diketahuinya.

Pat gulipat itu terjadi pada 1990. Saat itulah bank kecil ini pingsan dicekik kredit macet Rp 179 miliar, antara lain utang (call money) Rp 66,4 miliar ke 38 bank lain (salah satunya Bank Lippo). Karena tak kunjung siuman, BUMJ ditebas pemerintah pada November 1997 silam.

Singkat kata, setelah disiksa aparat, pada 21 Desember 1990 Effendi bersama istrinya dipaksa menyerahkan pertokoan Wijaya Center Surabaya dan sejumlah aset lain miliknya-yang dikuasai PT Kranggan-kepada Tommy, Suryo Pranoto (BCA), Lili Soemantri (Bank Continental), dan Husein Susilo Tjioe. Akta jual beli fiktif pun diteken di hadapan Notaris Machmudah Rijanto, tengah malam buta, pukul 23.50. Isinya, menurut Effendi, seolah-olah ia melakukan transaksi sejumlah Rp 35 miliar. "Awalnya saya menolak, tapi karena diancam saya terpaksa menekennya," katanya.

Ada soal lain yang digugat Effendi dari perjanjian itu. Pertama, di perjanjian itu Tommy tidak bertindak atas nama BAG. Padahal, yang dipersoalkan adalah utang-piutang antara BAG dan BUMJ. Lalu, menurut taksiran Vigers Indonesia, total nilai aset PT Kranggan adalah Rp 50 miliar, jauh melebihi nilai warkat deposito palsu itu. Effendi lalu menuntut Tommy mengembalikan kelebihannya. Berikutnya, PT Kranggan tidak memiliki kaitan hukum apa pun dengan BUMJ.

Tommy membantah tudingan itu. Menurut dia, kesepakatan itu hasil perundingan kedua belah pihak. Negosiasi berlangsung lama hingga baru diteken larut malam. "Perundingan Indonesia dengan IMF saja diteken pukul tiga pagi," katanya lagi. Tommy balik mempertanyakan reputasi bisnis Effendi. "Bukankah namanya pernah terlibat tindakan kriminal tahun 70-an?" Menurut sebuah sumber, kasus yang dimaksud adalah peredaran uang dan emas palsu. Saat dikonfirmasi, Effendi menyangkalnya.

Yang menarik, Kepala Hukum Kodam Jaya, melalui surat tertanggal 26 Juli 1994, tersirat mengaku pernah "mengamankan" Effendi. Bunyinya, "Penanganan kasus Sdr. Effendy Ongko... telah merugikan Yayasan TNI AD, sehingga Kodam Jaya berkewajiban menyelesaikan permasalahan itu."

Pengaruh Tommy saat itu memang luar biasa. Menurut Effendi, bos Grup Artha Graha itu selalu bilang, "Yang dirugikan adalah Yayasan Kartika Eka Paksi." Effendi juga telah mengadu ke mana-mana. Tak satu pun yang ditindaklanjuti serius. Ia, misalnya, pernah berkirim surat ke Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan saat itu, Sudomo. Melalui surat tanggal 27 Maret 1992, Sudomo hanya sanggup menyarankannya berunding dengan Tommy dan mengadukan penganiayaan itu ke kepolisian.

Dosen Universitas Indonesia (UI) Cabuli Mahasiswi

Tidak di sangka - sangka setelah sebelumnya banyak kasus para guru yang mencabuli murid -muridnya, sekarang giliran dosen Universitas Indonesia (UI) yang mencabuli mahasiswi hal ini membuat para mahasiswa heboh. Bahkan ada yang menuduh sudah banyak yang menjadi korbannya "sudah belasan mahasiswi yang diperkosa dan dilecehkan oleh Teuku Nasrullah" begitulah kata sebagian mahasiswa UI.

Teuku Nasrullah adalah dosen fakultas hukum Universitas Indonesia yang merupakan kampus panutan di Indonesia. Dosen tersebut sering di singkat dengan NS dosen ini sudah berumur 40 tahun, namun entah kenapa kelakuannya masih seperti itu mirip orang yang tidak mengerti hukum. Lebih parahnya dosen ini bergelar doktor.

Banyak artis ibukota yang mengenyam pendidikan di UI angkat bicara seperti Sholomita fakultas physcolog, Rosaa, namun yang paling parah pengakuan dari artis cantik Ajeng Kamaratih. Heboh kabar dugaan pelecehan sejumlah mahasiswi yang diduga dilakukan dosen senior Fakultas Hukum UI, ternyata juga dialami Ajeng Kamaratih, finalis Miss Indonesia 2008. Alumni Fakultas Hukum UI ini mengaku menjadi salah satu korban. Ia sudah melaporkan kasus ini ke Dekanat UI.

"Dia pembimbing skripsi saya. Kejadiannya sekitar empat bulan lalu," ujar Ajeng yang belakangan sempat menjadi salah satu presenter di salah satu stasiun televisi swasta ini. Diwawancarai VIVAnews, Kamis 30 Oktober 2008, pemenang Favorit Wajah Femina 2006 ini mengungkapkan peristiwa celaka itu. Berikut petikannya: 

Apa hubungan Anda dengan dosen tersebut?

Hubungan kami hanya sebatas dosen dan mahasiswa. Tapi, dia memang dosen pembimbing skripsi saya. Sebenarnya, saya sudah mengetahui reputasi buruknya yang sering mencoba mendekati mahasiswanya.

Apakah dia pernah mencoba mendekati Anda?

Sebelumnya, ia memang pernah beberapa kali bilang, bahwa saya cantik, dan dia suka sama saya. Tapi, selama ini saya tidak pernah mempedulikannya. Setelah itu, sih, dia tidak pernah mencoba mendekati saya lagi.

Maaf, benarkah Anda menjadi korban pemerkosaan?

Bukan saya yang diperkosa. Saya tidak tahu siapa.


Anda mengalami pelecehan seksual?

Kejadian ini terjadi sekitar empat bulan lalu. Waktu itu, saya sedang menjalani bimbingan skripsi di satu ruangan. Di ruangan itu, kami memang hanya berdua. Tiba-tiba, ia mulai memuji-muji saya. Tapi, lagi-lagi, saya tidak pedulikan.

Dia coba menyentuh Anda?

Tidak. Kami memang duduk berhadap-hadapan. Tapi, posisi kami dipisahkan sebuah meja. Tiba-tiba, ia mulai melakukan hal tidak senonoh, sambil memandang saya dengan tatapan melecehkan. Tanpa buang-buang waktu, saya langsung berdiri dan keluar ruangan.

Lalu, apa yang Anda lakukan?

Saya langsung mengadu ke bagian dekanat. Dan, ternyata dari situ saya baru tahu kalau sudah ada 13 mahasiswi lain yang mengalami hal sama. Info ini saya dapatkan dari pengacara mahasiswi yang juga mengaku menjadi korban pelecehan seksual.

Anda mengadukannya ke polisi?

Bagi saya, laporan ke Dekanat UI sudah cukup. Biarlah mereka yang mengambil alih untuk menyelesaikan masalah ini. Saya harap kejadian ini tidak lagi dialami teman-teman mahasiswi lainnya.

Baca wawancara dengan Dosen Fakultas Hukum UI Teuku Nasrullah, "Saya Tidak Memperkosa Wanita Itu."

Lalu Siapa yang melaporkan dosen ini kepada polisi? Inisial "a"  menurut Humas UI Devi Rahwati yang di wawancarai radio Elshinta dosen tersebut telah menjadi PNS dan mengajar 15 tahun. Tapi lebih hebatnya lagi dasar dosen ini mengerti hukum dia menunjuk kepada UU Anti Pornographi yang di sahkan para anggota dewan yang terkenal "korup". Dosen ini mengatakan bahwa mahasiswinyalah yang mengundang birahi, waw ternyata undang - undang anti ponograpi ini sangat membahayakan wanita, namun tidak begitu menurut para perangcang undang - undang tersebut. 

Berikut perilaku dia di kampus yang di ambil dari harian warta kota :

Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) menonaktifkan dosen Dr N yang diduga telah mencabuli mahasiswinya. Tindakan tercela N dilakukan dengan memanfaatkan kapasitasnya sebagai dosen pembimbing skripsi.

Informasi yang diperoleh Warta Kota, N dinonaktfikan per 22 Oktober 2008. "N tidak boleh mengajar dan berhubungan dengan mahasiswa sampai ada keputusan pengadilan," kata Sekretaris FH UI Dr Kurnia Toha pada jumpa pers di Gedung FH UI, Kamis (30/10). Menurut Kurnia, N dinonaktifkan karena dilaporkan ke polisi oleh mantan mahasiswi bimbingannya.

N dilaporkan dengan sangkaan melakukan pelecehan seksual. Menurut Kurnia, N dilaporkan ke polisi karena melakukan tindakan yang tidak pada tempatnya. Tindakan yang tidak pada tempatnya tersebut adalah memberikan bimbingan skripsi di luar kampus.

Secara terpisah, N mengatakan bahwa dirinya bukan pelaku kriminal. "Saya bukan pelaku kriminal, apalagi melakukan tindak pidana pemerkosaan," katanya saat dihubungi Warta Kota, Kamis sore. Dia mengakui bahwa pihak fakultas menonaktifkan dirinya. "Kalau saya melakukan tindakan kriminal, saya siap mundur sekarang juga sebagai dosen," katanya.

Pria berusia 40-an tahun ini juga mengatakan, dirinya siap memberikan keterangan dan bukti-bukti bahwa dirinya tidak melakukan tindak pidana. "Akan saya jelaskan semua ke polisi, bukan kepada media massa karena saya juga harus menjaga nama baiknya," katanya seraya menyebutkan sejumlah bukti, tetapi tidak boleh dikutip alias off the record.

Minta dinikahi 

Menurut N, pada 1998 perkawinannya hancur. N memiliki seorang anak yang kini duduk di bangku SMP. Saat ini N dan mantan istrinya telah rujuk karena sang anak tidak mau sekolah jika orangtuanya terpisah.

Menurut N, dirinya dilaporkan ke polisi oleh A, mantan mahasiswi yang juga mantan pacarnya. N mengaku, selama menduda, dia sempat pacaran dengan tiga mahasiswinya. Hubungan dengan pacar pertama tak sampai ke pernikahan karena beda agama.

Sementara itu, hubungan dengan pacar keduanya terhadang restu orangtua si gadis yang keberatan karena N berstatus duda satu anak. Pacar N yang ketiga adalah A. Mereka berpacaran sekitar tahun 2007 dan diawali dengan hubungan sebagai mahasiswi yang sedang menyusun skripsi dengan dosen pembimbingnya.

Saat berpacaran dengan A, sang dosen juga tengah meretas jalan untuk rujuk. Oleh karena itu, N berpesan jika rujuk itu tercapai, ia akan mengakhiri hubungannya dengan A. Tiga bulan sejak mereka mulai pacaran, N benar-benar mengakhiri hubungannya dengan A dan kembali ke mantan istrinya.

Namun, A menolak dan meminta N menikahinya. A juga pasrah menjadi istri kedua N. "Saya tidak mau karena bisa gagal usaha rujuk saya," kata N. Lalu, A mengajak N menikah di bawah tangan atau nikah siri. Namun, N tetap menolak.

Menurut N, penolakan-penolakan tersebut membuat A melaporkan dirinya ke dekan, rektor, dan polisi. N juga mengatakan, dirinya tak merasa sok suci karena ada perbuatannya yang bisa disebut kurang baik. "Namun, saya tidak pernah memerkosa. Saya tidak pernah berbuat kriminal," kata dosen hukum yang juga membuka kantor pengacara ini. Hingga kemarin N belum mendapat surat panggilan dari polisi.

Empat mahasiswi 

Sementara itu, Kepala Satuan Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Polda Metro Jaya AKBP Ahmad Rivai membenarkan adanya laporan dari mahasiswi UI. Mahasiswi tersebut melapor bahwa dirinya menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan seorang dosen.

Rivai mengatakan, si pelapor sudah dimintai keterangan sekitar seminggu lalu, sedangkan kasus tersebut dilaporkan ke polisi dua minggu lalu. "Korban sudah kita mintai keterangan. Sampai saat ini belum ada yang kita tetapkan sebagai tersangka. Kita masih mengumpulkan bukti-bukti," ujarnya.

Rivai mengatakan, pelecehan seks yang dilaporkan mahasiswi tersebut diperkirakan terjadi sekitar satu tahun lalu, yaitu saat korban masih berstatus mahasiswi Fakultas Hukum UI. "Meski kejadiannya sudah satu tahun, tidak masalah selama bukti-buktinya cukup," ujarnya.

Si pelapor, menurut Rivai, juga mengatakan bahwa ada tiga mahasiswi lain yang menjadi korban pelecehan seks dosen tersebut. Dengan demikian, ada empat mahasiswi yang diduga menjadi korban pelecehan seks oleh N. "Dari tiga korban itu, sekarang ada yang sudah menikah," katanya.

Informasi yang dihimpun Warta Kota menyebutkan, N melakukan pelecehan seks terhadap sejumlah mahasiswi bimbingannya. Pelecehan seks tersebut terjadi di kantor N di luar kampus UI, Depok. Si mahasiswi diminta datang ke kantor tersebut karena N tak bisa hadir di kampus Depok. Padahal, si mahasiswi perlu bertemu N untuk mengonsultasikan skripsinya. "Bahasa kasarnya, para mahasiswi itu dijebak oleh dosennya," kata seorang penyidik.

Seorang alumnus FH UI mengatakan, N adalah dosen yang baik. "Selama saya kuliah, dia sih baik-baik saja. Memang dia itu dekat dengan sejumlah mahasiswi," katanya. Alumnus itu menambahkan, dirinya kaget ketika mendapat kabar bahwa N dilaporkan ke polisi atas sangkaan pelecehan seks. "Tadinya saya kira cuma isu," ujar lulusan FH UI tahun 2003 ini.

Beberapa mahasiswi FH UI juga mengaku kaget dengan kabar dosen N dilaporkan ke polisi. Menurut mereka, N adalah dosen yang baik, komunikatif, dan humoris. Namun, sebagian mahasiswa menjuluki N sebagai dosen yang pelit dalam memberi nilai.

Sumber :

http://mafiaindonesia.blogspot.com

Serangan Bom Menjelang Eksekusi Mati Amrozi cs

tolong informasikan pd rekan-rekan semua dgn rencana eksekusi mati AMROZI cs, ada rencana ancaman teror bom untuk wilayah jakarta dan sekitarnya sebelum dan sesudah eksekusi targetnya MALL besar, Kedubes luar negeri (barat), restoran2 barat, jadi kurangi jalan-jalan ke MALL-MALL besar (Info dari Densus 88, Mabes POLRI)

Sudah seperti laporan intelijen saja, namun bocor kepada masyarakat, pesan tersebut banyak menyebar di masyarakat Indonesia. Salah satunya saya kebagian pesan itu, saya dapatkan melalui Yahoo Messanger dan sang pengirim menyuruh agar pesan itu di forward kepada teman-teman lainnya. Pesan tersebut banyak terkirim seperti hoax, dan amat sangat meresahkan masyarakat. Terlebih hal itu diperkuat dengan temuan bom kelapa gading, tidak menutup kemungkinan akan ada bom serupa.

Dan menurut pemerintah target sudah meluas bukan ketempat yang di anggap "sang kafir" bertempat tinggal. Namun telah menjurus kepada fasilitas umum  yang dikelola oleh pemerintah seperti pom bensin pertamina, dll. Dulu sasaran hanya hotel, diskotik, dan usaha milik masyarakt barat yang di anggap mereka kafir.

Jadi tidak perlu kuatir saya yakin dan percaya pemerintah telah mengurusi masalah ini, hal itu terus dibuktikan walaupun bom belum meledak pemerintah sudah dapat menangkapnya, seperti kasus baru-baru ini bom kelapa gading. Tidak seperti dahulu setelah kejadian baru pemerintah menangkap tersangka. Sepertinya sekarang para intelijen Indonesia sudah kuat, walaupun pada mulanya kasus tersebut sengaja di hembuskan oleh para tersangka teroris Indonesia mereka sengaja mehembuskannya di balik jeruji, dengan mengatakan Jakarta akan merah berdarah jika Amrozi cs di eksekusi mati.

9 Naga Genk Dengan Jendral ::Mafia Indonesia::

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat. Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.

Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat. Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5 miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka, tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan. Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta.

Riwayatnnya memang sudah ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut ajaran agama tergolong haram jadah. Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi. Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari Yan Darmadi. Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa centeng amatir sampai jenderal profesional. Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap (togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah gesit. Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau per minggu. Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan, Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar, Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah, dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam. Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat, serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik Rp 10 miliar per malam. Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston, Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata, Arief, dan Cocong. Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul. Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang. Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam, Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di Markas Besar Polri. Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai sistem "kartu anggota".

Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi. Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5 miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya, bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran, Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.

Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki, adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu. Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang sekali disimpan di Indonesia.

"Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di Bursa Efek Jakarta. Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama (era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan. Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan Abah.

Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris generasi keempat. Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke mancanegara. Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja. Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang, Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido Star, yang bermarkas di Singapura.

Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia, bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara. Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303 ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak pernah makan duit judi," kata Anton. Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar. Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5 miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri. Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton, upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas, berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM. Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya. Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas. Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat banyak khususnya yg miskin.

Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga. Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan?????

Aguan Sugianto Godfather Triad Indonesia

Aguan yang memakai nama Sugianto Kusuma ini dikenal sebagai dedengkot Naga di Indonesia oleh berbagai kalangan. Bahkan media menggelarnya sebagai anggota Mafia Naga Sembilan. Jurusnya tidak kalah lihai; mengendap, diam-diam, sering di belakang layar tapi target sudah di kendalikan. Main area bos ini adalah: Money Laundering.

Bos JIHD ini sekarang melindungi bau kotor tubuhnya dengan mantel dengan kedok sebagai pengurus sebuah organisasi sosial agama tertentu. Sekilas orang akan melihatnya sebagai "paus" si juru selamat.

Bagaimana operandi JIHD?? berikut sekilas;

JAKARTA (BURSA) -- Dalam enam bulan terakhir ini beberapa media di Jakarta emberitakan mengenai masuknya Dragon Bank International ke Indonesia. Bank yang berpusat di Vanuatu tersebut termasuk salah satu lembaga keuangan yang mengelola "uang haram" setelah menerima pemutihan uang (money laundering) dan salah satu pemiliknya adalah PT Yayasan Harapan Kita milik keluarga Presiden Soeharto.

Bank tersebut dalam beberapa eksposenya mempunyai rencana ekspansi yang spektakuler. Perusahaan tersebut kini sedang menyiapkan proyek telekomunikasi senilai US$4 miliar (sekitar Rp 8,5 triliun) serta sebuah kawasan bisnis di daerah Kota di Jakarta dengan investasi sedikitnya Rp 8,3 triliun.

Masuknya Dragon Bank serta rencana ekspansi bisnis di Indonesia sempat mengundang pertanyaan beberapa kalangan. Misalnya, mengapa izin membuka cabang bank tersebut melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bukan melalui Departemen Keuangan.

Ketika pihak kepolisian serta lembaga terkait mencoba menyelidiki, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Pihak Dragon Bank mengatakan bahwa mereka masuk ke Indonesia tidak untuk menjalankan bisnis perbankan seperti biasa, tetapi merupakan perusahaan investasi sehingga izinnya diperoleh dari BKPM.

Departemen Keuangan maupun Kepolisian memang tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, mereka mengetahui bahwa Dragon Bank masuk ke Indonesia sebagai hasil kerjasama dengan PT Harapan Insani, salah satu anak perusahaan Yayasan Harapan Kita milik keluarga Soeharto.

Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Soedradjat Djiwandono sejauh ini menolak untuk memberikan tanggapan atas kehadiran Dragon Bank di Indonesia.

Tetapi sumber-sumber kalangan keuangan di Jakarta mengatakan bahwa Soedradjat Djiwandono terpaksa mengabulkan permintaan pencabutan blokir deposito salah seorang eksekutif Dragon Bank Yee Mei Mei oleh Standard Chartered Bank Cabang Jakarta, setelah Yayasan Harapan Kita turun tangan menyelesaikan kasus tersebut.

Pengelola PT Harapan Insani adalah Ibnu Widojo salah seorang adik almarhumah Tien Soeharto. Sedangkan Presiden Dragon Bank adalah Wang Zhi Ying warganegara Malaysia yang sekarang menghabiskan waktunya lebih banyak di Jakarta dan berkantor di Lantai 24, Menara Mulia, Jl. Gatot Subroto, Jakarta.

Akhir Mei lalu, PT Harapan Insani dan Dragon Bank membangun resort di Kepulauan Langkawi, Malaysia dengan investasi Rp 200 miliar. Acara penandatangan kerjasama antara Mara Holding (Malaysia) dengan Dragon Bank dan PT Harapan Insani itu disaksikan langsung oleh Menteri Keuangan Republik Vanuatu Barak T. Sope dan, dari pihak Indonesia, Ketua Umum Kosgoro Bambang Soeharto dan Ketua Generasi Muda Kosgoro Maulana Isman.

Para pejabat tinggi Vanuatu, kelihatannya sangat berkepentingan untuk menjaga keberadaan Dragon Bank di luar negeri, khususnya di Indonesia. Ini kelihatan ketika mereka berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu, menyempatkan hadir di kantor cabang Dragon Bank di Menara Mulia.

Sebuah sumber resmi yang enggan disebutkan identitasnya, mengatakan keberadaan Dragon Bank di Indonesia bukan hanya dalam rangka kerjasama dengan PT Harapan Insani. "Sebagian besar saham bank tersebut dimiliki oleh Yayasan Harapan Kita," katanya.

Boleh jadi apa yang dikatakan sumber tadi benar. Sebab jaringan bisnis keluarga Soeharto, khususnya yang berada di bawah pengawasan Yayasan Harapan Kita belum banyak yang mengetahuinya, selain Rumah Sakit Harapan Kita..

Selain proyek telekomunikasi dan properti yang sedang disiapkan, Dragon Bank dan PT Harapan Insani dalam waktu dekat akan melebarkan bisnis keuangan dengan mendirikan lembaga sekuritas. "Keluarga Soeharto memang sedang mengincar bisnis di pasar modal karena prospeknya sangat baik," sumber tersebut menambahkan.

Dragon Bank International sendiri sudah beberapa tahun ini sedang diamati antara lain oleh Interpol Hongkong karena praktek pemutihan uang yang dilakukannya. Bahkan, beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman dan Perancis memasukkan Dragon Bank dalam daftar hitam.

Money laundering adalah upaya legalisasi uang yang biasanya berasal dari bisnis narkotika, mafia atau korupsi. Indonesia termasuk negara yang mengizinkan masuknya dana dari pemutihan uang karena menganut rezim devisa bebas.

Isu pemutihan uang muncul ke permukaan pada 1991 ketika PT Jakarta International Hotel & Development (JIHD) membangun Sudirman Central Business District seluas 45 ha dengan investasi sekitar Rp 7,5 triliun. Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pengusaha Tomi Winata dan Sugianto Kusuma itu mengatakan bahwa untuk membangun proyek itu mereka tidak membutuhkan pinjaman bank karena memiliki ekuiti (modal sendiri) yang sangat besar.

Menurut pengakuan Tomi Winata ketika terungkap kasus share swap PT JIHD terhadap PT Danayasa Arthatama, dia mendapat dukungan dari Taiwan, Hongkong dan Jepang. Dia menyebut antara lain keberadaan Triad dan Yakuza dalam ekspansi Artha Graha Group di Indonesia.

Pihak militer di Indonesia, khususnya Angkatan Darat sebenarnya mengetahui dan memberikan legalitas atas praktek bisnis Tomi Winata. Ini terlihat dengan masuknya Yayasan Kartika Eka Paksi dalam beberapa proyek dan bisnis Tomi, seperti SCBD dan Bank Artha Graha.

Liem Soedono Salim dan Bimantara Group

Majalah TIME tak sembarangan mengkarikaturkan tokoh-tokoh dunia. Dalam edisi terbaru pekan ini, majalah bergengsi Amerika itu menggambarkan Pak Harto sedang memarahi putranya, Bambang Trihatmodjo. Ini tentulah soal gugatan Bambang Tri ke PTUN Jakarta terhadap Menkeu RI dan Gubernur BI dalam kasus likuidasi Bank Andromeda. Bos Bimantara itu digambarkan "menyerah", menangis, dan kelihatan "sedikit putus asa".

Agaknya, karikatur itu tak pas benar dengan perkembangan berita soal Bambang Trihatmodjo. Karena, hanya dua minggu setelah Bank Andromeda miliknya (25 persen) dilikuidasi, Bambang Tri "membeli izin" dan mengambil alih Bank Alfa. Tak tanggung-tanggung, putra Presiden Soeharto itu mengambil alih seluruh saham bank tersebut dari Albert Salim, putra Om Liem alias Soedono Salim. Bambang Tri membeli 99 persen saham, sisanya dimiliki adiknya, Siti Hediati Prabowo.

Bambang Tri boleh saja "mundur selangkah" dengan mencabut gugatan di PTUN Jakarta, tapi siapa bilang Bambang Tri "menangis". Dalam industri perbankan, Bambang Tri "lolos" dari Daftar Orang Tercela yang ditetapkan BI untuk para pemilik dan direksi - walau tak seluruhnya - dari 16 bank yang dilikuidasi.

Dia juga seperti mendapat kemudahan untuk mengambil alih bank lain, sesuatu "kesempatan" yang barangkali tak dimiliki yang lain.

Pengamat perbankan Sutan Remi melihat bahwa jika deposan Bank Andromeda diuntungkan dengan "solusi" Bambang Tri itu, maka tak ada yang janggal dalam pengambilalihan Bank Alfa. Yang penting, ujar Remi, ada win-win solusi untuk deposan, Bambang Tri, dan juga otoritas moneter (Lihat wawancara Sutan Remi: "Pemerintah dan Bambang Sama-sama Pintar").

Sementara itu, mantan CEO Lippobank, Laksamana Sukardi, melihat langkah Bambang Tri sudah tepat. Sebaliknya, dia melihat bahwa penegakan ketentuan BI atas bank-bank yang melanggar masih sedemikian tidak transparannya (Lihat komentar Laksamana Sukardi: "Bambang Tri Tercela? Saya Tak Bisa Berkomentar").

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Bank Andromeda melanggar batas maksimal pemberian kredit? Pengamat Rasjim Wiraatmaja menjelaskan bahwa baik direksi maupun komisaris yang secara sengaja tidak menaati aturan perbankan, memang bisa kena sanksi pidana. Tetapi, selama ini BI hanya memberikan sanksi administratif. "Padahal menurut pasal 49 ayat (2b) UU Perbankan, siapa pun yang melanggar, dapat dikenai sanksi pidana berupa denda dan hukuman penjara," katanya.

Jika Bambang Tri lolos dari "hukuman" BI, kata Rasjim, itu hanya BI yang tahu apa sebabnya. "Seperti yang sudah saya bilang, hanya BI yang tahu siapa saja yang masuk ke dalam DOT, jadi mungkin Bambang dinilai "bersih", sehingga diijinkan mengambil alih Bank Alfa," katanya (Lihat wawancara Rasjim: "Mungkin Saja Bambang Tri Dinilai Bersih").

Bambang Tri memang lebih tak "menyusahkan" deposan banknya dalam kasus likuidasi - dengan mendapat "ijin" BI untuk membayar sendiri deposannya. Kabarnya dia sudah merogoh kocek sampai Rp 60 miliar untuk membayari nasabah Bank Andromeda. Tapi, tampaknya, permintaan Bambang Tri itu juga "diimbangi" dengan ijin untuknya guna mengambil alih Bank Alfa - bisa saja dengan dalih menampung karyawan Bank Andromeda. Suatu "kesempatan" yang tak dimiliki bankir lain yang kena tebas likuidasi 1 November lalu.

Agaknya, karena "kesempatan" itulah bisnis Bambang Tri begitu cepat menanjak sejak dia dan kawan-kawannya mendirikan PT Bimantara Citra pada tahun 1981. Bambang bergabung dengan kawan-kawannya sesama alumnus sekolah Percik (Perguruan Cikini dari SD sampai SMP) dan SMA Negeri 1 Jakarta, yakni Mochamad Tachril dan Rosano Barack. Bergabung juga Indra Rukmana, suami Mbak Tutut. Nama PT Bimantara Citra itu diberikan olah Bambang, yang artinya kira-kira, siap mengemban tugas yang berat dengan citra yang baik.

Kemudian, mereka -- Bambang, Aling (panggilan untuk Mohamad Tachril), dan Cano (panggilan untuk Rosano Barack) -- mengajak Peter Gontha yang waktu itu memimpin sebuah bank asing di Jakarta. Apa saja kegiatan mereka? "Kami mulai dengan berdagang apa saja, menjadi broker, dan sebagainya," kata Mochamad Tachril seperti dikutip majalah SWA edisi April 1989. 

Usaha mereka terus berkembang dan merambah cepat, mulai dari perdagangan, broker asuransi, real estate, konstruksi, televisi swasta, perhotelan, transportasi, perkebunan, perikanan, industri otomatif, industri makanan, industri kimia, pariwisata dan sebagainya. Menurut catatan SWA tahun 1989, tak kurang dari 65 perusahaan telah mereka dirikan, 30 perusahaan di antaranya menempatkan Bimantara sebagai pemegang saham mayoritas.

Tentu saja Bimantara bukanlah satu-satunya induk usaha mereka. Kemudian bersama keempat mitranya itu -- Indra Rukmana, Rosano Barack, Mohamad Tachril Sapi’ie dan Peter F. Gontha -- membangun perusahaan induk lainnya dengan nama PT Bumi Kusuma Prima. Beberapa perusahaan Bimantara juga "diboyong" ke perusahaan ini, seperti PT Gelatindo Multi Graha (produsen cangkang kapsul), PT Lima Satria Nirwana (keagenan Mercedes-Benz), dan PT Citra Auto Nusantara (Ford).

Banyak proyek baru yang dikelola oleh perusahaan ini. Sebagian di antaranya adalah proyek-proyek besar . Salah satunya adalah, Bali Turtle Island Development, yang mengembangkan 1.000 ha kawasan wisata baru di Bali dengan nilai investasi keseluruhan 2 miliar dollar AS.

Menurut catatan SWA edisi Agustus 1995, ada 26 perusahaan yang bernaung di bawah payung Bimantara Citra. Diantaranya adalah Rajawali Citra Televisi, Elektrindo Nusantara, Plaza Indonesia Realty, Nusadua Graha International, Bima Kimia Citra, Multi Nitrotama Kimia, dan lain-lain. Kemudian sejumlah perusahaan di bawah bendera PT. Bima Intan Kencana serta beberapa perusahaan di bawah PT. Bima Kimia Citra, kedua perusahaan ini berinduk ke PT. Bumi Kusuma Prima.

Disamping Bimantara dan PT. Bumi Kusuma Prima, menurut catatan SWA, Bambang juga memiliki tak kurang 34 perusahaan pribadi. Termasuk diantaranya adalah Bank Andromedia atau dengan nama PT. Andromeda Bank. Perusahaan Bambang tersebut bergerak di berbagai bidang, seperti perdagangan, Perkebunan, Kehutanan, Kimia, Farmasi, Kontruksi, Properti - Perkantoran/Pembelanjaan, Real-Industrial Estate, Transportasi, Jasa dan bidang Keuangan. 

Jumlah investasi yang ditanam di seluruh perusahaan tersebut terbagi dua, masing-masing investasi asing dan investasi domistik. Investasi asing totalnya 102 juta dollar AS. Sementara investasi domestik sebesar Rp 332,7 miliar.

Data "Who is Who" (Harian Ekonomi Bisnis Indonesia, Interactive Edition, http://www.bisnis.com) menyebutkan, Bimantara kini mempunyai 50 perusahaan. Dengan aset seluruhnya diperkirakan sekitar 555 juta dollar AS. Tetapi menurut sumber Warta Ekonomi, 25 Nopember 1996, Bimantara (yang dalam data itu disebutkan Bambang Trihatmojo dan Indra Rukmana adalah pemilik utamanya), menduduki urutan ke-6 ranking konglomerat terbesar Indonesia 1995, dengan total aset diperkirakan Rp 2,738 triliun. 

Disamping Bimantara, Bambang juga mempunyai usaha lain yang cukup mempunyai prospek, yakni Satelindo, Candra Asri, dan Kanindotex. Satelindo, adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi. Disamping melayani sambungan langsung internasional, perusahaan ini juga menyediakan layanan satelit. Serta pula layanan telepon seluler. Di Satelindo, lewat Bima Graha Telekomindo, ia menguasai 45 persen saham. 

Sementara Candra Asri dimiliki oleh Bambang, Prajogo Pangestu, dan Henry Pribadi. Perusahaan yang total investasinya Rp 4 triliun lebih tersebut memproduksi ethylene, prophylene, dan butadiene, masing-masing dengan kapasitas 495 ribu ton, 245 ribu ton, dan 24 ribu ton per tahun. Dengan jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pabrik petrokimia semihilir (antara) di dalam negeri. Bahkan bisa berlebih, sehingga dapat digunakan untuk diekspor. 

Terakhir adalah PT. Kanindotex, perusahaan tekstil terpadu yang didirikan oleh Robby Tjahjadi. Seperti ditulis SWA, bersama Johannes Kotjo, Bambang Rijadi Soegomo, dan Wisnu Suwardono, Bambang menguasai mayoritas saham (90 persen) perusahaan itu. Tak kurang, enam perusahaan menjadi pendukung prabrik tekstil tersebut. Salah satunya adalah PT. Kanindo Success Textile. Perusahaan ini mengoperasikan 440 ribu mata pintal. 

Sementara itu dari catatan Creative Information System of Indonesia (CISI), 1991-1992, disebutkan bahwa Bimantara Grup mempunyai 134 anak perusahaan. Dengan bidang kegiatan antara lain, perbankan, asuransi, perhotelan, industri pariwisata, industri kimia, pabrik farmasi, otomotif, industri pakan ternak, industri kimia pertanian, pabrik minyak makan, dan beberapa pabrik lainnya. Juga jasa pembangunan ladang minyak, perkebunan, properti, kontraktor, transportasi laut, udara, dan lainnya. Serta instalasi telekomunikasi dan distribusi peralatan telekomunikasi, televisi, dan perdagangan (Lihat tabel 1, tabel 2, dan tabel 3).

Untuk sebuah perusahaan yang dibangun sejak 1981, alias hanya sekitar 16 tahun, sukses Bimantara tergolong mencengangkan. Tapi, yang selalu jadi pertanyaan luas: adakah sukses itu lantaran kepiawaian seorang Bambang Tri ataukah berbagai "kesempatan" yang dinikmatinya sebagai anak seorang presiden. Dalam kasus Bank Alfa, misalnya, agak sukar menampik kesan bahwa "kesempatan" yang diperolehnya "berdiri di depan" dibandingkan kepiawaiannya mengelola bisnis.

Sheila Marcia Joseph Tertangkap Razia Narkoba

Sheila Marcia Joseph Tertangkap Razia Narkoba

Bintang film dan model Sheila Marcia Joseph, tertangkap razia narkoba.

Sheila Marcia Joseph gadis kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1989 itu tertangkap bersama 4 orang di apartemen Golden Sky Pluit lantai 7 kamar 8 pada Kamis 7 Agustus 2008 jam 7 malam.

Kasus Sheila Marcia Joseph yang oleh polisi diberi inisial SM, saat ini masih didalami oleh pihak kepolisian.

Tamara Bleszynski Tertangkap Tengah Pesta Sabu-Sabu ?

Aktris cantik Tamara Bleszynski diisukan tertangkap dalam penggerebekan di aparatemen ITC Permata Hijau karena sedang nyabu pada hari kamis 17 April 2008 dini hari.

Tamara Bleszynski disebut-sebut sedang pesta nyabu bersama teman-temannya di apartemen tersebut.

Tetapi polisi membantah bahwa telah melakukan penangkapan Tamara Bleszynski.

Dikabarkan juga bahwa Tamara Bleszynski sudah 1 minggu berada di Malaysia.

Bambang Hendarso Danuri

Pengajuan nama calon Kapolri Komjen (Pol) Bambang Hendarso Danuri merupakan pilihan Presiden SBY dari beberapa calon yang memenuhi syarat. Namun, ada yang menyebutnya sebagai anak emas Sutanto?

Sebuah kamar khusus di Hotel Merdeka Madiun menjadi tempat bersejarah bagi Komjen (Pol) Bambang Hendarso Danuri (BHD). Betapa tidak, di kamar itulah, mungkin, dia mendapat kepastian dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk siap-siap menjadi Kapolri. Sebelumnya, presiden berbuka puasa di pesantren modern Darussalam Gontor Ponorogo.

Orang-orang istana yang menyaksikan pertemuan itu serta merta memastikan BHD pasti jadi TB-1. "Pak Bambang yang sekarang Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) tentu saja memenuhi syarat dari segi kepangkatan, senioritas, integritas dan pengalaman," kata juru bicara Andi Malarangeng.

Sementara itu Mensesneg Hatta Radjasa di tempat yang sama mengatakan Presiden Yudhoyono hanya mengajukan satu nama calon Kapolri, juga karena pertimbangan serta masukan agar Bambang Hendarso bisa terpilih menjadi Kapolri baru.

Hatta juga meyakini nama Bambang Hendarso tidak akan ditolak oleh DPR mengingat kriteria-kriteria yang dipenuhi dalam diri Bambang Hendarso. Hatta mengatakan bahwa pengajuan satu calon Kapolri baru ini bukan karena krisis kepemimpinan di Kepolisian.

Namun, Ketua Presidium Indonesia Police Watch. Neta S. Pane berpendapat, BHD yang dicalonkan sebagai Kapolri tidak lebih dari anak emas Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Pasalnya, selama menjadi polisi maupun menduduki berbagai jabatan tidak menunjukkan prestasi yang luar biasa. "Kinerja dan prestasinya biasa-biasa saja. Karirnya menanjak karena Sutanto jadi Kapolri. Ia memang anak emas Sutanto," katanya.

Ia menyebutkan, karir Bambang mulai naik setelah Sutanto menjabat sebagai Kapolri karena sebelumnya ia menjadi perwira yang tidak menduduki jabatan penting. Setelah menjadi Direktur Reserse di beberapa Polda dengan pangkat Kolonel Polisi dan Kombes Pol, Bambang lalu menjadi perwira non job di Mabes Polri hingga tiga tahun. "Bambang Hendarso naik pangkat secara spektakuler semasa Sutanto jadi Kapolri. Dalam tiga tahun ia bisa naik pangkat hingga tiga kali," katanya.

Karena prestasinya tidak ada yang menonjol, Pane meminta agar Bambang tidak perlu membuat gebrakan yang berbeda dengan sebelumnya. "Cukup lanjutkan saja kebijakan Sutanto antara lain pemberantasan judi, narkoba, pembalakan liar dan terorisme," katanya.

Menurut IPW, judi mulai berkembang lagi di Jakarta hingga menjadi tantangan bagi Bambang untuk melanjutkan tradisi Sutanto yang sejak jadi dulu bertindak tegas terhadap judi. Kendati begitu, Pane optimis Bambang bisa memberikan jaminan keamanan karena ia banyak berpengalaman baik di Jakarta maupun di daerah. "Bambang kan lama bertugas di Jakarta sehingga tidak akan kaget dengan berbagai persoalan di ibukota sebagai jantung Indonesia," katanya.

Dengan ditunjuknya Bambang sebagai Kapolri yang baru, tentunya ini merupakan tugas berat bagi. Terutama pembenahan internal Kepolisian yang selama ini masih dipenuhi praktek kolutif dan korupsi.

Sejumlah kasus berat seperti memberantas pungli, narkoba perjudian, ilegal logging dan lainnya yang belum dituntaskan Sutanto akan menjadi tugas Bambang.

“Terutama kasus 15 rekening gelap sejumlah pejabat Kepolisian yang berjumlah trilyunan rupiah juga harus bisa dituntaskan, sebab sampai saat ini Sutanto masih mempetieskan kasus tersebut,” ungkap Neta.

Pembenahan di jajaran lalu lintas juga perlu dilakukan, sebab manajemen lalu lintas sampai saat ini masih semeraut serta pungli masih mengakar. Padahal, jajaran lalu lintas merupakan etalasi Polri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Neta mengatakan, seandainya Bambang jadi terpilih, yang harus dibenahi adalah lalu lintas, sebab praktek pungli masih terus berlangsung sehingga meresahkan masyarakat. Selain itu Bambang juga harus mempunyai konsep yang jelas untuk mengatasi kemacetan dan permasalahan lalu lintas. Sebab angka kecelakaan lalu lintas tiap tahun meningkat. “Untuk tahun ini saja, sudah terjadi 13000 kali kecelakaan dan semua korbannya meninggal dunia,” kata Neta.

Untuk melaksanakan tugas tugas berat itu, sebaiknya Bambang merekut pembantu pembantunya dari polisi yang profesional yang mengerti akan tugasnya. Jika itu tidak dilakukan, IPW yakin kasus berat tersebut tidak akan dapat dituntaskan.

Calon lain
Namun penunjukan calon tunggal tersebut sempat menimbulkan tanda tanya besar Komisi III DPR-RI. Sebab penunjukan calon tunggal itu nantinya akan menimbulkan kecemburuan, mempengaruhi rasa integritas dan persatuan di tubuh Kepolisian. Selain itu, Komjen Bambang Hendarso yang merupakan Angkatan1974 itu tidak memiliki prestasi yang cukup dibanggakan. Komisi III berharap agar SBY dalam menentukan pengganti Sutanto tidak hanya mengirim satu orang calon saja.

“Kami berharap agar Presiden SBY kalau bisa mengirimkan lebih dari satu nama calon agar kami punya pilihan,” kata Ketua Komisi III DPR Trimidya Panjaitan .

Dalam penunjukan calon tunggal ini, Trimedya mengakui memang tidak ada aturan khusus yang mengharuskan presiden untuk mengirimkan lebih dari satu nama sebagai calon Kapolri. “Namun demikian, calon tunggal yang diajukan SBY itu bukan berarti akan langsung mendapat persetujuan dari Komisi III,” kata Trimedya.

Politisi PDPI itu juga menilai Bambang Hendarso yang merupakan calon tunggal tersebut tidak memiliki prestasi yang cukup menggembirakan. "Kalau dilihat dari prestasinya, belum cukup berprestasi. Setelah menjabat sebagai Kaditserse Polda Jawa Timur di bawah pimpinan Sutanto, Bambang lama menghilang. Kemudian muncul lagi di Jakarta. Hilang muncul lagi di Kalimantan Selatan dan muncul lagi di Sumatera Utara," kata Trimedya.

Soal adanya penolakan dari Komisi III terhadap Bambang, Trimedya tidak menampik kemungkinan tersebut. Tapi saya tidak bisa memutuskan sendiri karena dalam Komisi III ada anggota yang lain. "Kemungkinan itu ada, tapi tergantung 48 anggota komisi III yang lain,” kata Trimdeya sambil berharap agar SBY mengajukan nama lain selain Bambang sebelum lebaran nanti.

Anggota Komisi III yakni Sahrin Hamid juga mengatakan kebijakan SBY yang menunjuk Bambang Hendarso sebagai calon tunggal untuk menjabat sebagi Kapolri telah menimbulkan pertanyaan besar.

“Kenapa SBY menunjuk hanya satu calon, sementara ada pejabat Kepolisian yang punya pangkat bintang serta memiliki segudang prestasi serta yang profesional tetapi tidak ada dalam pilihannya,” kata Sahrin

Menurut Sahrin, keputusan yang dilakukan SBY ini nantinya akan menimbulkan berkurangnya rasa integritas di tubuh Kepolisian. “Seharusnya SBY mengirimkan nama calon lain selain Bambang Hendarso,” ujar politisi PAN itu.

Penunjukan calon tunggal pengganti Sutanto ini juga mendapat kritikan dari Aliansi Masyarakat Independen Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Amipka). Menurut Amipka, menilai penunjukan calon tunggal pengganti Sutanto, nantinya akan menimbulkan preseden buruk bagi masyarakat.

“Saya tidak mempersoalkan siapa yang harus menjadi Kapolri, tetapi kenapa hanya satu calon yang diajukan sebagai pengganti Sutanto. Tetapi calon tunggal yang dilakukan SBY ini tidak demokratis. Sesuai dengan partai Demokrasi yang dianutnya, SBY seharusnya lebih arif dan bijaksana dalam melakukan pilihan,” kata David Ridwan Baiz.

Ditambahkan, masih banyak pejabat Kepolisian yang berpangkat bintang dan memiliki segudang prestasi, tetapi kenapa tidak dimasukkan dalam pilihan. Bagi Amipka, pilihan calon tunggal ini belum final sebelum SBY mengajukan nama calon lain sebagai pengganti Sutanto.

Sedangkan anggota Kompolnas Adnan Pandupraja mengatakan terlepas siapa pemimpinnya dan dari apa pun alasan penggantian itu, keberhasilan Sutanto tidak lepas dari keberhasilan Bareskrim. "Bambang Hendarso Danuri adalah tulang punggung keberhasilan Sutanto, seperti dalam kasus pembalakan liar dan terosrisme. Itu kan kerjaan reskrim," ujar Pandupraja.

Menurut Adnan, keberhasilan Polri dalam menangani kasus-kasus penting saat era Sutanto, harus pula diimbangi dengan penanganan masalah intern di tubuh Polri sendiri.
"Selain penanganan ekstern, saya juga berharap penanganan ke dalam dengan membersihkan oknum-oknum polisi. Kalau polisi-polisinya masih banyak yang kotor, nggak ada gunanya," tegas Andnan.

Adnan juga mencotohkan kasus salah tangkap dan pendekatan kekerasan dalam penyidikan, sebagai bukti masih kotornya internal kepolisian. "Salah tangkap dan pendekatan kekerasan saat menyidik itu masalah laten kepolisian. Itu belum berhasil dibenahi Sutanto dan ini menjadi PR bagi pengganti Sutanto," tandasnya.

Bambang Hendarso Danuri dan Sutanto


Selesai sudah tugas Jenderal Polisi Sutanto sebagai Kepala Polri. Jika tak ada aral melintang, posisi TB-1 itu akan diisi oleh Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD).

Dingin, begitulah kesan awal para pendukung Jenderal Polisi Sutanto ketika tahu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tekah mengirim surat kepada Ketua DPR Agung Laksono yang isinya mengajukan nama Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang baru. Padahal, sebelum isi surat itu terungkap, mereka sudah berupaya mempengaruhi istana agar jabatan Sutanto dipertahankan hingga pemilu mendatang.

Malah, Ketua DPR Agung Laksono sempat memberi sinyal tidak akan terjadi suksesi kepemimpinan Polri. “Seharusnya awal September Kapolri sudah harus diganti. Tapi sampai sekarang belum ada surat tentang akan diganti atau dilanjutkan," kata Agung ketika itu.

Namun, teka-teki pergantian Kapolri terjawab pekan lalu, bertepatan dengan tenggat akhir. Uniknya, lewat Agung Laksono pula teka-teki itu terungkap. “Saya telah menerima surat dari presiden yang intinya menyampaikan perihal soal permintaan persetujuan dari DPR RI untuk pengangkatan Kapolri menggantikan Kapolri Pak Sutanto, Komjen Polisi Bambang Hendarso,” kata Agung Laksono.

Surat bernomor 56 tersebut akan segera ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur yang berlaku di DPR. “Tanggal 16 September (surat presiden) diumumkan di paripurna. Kemudian dibawa ke Bamus 18 September, sehingga tanggal 19 September sudah bisa diproses (fit and proper test di komisi III),” terangnya.

Agung pun mengaku tidak terkejut. Ia menjelaskan, pengajuan nama calon kapolri adalah hak prerogatif presiden. “Biasa itu. Karena hal serupa dulu juga menunjuk nama cukup satu. Apalagi itu kewenangan presiden,” ujarnya.

Namun, tentang kepastian Bambang Hendarso akan menduduki pucuk pimpinan Polri, Agung tidak berani memastikan. Keputusan akhir sepenuhnya berada di DPR. “DPR ini kan hanya persetujuan. Bisa disetujui juga bisa ditolak. Kalau waktunya Insya Allah cukup lah,” tandasnya.

Sementara itu, mengetahui masa kerjanya yang akan game over alias selesai, Kapolri Jenderal Pol Sutanto menyatakan, dirinya akan berusaha untuk menyelesaikan semua tugas. "Jika tidak ada yang tidak selesai, ya akan dilanjutkan oleh pejabat baru," katanya.

Sutanto optimis, sistem yang sekarang berjalan di tubuh Polri tidak akan terpengaruh dengan pergantian Kapolri sehingga siapapun yang akan menjabat sebagai Kapolri baru maka akan tetap dapat bekerja dengan maksimal. “Pengajuan nama-nama calon Kapolri telah melalui mekanisme yang ada. "Bahkan, sejak lulus dari taruna Akademi Kepolisian, dia (BHD, red) sudah terpantau," jelasnya.

Dia juga mengingatkan kepada penggantinya, Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri agar memperbaiki perilaku anggota polisi yang selama ini masih dikeluhkan masyarakat. "Di sana-sini masih ada kelakuan anggota polisi yang dikeluhkan warga. Ini harus dibenahi," kata Sutanto.

Seperti diketahui, naiknya Sutanto sebaga Kapolri telah membuat peta peredaran narkoba menjadi sempit, bisnis judi mati kutu dan menurunnya aksi terorisme. Itu sebab, nama Sutanto moncer menjelang pelaksanaan Pilpres 2009. Apalagi, Partai Keadilan Sejahtera menyebutnya sebagai salah satu figur yang layak maju sebagai calon presiden. PKS melirik Sutanto?

Bukan sekali-dua, PKS memuji Sutanto. Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PKS, Muhammad Razikun pernah memprediksi peluang Sutanto masuk penjaringan 100 calon pemimpin. Wakil Ketua Umum PKS, Al Muzammil Yusuf, bahkan menyebut Sutanto sebagai salah satu Kapolri terbaik yang dimiliki Indonesia. Lagi pula, di mata Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Sutanto juga cukup mampu menjadi pemimpin Indonesia mendatang. "Saya melihat Pak Sutanto itu baik, mempuyai kapasitas dan visioner," ujarnya.

Angkatan 74
Komjen Pol Bambang Hendarso merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1974, yang meraih gelar sarjana dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jakarta. Kelahiran Bogor, 10 Oktober 1952, ini beristrikan Nanny Hartiningsih.

Karir BHD melejit setelah pernah menjabat Wakasat Sabhara Polresta Bogor Polda Jawa Barat (1975), Kapolres Jayapura (1993),Wakapolwil Bogor Polda Jawa Barat (1994), Kadit Serse Polda Nusa Tengggara Barat (1997), Kadit Serse Polda Bali (1999), Kadit Serse Polda Jawa Timur (2000), Kadit Serse Polda Metro Jaya (2005), Kapolda Kalimantan Selatan (2005), Kapolda Sumatera Utara (2005-2006) dan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri (2006-sekarang). BHD juga menyandang penghargaan Satya Lencana Kesetiaan 8 Tahun, Satya Lencana Karya Bhakti dan Satya Lencana Ksatria Tamtama.

Seperti diketahui, nama BHD mulai dikenal masyarakat sejak menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara karena sikap tegasnya untuk memberantas pembalakan liar. Kasus Adelin Lis menjadi bukti keseriusan Bambang dalam memerangi pembalakan liar. Mahkamah Agung pun memvonis Lis 10 tahun penjara. Satu tahun setengah sebagai Kapolda Sumut, Bambang pun dipromosikan sebagai Kabareskrim Polri.

Mencuat nama BHD memupuskan nama tiga jenderal lainnya, yang sempat digadang-gadang oleh para tim sukes. Mereka adalah Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanagara, Irwasum Polri Komjen Pol Jusuf Manggabarani (Akpol 75), Kababinkam Iman Haryatna (Akpol 75), dan Kapuslakhar BNN Komjen Pol Gories Mere (Akpol 76).

Sekalipun namanya santer bakal menggantikan Sutanto, namun adik mantan Pangdam 1 Bukit Barian Mayor Jenderal (Purn) Tritamtomo tetap low profile. "Saya belum tahu apa-apa. Kan masih dalam proses," katanya seraya menambahkan, "Saya belum jadi apa-apa." mangontang silitonga, ybp

Penjudi Hotel Sultan Jakarta

PRESIDEN komisaris sebuah perusahaan swasta, BT, ditangkap polisi ketika berjudi di sebuah kamar Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat. Perjudian itu dilakukan BT bersama belasan rekannya yang merupakan para bos sejumlah perusahaan swasta.


  Perjudian di kamar hotel tersebut berlangsung sejak Januari 2008. Selama sekitar 10 bulan, perjudian di kamar 296 Hotel Sultan ini tak tersentuh aparat hukum karena dikelola secara rahasia. Total uang taruhan di perjudian ini mencapai ratusan juta rupiah.

  BT bisa masuk ke arena judi tersebut karena dia termasuk member atau anggota kelompok. Kepada orang-orang di luar kelompoknya, para pejudi ini mengaku bahwa kelompoknya merupakan kelompok arisan.

  Pintu kamar 296 hanya terbuka bagi pemilik kartu member. Menurut Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Abu Bakar Nataprawira perjudian di kamar hotel tersebut berlangsung setiap hari, persisnya antara pukul 15.00 hingga pukul 04.00. Kamar tersebut bertarif Rp 4 juta per malam. Di jajaran kaum jetset negeri ini, BT sering diidentikkan dengan Bambang Trihatmodjo, bos Grup Bimantara yang juga putra mantan Presiden Soeharto.

Monas Bandar Narkoba Besar Indonesia

Sosok Liem Piek Kiong alias Monas adalah salah satu bandar besar pendistribusian ekstasi ke pelbagai diskotek di Jakarta dan Surabaya. Berpenampilan sederhana, namun punya jaringan Asia Tenggara hingga Belanda.

Menyebut nama Monas di kalangan bisnis narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), jangan heran kalau berbagai cerita heroik mengantarkannya. Maklum, dia yang dekat dengan kalangan jetset adalah bandar besar yang patut diperhitungkan di Jakarta.

Selain dirinya, Stalin Law Yong Kiat alias Steven, Cheong Mun Yau alias Andrew atau Heri dan Diong Chee Meng, diketahui menjadi otak bagi peredaran ekstasi di Indonesia. Termasuk di Apartemen Taman Anggerek, November silam. Sedangkan warga Taiwan yang buron adalah Huang Wen Jhang, yang juga menjadi bos dari perusahaan Hup Seng Ltd, menyusul terungkapnya empat pabrik pembuat sabu-sabu di Batam pada Oktober 2007 atas kerja sama badan penanggulangan narkotika (DEA) Hongkong dan Singapura.

Cece, istri Monas, berperan besar urusan lobi melobi. Pasalnya, ia pandai berbahasa Inggris dan Mandarin. Sebab pil godek didatangkan dari asia seperti China, Singapura dan Taiwan. Selain itu pemasok utamanya dari Belanda. Seperti yang dilakukan Bahari alias Bocel. Ia menyelundupkan ekstasi sebanyak 600.000 butir ke dalam kompresor udara. Sayangnya Boncel kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Mabes Polri.

Namun polisi berhasil menggagalkan upaya tersebut dan berhasil menangkap lima warga asing dan satu WNI. Kelima warga negara asing tersebut adalah Segrefred (Belanda), Ong Tiong Yoh (Singapura) Ong Oah (Taiwan) Tzu Chieng (Taiwan) Lil alias Chy (Taiwan) dan Alek (Indonesia). WNA itu ditangkap di Taman Palem Mutiara Blok C-9/62, Cengkareng, Jakarta Barat pada 28 Februari 2008.

Narkoba ini berhasil melewati jalur ‘tikus’ yakni Belanda- Taiwan dan Jakarta. Anehnya dalam pemeriksaan di pelabuhan Tanjung Priok petugas bea cukai membebaskan benda aneh dalam kompersor udara.

Bicara soal bandar narkoba, para clubber’s (penikmat dunia malam) atau sindikat barang haram pasti sudah mahfum dengan nama Liem Piek Kiong alias Monas, atawa Key Person alias Jekly alias Jenny Chandra alias Cece alias Jat Lie Chandra. Ia tak lain adalah istri Monas yang kini terantuk bisnis pil laknat. Keduanya merupakan pemasok ekstasi dan sabu-sabu ke diskotek di negeri ini. Perempuan dengan empat nama samaran ini setali tiga uang dengan Monas. Namun Cece lebih beruntung dibanding dengan suaminya.

Beruntungnya meski telah ditangkap polisi bersama adiknya, Iskandar Chandra. Cece masih bisa lolos dari sangkaan polisi. Ia mengatakan bahwa barang bukti yang diperoleh polisi bukan miliknya.”Dia ( Cece) bisa membuktikan sabu- sabu dan lain-lainnya bukan miliknya,” kata sumber di kepolisian. Padahal barang bukti yang berhasil disita adalah 202 kilogram sabu-sabu, 1 kg ganja kering, bahan-bahan precusor (bahan kimia untuk membuatan narkotika) dan berbagai peralatan untuk membuat sabu-sabu. Sabu-sabu serta barang bukti lainnya didapat polisi dari Apartemen Menara Pluit Jakarta Utara lantai 16, kamar 161, pada1 Februari 2006 silam.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Depok, Rabu (21/5) silam, Monas mengaku pernah nyabu bersama Ahmad Albar. “Sudah lama, 2-3 tahun yang lalu," jawab Monas ketika ditanya kapan ia nyabu bersama pelantun 'Semut Hitam' itu. Iyek, panggilan Ahmad Albar, mengaku, “Memang benar saya pernah nyabu (mengonsumsi sabu) bersama Monas. Tapi, itu dulu. Sudah masa lalu. Saya dan Monas hanya bersahabat. Kami berhubungan baik dan erat karena dia suka musik dan pernah mengelola diskotek. Saya juga pernah.".

Sebaliknya Monas sang residivis, diseret ke kursi ‘panas’ Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Sayangnya hakim PN Jakut masih ‘berbaik hati’ dan memberi hukuman empat bulan kepada Monas. Dari pantuan Tabloid Sensor, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (29/5). Meski Monas berada di sel tahanan namun ia tetap bisa berinteraksi dengan dunia luar. Buktinya di dalam sel tahanan sementara PN Jakbar, ia masih bisa menggunakan telepopn selular. Kendati petugas tahanan kerap memergoki Monas tengah bertelepon ria, namun tidak ada teguran atau pun larangan dari pihak petugas tahanan. Adaan dugaan Monas masih mengendalikan jaringan sindikat narkoba dari dalam sel.

`Seperti diwartakan sebelumnya, dari Apartemen Taman Anggrek polisi menyita 481.000 butir ekstasi dan uang tunai Rp. 2,5 miliar. Salah satu tersangka, Lim Piek Kiong alias Monas (47) dengan istrinya Jenny Chandra alias Jacklyn alias Cece, merupakan pemasok ekstasi ke sejumlah diskotik besar di Jakarta dan Surabaya. ”Barang” yang digunakan memiliki kualitas nomor satu. Dengan kualitas terbaik itu, diskotik terkait diuntungkan dengan ramainya pengunjung.

Anehnya jaksa penuntut umum (JPU) Supardi dan Idianto dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta hanya mendakwa sang bandar narkoba dengan pasal pengguna bersama rekan senasibnya, Thio Bokan alias Johan. Yakni pasal 62 Undang-Undang nomor 5 tentang psikotropika. Padahal saat penangkapan polisi mendapati ratusan ineks di kamar Monas yang berada di Tower lima kamar nomor 19A Apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat.

Monas menancapkan kukunya melalui Abdurohim dan Ucok sebagai bandar di sejumlah diskotik besar di Jakarta. Keduanya ikut tertangkap dalam rangkaian penangkapan yang dilakukan BNN di Apartemen Taman Anggrek. Ada tiga jenis ekstasi yang diperdagangkan. Warna putih untuk daya tahan tubuh saat tripping, cream agar bisa tidur usai tripping dan dijamin bermimpi indah, serta hijau muda untuk meningkatkan libido seks. "Jika sudah merasakan barang milik Monas, pemakai akan sulit pindah (dari lokasi hiburan tempat peredaran ekstasi tersebut)," papar sumber itu.

Residivis
Mengenai sepak terjang Monas dalam berbisnis ekstasi, ia dikenal cukup tajir. Tak hanya itu dia juga sanggup menyulap barang bukti ribuan ekstasi dan sabu-sabu menjadi pulus. Sebab, pria ini sudah pernah masuk bui setelah dibekuk jajaran Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya pimpinan Kombes Pol. Carlo Brix Tewu. Tidak tahu kenapa, Monas yang merupakan bandar besar narkoba hanya mencicipi dua tahun penjara, sedangkan istrinya, Jenny alias Cece, tidak tertangkap.

Bahkan, is sempat menjadi "liong" dalam bisnis butiran pit memabukkan itu. Sepak teriangnya diakui. Untuk mendapatkan satu lokasi peredaran ekstasi, Monas tak segan-segan membayar dua atau tiga kali lipat dari setiap butir ekstasi yang terjual kepada "penguasa" tempat hiburan malam.

Monas juga sempat memiliki kaki tangan bernama Edi Bewok. Bewok pada tahun 2002 merupakan buronan nomor satu Polda Jawa Timur dalam kasus narkoba, karena kabur dari penjara di Surabaya. Langkah Bewok akhirnya terhenti setelah dibekuk Polda Metro Jaya. Setelah mendekam di LP Cipinang, beberapa lama, Bewok tak jera. Ia kembali menjalankan bisnis haram itu di Jakarta. Nyawanya akhirnya melayang dalam penangkapan kedua yang dilakukan jajaran Polda Metro Jaya di Hotel Olimpic, Lokasari, Jakarta Barat.

Meski kehilangan nyawa kaki tangannya, Monas terus mengembangkan bisnis ekstasinya. Informasi yang diperoleh, pil setan Monas beredar di beberapa diskotik besar Jakarta diantaranya, RM, Mil, Les, San, GC, dan lainnya. Sebagai "liong", ekstasinya pun beredar ke seantero Nusantara.

Untuk menggaet konsumen dari kalangan publik figur, Monas punya kiat sendiri. Jenny lah yang ditugaskan. Termasuk kalangan selebritis, yang salah satunya rocker gaek, Ahmad Albar. Ahmad Albar mengakui, Jenny adalah teman dugemnya. Selain itu, Jenny yang mahir berbahasa Mandarin dan Inggris, dikenal mempunyai jaringan luas, yakni meliputi Malaysia, Singapura, Brunei, dan Indonesia. sofyan hadi

Istri Monas Jacklin Candra alias Ce Ce Vonis Mati

Jacklin Candra alias Ce Ce, bandar 500.000 butir ekstasi, histeris ketika dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (18/9) malam. Begitu mendengar putusan itu, Ce Ce langsung menjerit dan menangis histeris seakan tak percaya dengan putusan tersebut. 
  Dalam sidang yang dipimpin hakim Hesmu Purwanto itu Ce Ce dinyatakan terbukti sebagai pemilik sekaligus pengatur organisasi peredaran narkoba di Indonesia. Dari kamar Apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat, yang dijadikan gudang oleh Ce Ce, polisi menemukan 500.000 butir ektasi dan uang Rp 1 miliar hasil penjualan narkoba. 
  Dalam sidang juga terungkap bahwa Ce Ce mengendalikan peredaran ekstasi yang berasal dari Belanda itu bersama suaminya, Monas. Meski tak pernah memegang langsung narkoba itu, Ce Ce mempunyai tugas mengawasi pengiriman barang haram tersebut. Setiap ada ekstasi yang keluar dari apartemen itu, Ce Ce harus menerima laporannya. Monas, warga negara Malaysia, masih buron. November 2007, peredaran narkoba yang terkait dengan jaringan internasional ini tercium oleh polisi. Hal ini terjadi setelah penyanyi rock gaek Ahmad Albar tertangkap tangan menggunakan narkoba. 
  Polisi mendapat keterangan narkoba itu adalah milik Ce Ce dan suaminya. Sejumlah anggota reserse kemudian menggerebek apartemen Taman Anggrek dan menemukan setengah juta pil ekstasi itu. 
  Selain memvonis mati, majelis hakim juga mengharuskan Ce Ce membayar denda Rp 750 juta ditambah biaya persidangan Rp 5.000. ”Tidak ada hal yang bisa meringankan terdakwa,” kata Hesmu Purwanto yang juga memvonis kaki tangan Ce Ce, Kim dan Christian, dengan hukuman yang sama. 
Vonis majelis hakim ini sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum Bambang Haryadi yang disampaikannya pada pekan lalu.
  Ce Ce, yang datang ke pengadilan dengan memakai kaus berwarna putih, tak berkata-kata ketika dijatuhi hukuman tersebut. Sebagai ekspresi penolakannya, dia berteriak histeris. Ce Ce sendiri dalam pembelaannya pekan lalu menuturkan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui peredaran narkoba tersebut. 
  Semua ekstasi itu, katanya, adalah milik suaminya. Monas pula yang mengendalikan peredaran barang haram itu di Indonesia dan beberapa negara lain. Ce Ce merasa menjadi korban dari semua ini. Dia kemudian menyerahkan urusan putusan ini kepada penasihat hukumnya.
  Tim penasihat hukum Ce Ce yang terdiri atas lima orang menyatakan pikir-pikir atas vonis yang dijatuhkan majelis hakim ini. Christian, terdakwa lainnya yang juga divonis mati, menyatakan akan melakukan banding atas putusan ini. 
  ”Saya merasa tidak diperlakukan secara adil dengan putusan ini. Sebab, saya sama sekali tidak mengenal Ce Ce dan anggota jaringan pengedar narkoba ini. Saya akan jalani sidang ini sampai tingkat Mahkamah Agung,” kata Christian.

Boncel Bersaudara, Fenomena Mafia Narkoba

Dia lagi, dia lagi....," kata Kepala Kesatuan Psikotropika, Direktorat Narkoba, Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Hendra Joni, dalam satu percakapan lewat telepon selulernya dengan seseorang, Rabu (27/2).

Sejumlah nama muncul dalam percakapan itu. Fani, Afon, Boncel, Natalia, Ana, dan Yanto. Keenam orang ini bersaudara. Seluruhnya pernah dipenjara. Sebagian diantaranya bahkan berulang kali dengan kasus serupa, perdagangan narkoba.

Sore itu Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jendral Adang Firman menjelaskan kepada wartawan, pihaknya membekuk enam tersangka jaringan Boncel bersaudara dan menyita 600.000 butir ekstasi senilai Rp 60 Miliar. Sebuah prestasi memang, tetapi ada yang lebih menarik dari itu, seperti yang disampaikan kriminolog Andrianus Meliala tentang “Fenomena Mafia” pada kasus Boncel bersaudara.

Dalam percakapan terpisah dengan Hendra, Kepala Kesatuan Narkotika, Direktorat Narkoba, Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Yupri, serta sejumlah pengusaha hiburan malam hari beberapa waktu lalu terungkap, Boncel bersaudara adalah “Pemain lama” yang menjadi bandar ekstasi produk belanda sejak tahun 1992.

Tahun 2000-an, selain mengimpor ekstasi dari Belanda, mereka juga mengimpor sabu dari Cina. Awalnya mereka memasok barang dagangan mereka ke sentra-sentra hiburan malam di Jakarta sebelum akhirnya memperluas ke kota-kota lainnya.

Petualangan Boncel bersaudara membuat kalangan pengusaha hiburan malam dan penegak hukum tidak asing kepada mereka. Fani kakak Boncel, kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan di Tangerang, sedangkan afon adiknya berada di Nusakambangan. Ana, adik Boncel yang dikenal sebagai importir dan pengedar sabu terbesar di Jakarta masih bebas aktif alias buron. Adiknya Yanto baru saja keluar dari penjara saat ini, “untuk sementara off “ kata Hendra.

Boncel dan Natalia tinggal di Belanda. Dari Negeri Kincir Angin tersebut, keduanya diduga mengendalikan bisnis narkoba.

Boncel bersaudara diduga membangun jaringan induk dengan memperkerjakan warga negara asing, seperti warga negara Taiwan, Singapura, China, dan Malaysia. Ketika salah satu jaringannya terbongkar, yang disebut-sebut media massa adalah jaringan sabu Cina, Hongkong, atau jaringan ekstasi Singapura, Thailand, dan Belanda. Terkesan, jaringan tersebut terpisah satu sama lain. Padahal, “Dia dia juga”. Yang dilupakan selama ingar bingar penangkapan terjadi adalah jaringan akar rumput yang digerakan warga kota setempat tetap berjalan normal.

Mengapa? Karena ketika salah satu jaringan induknya terbongkar, jaringan akar rumput dibawahnya akan mendapat bantuan dari jaringan induk lainnya.

Menurut Andrianus, kasus boncel menjadi fenomena mafia berbahaya di Indonesia. Lebih-lebh ditengah tumpang tindihnya hukum serta terbatasnya aparat hukum yang andal. Andrianus menjelaskan, kejahatan mafia tumbuh dan berkembang dari kelompok-kelompok keluarga.

Di lingkungan keluarga, proses pertukaran nilai menyimpang tumbuh lebih cepat dan terus mengalami penguatan secara berkelanjutan.

”Rasa sedarah, senasib, harga diri, dan loyalitas mengikat erat kelompok ini dalam seluruh aspek mereka. Ancaman hukuman fisik menjadi tumpul buat mereka,”paparnya. Mirip dengan jaringan mafia, Boncel bersaudara memiliki tiga lapisan jaringan yang mencerminkan tingkat kepercayaan dan loyalitas.

Lapisan pertama terdiri atas anggota keluarga yang mengendalikan seluruh jaringan. Lapisan kedua adalah orang-orang dekat yang bukan keluarga dan umumnya etnis perantauan, serta etnis paling luar adalah warga setempat yang direkrut orang-orang dekat.

Di Indonesia, bisnis narkoba Boncel bersaudara relatif stabil karena umumnya anggota jaringan yang terperosok dalam penjara tetap bisa melanjutkan usahanya, bahkan bisa berlangsung lebih aman dan lancar ketimbang dari luar tembok penjara seperti diakui Direktur IV Tindak Pidana Narkoba, Badan Narkotika Nasional, Brigadir Jendral (Pol) Indradi Thanos.

Ia menduga lebih dari 75% peredaran narkoba di Jakarta dan sekitarnya masih dikendalikan para narapidana penghuni tiga penjara, yaitu Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Tangerang, serta Rumah Tahanan Salemba.

Andrianus berpendapat, lebih sulit menumpas jaringan narkoba model mafia ketimbang jaringan narkoba yang hanya mengandalkan modal besar dan lobi kekuasaan. Karena itu, ia mengingatkan, sebaiknya aparat hukum mengutamakan penghancuran jaringan narkoba model Boncel bersaudara sampai ke akarnya.

Boncel Bersaudara, Importir Narkoba Terbesar di Tanah Air

JAKARTA, KAMIS -- Penangkapan enam tersangka pengedar ekstasi yang membawa 600.000 butir ekstasi, Selasa 26/2), pukul 10.00 di Ruko Perumahan Mutiara Taman Palem, Jakarta Barat sekaligus mengungkap, bukan hanya Boncel yang menjadi pemodal bisnis terlarang ini, tetapi juga seluruh saudaranya.

Demikian disampaikan Kepala Satuan (Kasat) Narkotika, Ajun Komisaris Besar Yupri, dan Kasat Psikotropika, Ajun Komisaris Besar Hendra Joni, Rabu (27/2) malam. Sebagian kalangan pengusaha hiburan malam di Jakarta yang dihubungi pun, merasa tidak asing lagi dengan nama-nama, Fani, Afon, Boncel, Natalia, Ana, dan Yanto. 

Menurut kedua Kasat, keenam kakak beradik (nama sesuai urutan tertua) ini, sejak tahun 1992 menjadi salah satu importir ekstasi besar. Tahun 2000-an, selain mengimpor ekstasi dari Belanda, mereka juga mengimpor sabu dari China. 
Meski sudah berulang kali dipenjara, mereka tidak jera. Fani misalnya, ”Dia sudah berulangkali terlibat kasus serupa. Sekarang dia mendekam di penjara Tangerang,” ungkap Hendra. Demikian pula Afon yang kini di penjara Nusa Kambangan. ”Selain sudah berulangkali 'masuk' dengan kasus serupa, dia juga pernah dipenjara karena memalsu kartu kredit,” lanjutnya.

Seingat Hendra, barang bukti dalam kasus Narkoba yang mengantar Afon ke Nusa Kambangan, juga tidak sedikit dibanding kasus Boncel. Meski demikian, ”Diantara saudara-saudaranya, Boncel memang paling sukses. Sukses menimbun keuntungan, dan sukses lolos dari aparat,” sela Yupri.

Ana, adik Boncel, dikenal sebagai importir dan pengedar sabu terbesar di Jakarta. ”Jaringan distributornya tidak banyak, tetapi omsetnya besar,” kata Hendra. Yang sedang ”off” urusan Narkoba saat ini, lanjutnya, baru Yanto. Yanto baru saja keluar dari penjara.

Dalam kasus 600.000 butir ekstasi, kata Yupri mengutip pengakuan sejumlah tersangka, pemodalnya Boncel, Natalia, dan Sani alias Ahba, Warga Negara Malaysia. ”Uang Boncel lebih banyak dari uang Natalia. Oleh karena itu, yang mengurus semuanya, Natalia. Bahkan sampai urusan mencari Ruko kontrakan,” ujar Yupri.

Hendra menambahkan, penangkapan keenam tersangka--Siegfried Mets Warga Negara Belanda, Ong Tiong Yoh Warga Negara Singapura, Chen Hoa Yi, Tzu Chiang, dan Li Hao Yi Warga Negara Taiwan, Selasa lalu, membuat para grosir ekstasi rugi. Sebab, bisnis Narkoba selalu dibayar di muka. 
”Mereka sudah terlanjur mentrasfer uang ke rekening Boncel atau Nathalia sebesar minimal Rp 60 milyar, tapi ternyata barang yang hendak diantar, kami sita,” ucap Hendra.

Kedua Kasat mengakui, sulit memburu dan menangkap Boncel yang selain memiliki modal besar, juga memiliki ”jam terbang tinggi” dengan dukungan lingkungan yang kuat.

Menanggapi hal ini, Kriminolog Adrianus Meliala mengatakan, satu-satunya cara membuat Boncel bersaudara jera, adalah memberi hukuman maksimal. ”Pengadilan harus berani memberikan hukuman maksimal dan segera mengeksekusi hukuman tersebut,” tandasnya.

Adrianus mengakui, sulit mengatasi kasus seperti ini. Menurut dia, keluarga-keluarga mafia di Italia, atau Triad di Hongkong, tumbuh dan berkembang dengan proses seperti kelompok Boncel bersaudara ini. ”Di lingkungan keluarga, proses pertukaran nilai menyimpang tumbuh lebih cepat. Hukuman fisik tidak efektif lagi,” paparnya.

Adrianus mengingatkan, Indonesia lebih mudah rapuh dengankasus-kasus seperti ini karena di samping memiliki hukum yang tumpang tindih, juga memiliki aparat hukum yang tidak memadai mengawal penegakan hukum.

Awas! Oknum Polisi Taruh Narkoba di Mobil Warga

JAKARTA, JUMAT-Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri, Irjen Sisno Adiwinoto meminta masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan adanya oknum polisi nakal yang menjebak warga dengan cara menaruh narkoba di dalam mobil saat menggelar razia, dengan tujuan pemerasan.

Menurut jenderal polisi bintang dua yang akan menjabat Kapolda Sulsel ini, warga korban pemerasan oknum polisi harus berani melapor ke unit/bidang/ divisi profesi dan pengamanan (propam) terdekat atau polda setempat, agar oknum nakal itu segera diproses, baik secara pidana maupun pelanggaran etika. "Anda harus berani mengatakan bahwa barang terlarang itu bukan milik Anda dan jangan mau jika diminta untuk memegang atau menyentuhnya," katanya.

Bila perlu, warga yang menjadi korban penjebakan itu harus meminta agar dilakukan tes sidik jari untuk membuktikan siapa saja yang pernah memegang barang haram tersebut. "Kalau Anda digerebek polisi dengan tujuan akan diperas, tanyakan surat perintahnya. Anda harus berani melaporkan oknum itu. Keberanian melaporkan oknum nakal sangat dibutuhkan Polri, sebab akan membantu upaya untuk membersihkan polisi yang nakal", kata Sisno seperti dikutip Antara, Kamis (28/2). "Polisi adalah milik rakyat, sehingga Anda pun wajib membersihkannya dari segala yang mengotorinya," ujarnya.

Dalam upaya menjebak dengan tujuan pemerasan itu, kata Sisno, oknum polisi akan menaruh narkoba di dalam mobil, misalnya bekerja sama dengan petugas valet parkir hotel atau mal. Begitu mobil yang sudah dimasuki narkoba keluar di jalan raya, oknum polisi itu akan menangkap dan ujung-ujungnya adalah memeras.

Sisno mengatakan, informasi adanya oknum polisi yang melakukan jebakan dalam bentuk razia narkoba bermula dari SMS (pesan singkat) yang beredar di masyarakat. "Meski hal itu baru gosip, kita mewaspadai adanya praktik seperti itu yang dilakukan oknum polisi," ujar Sisno kepada Warta Kota, kemarin malam.

Dia mengatakan, sebaiknya masyarakat berani memerangi kebatilan. Artinya, jika memang ada warga yang dituduh membawa narkoba sedangkan dia sendiri merasa barang tersebut bukanlah miliknya, orang tersebut harus berani menolak atau membantah tuduhan itu. "Jika di mobil kita ditemukan barang seperti narkoba, sedangkan barang itu bukan punya kita, harus berani mengatakan kepada oknum petugas bahwa barang itu bukan milik kita," ujar Sisno.

Masyarakat juga harus menolak jika diperintah petugas untuk memegang barang tersebut. Bila perlu, masyarakat harus berani menanyakan surat tugas dan identitas petugas yang melakukan pemeriksaan. "Memang sampai sekarang belum ada laporan resmi adanya dugaan tersebut," katanya.

Perwira tinggi Polri ini menjelaskan, ada indikasi informasi tentang kasus pemerasaan dengan modus operasi narkoba dilakukan pihak tertentu untuk meraup keuntungan. "Saya tidak mau menyebut siapa di balik penyebaran SMS ini, tapi bisa saja untuk kepentingan bisnis,"tandasnya.

Namun, Polri tetap menyelidiki setiap informasi yang berkembang di masyarakat. Bahkan katanya, jika benar ada oknum petugas yang melakukan praktik seperti itu, segera laporkan ke petugas propam, akan ditindaklanjuti. "Kalau memang ada polisi nakal, harus ditindak sesuai aturan yang berlaku. Kalau merasa polisi milik kita, ya masyarakat harus ikut memperbaiki agar citranya semakin baik," tandasnya. (Warta Kota/Soewedia Henaldi)