Herkules Sang Preman

SETELAH Komandan Polisi Militer (PM) Mayor Alfredo Alves Reinado muncul di Metro TV dalam program Kick Andy pada 24 dan 27 Mei lalu, Minggu (10/6) lalu, dalam program yang sama muncul Hercules Rosario de Marshal.

Dua-duanya adalah putra kelahiran Timor Leste (TL), yang menjadi TBO (Tenaga Bantuan Operasi) TNI di Timor Timur (Timtim) saat pergolakan dulu. Bedanya, Alfredo menjadi tentara, Hercules menjadi raja preman di Jakarta, ibu kota negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Barangkali bagi warga TL yang sempat menonton tayangan Hercules dalam program Kick Andy, Minggu (10/6) lalu, mengenal lebih jauh sepak terjang seorang Hercules. Rasanya tidak percaya Hercules preman yang paling ditakuti, setidaknya di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tubuhnya tidak begitu tinggi. Badannya kurus. Hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Sedangkan tangan kananya sebatas siku menggunakan tangan palsu. Sementara bola mata kanannya sudah digantikan dengan bola mata buatan.

Tapi setiap kali nama Hercules disebut, yang terbayang adalah kengerian. Banyak sudah cerita tentang sepak terjang Hercules dan kelompoknya. Sebut saja kasus penyerbuan Harian Indopos gara-gara Hercules merasa pemberitaan di suratkabar itu merugikan dia. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antar-preman.

Belum lagi sejumlah tawuran antar-geng yang merenggut korban jiwa atau luka-luka. Sejak pertengahan 80-an kelompok Hercules malang melintang di kawasan perdagangan Tanah Abang. Tak heran jika bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Hercules identik dengan Tanah Abang.

Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim (kini Timor Leste) 45 tahun lalu ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok Hercules sering memimpin langsung. Pernah suatu kali dia dijebak dan dibacok 16 bacokan hingga harus masuk ICU, tapi ternyata tak kunjung tewas. Bahkan suatu ketika, dalam suatu perkelahian, sebuah peluru menembus matanya hingga ke bagian belakang kepala tapi tak juga membuat nyawa pemuda berambut keriting ini tamat. Ada isu dia memang punya ilmu kebal yang diperolehnya dari seorang pendekar di Badui Dalam.

Boleh percaya, boleh tidak. Di Kick Andy Hercules mengungkapkan awal mula dia masuk ke Tanah Abang, salah satu wilayah paling keras di Jakarta. Untuk mendapat pengakuan, waktu itu dia harus mengalahkan kelompok-kelompok penguasa di sana.

Hampir setiap malam pertarungan demi pertarungan harus dia hadapi. “Waktu itu saya masih tidur di kolong-kolong jembatan. Tidur ngak bisa tenang. Pedang selalu menempel di badan. Mandi juga selalu bawa pedang. Sebab setiap saat musuh bisa menyerang,” ungkapnya.

Ternyata, di balik sosok yang menyeramkan ini, ada sisi lain yang belum banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran. Begitu juga ketika terjadi bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan pakaian. Soal beras, memang tidak menjadi soal baginya karena Hercules memiliki tujuh hektar sawah di daerah Indramayu, Jawa Barat. Bahkan juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini.

Maka jangan kaget jika Hercules menyekolahkan ketiga anaknya di sebuah sekolah internasional yang relatif uang sekolahnya mahal. Bukan Cuma itu, ketika Lembaga Pendidikan Kesekretarisan Saint Mary menghadapi masalah, Hercules ikut andil menyelesaikannya, termasuk menyuntikan modal agar lembaga pendidikan itu bisa terus berjalan dan berkembang.
Hercules pun aktif duduk sebagai salah satu pimpinan di situ. Di Kick Andy, misteri tentang tokoh yang selama ini lebih dikenal namanya ini terkuak. Termasuk masa kecilnya ketika menjadi TBO TNI di Timtim saat pergolakan dulu.

Walau bertahun-tahun mengembara di negeri orang, tapi sosok Hercules tetap berpegang teguh pada nilai-nilai budaya TL. Hal ini terlihat jelas saat sejumlah armada Koran ini bertandang ke kediamannya yang terletak daerah Kebun Jeruk, Jakarta, pada medio Juni 2004. Kedatangan armada STL yang dikomandoi Godinho Barros, yang tidak lain adalah saudara sepupu Hercules diterima dengan penuh kekeluargaan.

Dalam kesempatan itu, Hercules menceritakan pengalamannya kepada armada STL dan berjanji suatu ketika akan berkunjung ke tanah kelahirannya. Kapan Hercules berkunjung ke negara baru TL? Kita tunggu jawaban dari Hercules. */ale/sel/vam

Dikutip dari Harian Suara Timor Lorosae….

Herkules Preman Di Tangkap

Hercules, pimpinan kelompok pemuda, kembali meringkuk di ruang tahanan Polrestro Jakarta Barat, Jalan S Parman, Slipi, Jakarta Barat. Hercules ditangkap polisi karena diduga terlibat aksi pengeroyokan dan penusukan di Hotel Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (7/11) malam.

Polisi mencokok Hercules dan tujuh anak buahnya seusai peristiwa keributan yang membuat gempar karyawan dan pengunjung hotel yang letaknya hanya sekitar 1 km dari Mapolrestro Jakbar itu.

Jumat malam, seorang warga bernama Abraham Sugeng alias Deni dikeroyok belasan orang. Selain menderita luka pukul, Abraham juga tertusuk senjata tajam di tubuhnya. Abraham hingga kemarin masih terbaring di RS Pelni, Jalan Petamburan, Jakbar.
Menurut Kapolrestro Jakbar, Kombes Iza Fadri, Hercules ditetapkan sebagai tersangka pengeroyokan. ”Berdasarkan rekaman kamera CCTV Hotel Peninsula, Hercules terlihat ada di tempat kejadian,” ujar Iza, Minggu (9/11) siang.

Iza mengatakan, latar belakang pemukulan terhadap Abraham berawal dari masalah utang-piutang. Hercules dan anak buahnya mendapat perintah dari seseorang untuk menagih utang kepada Abraham yang jumlahnya lebih dari Rp 100 juta. Namun, Abraham belum bisa melunasi utang itu dan Abraham pun dipukuli dan ditusuk.

Polisi yang mendapat laporan ada keributan di Hotel Peninsula langsung melakukan penggerebekan. Delapan orang ditangkap, termasuk Hercules. Sementara enam orang lainnya masih dalam pengejaran.

Penangkapan Hercules oleh polisi bukan yang pertama kali. Pertengahan 2007, Hercules bersama sejumlah anak buahnya juga ditangkap petugas Polrestro Jakbar. Saat itu, Hercules dkk terlibat aksi pengancaman terkait sengketa tanah di Kaliederes, Jakbar.
Sementara itu, Hercules mengatakan, seharusnya polisi tidak menangkap dirinya. Anak buahnya sama sekali tidak terlibat aksi pengeroyokan. Dia datang ke Hotel Peninsula justru untuk melerai pemukulan yang dilakukan beberapa rekannya. ”Saya datang untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Sebab, malam itu sudah ada seorang korban yang terluka dalam peristiwa itu,” ujar Hercules.

Penahanan Hercules membuat penjagaan di Mapolrestro Jakbar diperketat. Beberapa personel Brimob disiagakan untuk membantu pengamanan reguler. Anggota brimob dilengkapi senjata laras panjang.
Berantas preman

Sementara itu, Polrestro Jakarta Pusat berjanji akan memerangi dan memberantas segala bentuk premanisme dan perjudian yang terjadi di wilayahnya. ”Kami benar-benar serius dalam memberantas premanisme dan perjudian karena merupakan penyakit masyarakat yang meresahkan. Dan kami tidak kenal kompromi,” tutur Kapolrestro Jakpus, Kombes Ike Edwin.

Menurut Ike, untuk mewujudkan wilayah Jakarta Pusat yang aman, selama tujuh hari sejak 2 November 2008, pihaknya gencar menggelar operasi terhadap preman dan tempat-tempat perjudian. Dalam operasi tersebut, 640 preman berhasil ditangkap. ”Dari jumlah itu, 54 orang di antaranya ditahan karena terbukti melakukan tindak kejahatan” ujarnya.

Para preman tersebut ditangkap di beberapa tempat, seperti di pasar-pasar, stasiun KA, terminal bus, perempatan, kawasan Monas, serta di pusat perbelanjaan. Selain menangkap preman, jelas Ike, pihaknya selama tujuh hari itu juga menangkap 55 pejudi.

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 70 rekan Herkules datang ke tahanan Markas Kepolisan Daerah Jakarta siang ini (26/12). Mereka berkumpul di halaman parkir menunggu untuk menjenguk secara bergantian. ?Tak ada niatan selain itu,? kata Tino, salah satu rekan Herkules dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Menurut Tino, mereka tak hanya datang dari Pasar Tanah Abang, tapi juga dari Bekasi dan Kebon Jeruk, serta tempat lainnya. Istri dan tiga anak Herkules serta penasihat hukumnya turut serta.

Saat ini sejumlah rekan, istri, dan penasihat hukum Herkules sudah masuk untuk menjenguk. Dua dari tiga anaknya sudah selesai. Menurut Ferdinand Herkules, 5 tahun, ?Bapak kangen sama saya. Bapak tidak pesan apa-apa.?

Sedangkan kata Tino, rekan yang baru saja menjenguk, ?Keadaan fisik Herkules tampak sehat.?
EMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 70 rekan Herkules datang ke tahanan Markas Kepolisan Daerah Jakarta siang ini (26/12). Mereka berkumpul di halaman parkir menunggu untuk menjenguk secara bergantian. ?Tak ada niatan selain itu,? kata Tino, salah satu rekan Herkules dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Menurut Tino, mereka tak hanya datang dari Pasar Tanah Abang, tapi juga dari Bekasi dan Kebon Jeruk, serta tempat lainnya. Istri dan tiga anak Herkules serta penasihat hukumnya turut serta.

Saat ini sejumlah rekan, istri, dan penasihat hukum Herkules sudah masuk untuk menjenguk. Dua dari tiga anaknya sudah selesai. Menurut Ferdinand Herkules, 5 tahun, ?Bapak kangen sama saya. Bapak tidak pesan apa-apa.?

Sedangkan kata Tino, rekan yang baru saja menjenguk, ?Keadaan fisik Herkules tampak sehat.?

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani kemarin mengatakan bahwa polisi telah menetapkan Herkules sebagai tersangka utama dalam kasus penyerbuan kantor harian Indopos di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta.

JAKARTA -- Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani kemarin mengatakan bahwa polisi telah menetapkan Herkules sebagai tersangka utama dalam kasus penyerbuan kantor harian Indopos di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta.

Menurut Firman, Herkules dan 12 anak buahnya resmi menjadi tahanan Polda Metro Jaya mulai kemarin. Polda berjanji akan melakukan penyelidikan secepatnya. "Targetnya, dalam satu bulan, berkas pemeriksaan sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum," Firman berjanji.

Herkules ditangkap oleh petugas Kepolisian Resor Jakarta Selatan pada Kamis (22/12). Ia lalu diserahkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat (23/12) dini hari. "Herkules diperiksa mulai pukul 02.00," kata juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar I Ketut Untung Yoga Ana, kemarin.

Menurut Ketut, Herkules menjadi tersangka utama lantaran bertindak sebagai komandan penyerbuan. Polisi juga memeriksa 12 anak buah Herkules yang ikut menyerbu untuk menyelidiki adanya penggunaan senjata tajam dan senjata api dalam aksi itu. Pemeriksaan Herkules dan belasan anak buahnya ditangani Unit Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya pimpinan Ajun Komisaris Besar Polisi Firli Bahuri. Selain itu, polisi meminta keterangan 12 orang saksi dari Indopos.

Kasus penyerbuan Indopos pada Selasa (20/12) telah memicu reaksi pekerja pers. Sekelompok jurnalis yang tergabung dalam Solidaritas Pers Antipremanisme kemarin menggelar unjuk rasa di Markas Besar Kepolisian RI. Kelompok yang terdiri atas Aliansi Jurnalis Independen, Lembaga Bantuan Hukum Pers, Dewan Pers, dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia ini meminta polisi bertindak tegas kepada para pelaku kekerasan terhadap pekerja pers.

Mereka diterima Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Komisaris Besar Anton Bachrul Alam. Bachrul mengajak pers turut memantau penanganan kasus penyerangan kantor Indopos. "Ajakan itu kami sambut baik. Kami ingin melihat Herkules masuk sel," kata koordinator aksi, Ulin Niam Yusron.

Tindakan tegas, menurut Ulin, akan menjadi sinyal kuat bahwa polisi sungguh-sungguh menangani kasus premanisme. Langkah ini juga diharapkan dapat membuat jera para preman sehingga tidak lagi menyerang kantor media massa.

Di Surabaya, Jawa Timur, unjuk rasa serupa digelar oleh sekitar seratus wartawan di depan Balai Pemuda Surabaya. Mereka menyatakan perang melawan segala bentuk premanisme terhadap pers.

Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia di Surabaya, Iman Dwianto Nugroho, mengatakan, premanisme yang menimpa wartawan Indopos menunjukkan bahwa kekerasan terhadap wartawan merupakan ancaman serius. "Polisi jangan takut kepada Herkules. Jangan biarkan preman menjadi penguasa di negeri ini," katanya. l YULIAWATI | YUDHA | WAHYU D | SUNUDYANTORO

Sumber: Koran Tempo, Sabtu, 24 Desember 2005

Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera Kematian Para Teroris Indonesia



Sepekan lalu, terpidana bom Bali Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera, dieksekusi mati. Serangkaian cerita, mengitari kematian ketiga bomber. Cerita yang mengarah pada pembangunan asumsi untuk menegaskan kesyahidan para pelaku bom.

Cerita tersebut muncul dari inner circle ketiga terpidana bom Bali I, baik oleh keluarga maupun para simpatisan tiga terpidana mati bom Bali. Cerita seperti terciumnya bau wangi di ketiga jenazah, burung gagak di atas rumah ketiga terpidana, hingga muka senyum di ketiga jenazah terpidana mati tersebut.

Cerita-cerita tersebut pada akhirnya dikaitkan dengan status kesyahidan ketiga terpidana mati. Artikel di muslimdaily.net menguatkan cerita soal kesyahidan ketiga terpidana.

Disebutkan tentang kesaksian para penakziah di rumah ibu Tariyem. Ketika keranda jenazah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. "Allahu Akbar. Itu bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid," ujar Abdul Rachim, salah seorang tamu yang melihat ketika kafan dibuka.

Tidak hanya itu, Rachim menegaskan, ketika kain penutup wajah Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat.

Untuk memperkuat cerita-cerita tersebut, telah beredar di internet perihal wajah ketiga terpidana mati. Foto tersebut seakan menegaskan argumentasi kesyahidan ketiga pelaku bom Bali yang menewaskan 202 orang tersebut.

Guru besar ilmu syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Hasanudin AF menegaskan dalam Islam tidak ada soal penanda kesyahidan seseorang. “Sejak zaman nabi, tidak ada soal tanda-tanda kesyahdian seseorang seperti buruk gagak, dan bau wangi,” katanya

Menurut dia, kesyahidan bisa dilihat dari aspek dunia dan akhirat. Menurut dia, jika merujuk syahid era rasulullah, seseorang mati syahid ketika terlibat kontak fisik dalam membela Islam dan meninggal dalam peperangan. “Seperti para sahabat dulu, gugur dalam keadaan syahid, karena membela agama Allah,” jelasnya.

Terkait dengan cerita yang lebih dekat dengan mitos tersebut, menurut Hasan, hal tersebut adalah tidak benar dan tidak ada dalam literatur agama Islam. “Itu berita bohong yang mengada-ada. Hanya sebagai upaya untuk mendukung apa yang dilakukan oleh Amrozi cs,” katanya.

Terkait dengan pemahaman jihad yang dilakukan oleh Amrozi, menurut dia apa yang dilakukan Amrozi dan kawan-kawan telah merugikan banyak orang. “Jihad Amrozi cs dalam konteks apa,” katanya setengah bertanya.

Bila merujuk teks-teks al-Quran dan al-Hadits, jihad dilakukan dengan harta dan potensi diri yang dimiliki seseorang. Jihad melawan kemiskinan dan kebodohan adalah bagian jihad yang dianjurkan oleh Allah dan Islam. “Jihad dengan harta dan dengan potensi diri itulah yang dianjurkan oleh Islam,” katanya.

Bila merujuk perilaku keberagamaan kelompok Amrozi cs, tampaknya cerita-cerita seputar kesyahidan tiga bomber Bali tersebut seakan paradoksal dengan pemahaman keagamaan yang mereka anut selama ini. Pemahaman keagamaan yang cenderung tekstual, literalis, dan skripturalis yang mengarah pada puritanisme, tapi tiba-tiba saat ini memunculkan cerita yang menjurus mitos. Cerita burung gagak, bau wangi dan keringat di jenazah, sama saja menyebarkan kesesatan berpikir dalam memahami Islam.

1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj. Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba'asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan.

2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat beliau.

3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri 'Mujahid Hacker' Imam Samudera.

4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin, kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.

5. Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror, Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan. Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur


Tentang burung Gagak burung pembawa maut

Saat pemakaman trio Bali bomber usai dieksekusi pekan lalu, banyak bermunculan kejadian tak biasa, yang dinilai sebagian kalangan sebagai pertanda bahwa Amrozi Cs itu telah mati syahid.

Memang dikabarkan ada kejadian aneh saat pemakaman tiga terpidana mati itu, yaitu munculnya tiga burung hitam yang seolah ikut menyambut dan mengantarkan ketiganya ke tempat peristirahatan terakhir.

Belum lagi kabar bahwa saat kafan Imam Samudra dibuka, seketika itu juga semerbak wangi muncul dari jasadnya.

Namun sejumlah ulama mengaku belum ada dalam Quran yang menyebutkan tanda-tanda orang yang mati syahid.

Tapi ketika sebagian kalangan menilai tiga terpidana mati kasus bom Bali itu mati syahid, sontak sebagian kalangan yang lain mematahkan penilain itu, karena Amrozi Cs itu telah mengakibatkan terbunuhnya muslim.


Menurut pandangan KH Sumarkan, dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Amrozi Cs telah melakukan pembunuhan karena di antara korban bom Bali I ada yang beragama Islam.

"Mereka (Amrozi cs) bukan mati syahid karena di antara yang meninggal itu ada yang beragama Islam," kata Sumarkan saat dihubungi, Sabtu (15/11).

Menurutnya, sesuai ajaran Islam sesorang tidak boleh membunuh namun diperbolehkan jika seseorang mempunyai kesalahan yang sama yaitu nyawa dibalas dengan nyawa. "Kenyataannya korban bom Bali tidak punya kesalahan," imbuhnya.

Sementara KH Ghazali Said, pengasuh pondok pesantren An-Nur Wonocolo Gang Mudin, mengatakan mati syahid mempunyai dua kriteria.

"Ada dua kreteria mati syahid yaitu mati syahid dunia (orang yang mati karena kena tabrak atau mati karena melahirkan) yang kedua mati syahid akhirat (mati karena berperang untuk menegakkan kalimat Allah)," terang KH Ghazali Said.

Sedangkan jika Amrozi masuk di antara salah satu kriteria tersebut, baru mereka itu dikatakan mati syahid.

"Warga di Bali itu termasuk Kafir Dzimmi yang seharusnya mendapat perlindungan dari umat Islam bukan malah dibunuh," ungkap KH Ghazali Zaid.

Dengan demikian Amrozi Cs pantas menerima hukuman dari pemerintah karena masuk kategori kerusuhan atau teroris, maka dari itu mereka harus menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.

Burung gagak dikenal sebagai burung setan pembawa maut, diman setiap kedatangannya di tandai dengan kematian, burung gagak sangat senang sekali datang pada kematian penyihir, pembunuh, dan orang jahat lainnya. Begitulah menurut para ahli sufi.


Kekuatan Gaib pada makam Amrozi
dan Mukhlas

'Daya pikat' duo bomber asal Tenggulun, Amrozi dan Mukhlas, memang luar biasa. Meski telah dieksekusi mati, Amrozi cs masih jadi 'rebutan'. Gundukan tanah makamnya kini jadi rebutan para peziarah.

Sejak dimakamkan pada 9 November lalu, makam Amrozi cs yang terletak di Sokoluro, Lamongan, Jawa Timur, memang tidak pernah sepi didatangi perziarah. Namun, kini beberapa orang yang datang tidak hanya sekadar mendoakan arwah Amrozi. Tanah kuburan tersebut juga ikut diangkut sebagai 'oleh-oleh'.

"Selama dua hari ini gundukan tanah yang di kuburan sudah habis diambil para tamu,” kata Ali Fauzi, adik Amrozi.

Dalam sehari, jumlah peziarah yang datang ke makam kedua kakaknya itu bisa mencapai 10-15 orang. Dan hampir semua peziarah mengambil tanah makam Amrozi dan Mukhlas yang dimakamkan berdampingan.

"Satu orang membawa dua kantong plastik. Kalau 15 orang saja berarti sudah 30 kantong tanah," ujar Fauzi.

Karena itu, kini makam Amrozi dan Mukhlas pun dijaga oleh belasan santri dan ustad. Pihak keluarga juga membangun sebuah gubuk yang berada di dekat makam kedua kakak beradik itu. Terlebih, kondisi makam sudah kembali seperti semula.

"Kami menjaga makam karena takut ada orang yang percaya takhayul dengan mengambil kafannya untuk ilmu kesaktian," katanya.

Dalam pandangan paranormal Permadi, fenomena mengambil tanah makam adalah hal biasa. Kalangan yang menganut kepercayaan tertentu adalah pihak yang kerap melakukan hal itu. "Memang kadang tanah itu bisa digunakan untuk jimat ataupun guna-guna," jelas Permadi

Pria yang kerap memakai pakaian serba hitam ini menjelaskan fenomena ini hanya akan muncul sesaat saja. Sebab, Amrozi cs telah digambarkan sebagai pahlawan. Padahal, tanah tersebut, dinilai Permadi, tidak ada gunanya.

"Ini pemahaman orang yang sangat dangkal karena Amrozi sebagai pahlawan dan tanahnya diambil untuk jimat. Mereka tidak mengerti apakah itu kuburan keramat atau bukan," tegas Permadi.


Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Ma'ruf Amin berpendapat tindakan sejumlah peziarah ini sudah termasuk syirik. Sebab dalam tuntunan Islam tidak ada suruhan untuk membawa tanah kuburan usai berziarah. Yang ada dalam tuntutan Islam hanya sekadar berziarah semata.

"Kalau tidak diluruskan pengambilan tanah kuburan itu bisa mengarah ke syirik," kata pria yang menjabat Ketua Komisi Fatwa MUI ini.


Di mata budayawan, Radhar Panca Dahana, adanya insiden ini membuktikan tingkat spiritualitas masyarakat Indonesia rendah. Alhasil, masyarakat secara gampang mengambil simbol atau sosok seseorang secara sembarangan.

"Pengambilan tanah kuburan Amrozi dan Mukhlas merupakan fenomena yang menggelikan. Itu adalah kebodohan kita. Apalagi, para pemimpin agama mengalami krisis, seperti soal perkawinan dan korupsi," kata Radhar.


Radhar menilai pemberitaan televisi mengenai Amrozi cs telah membuat masyarakat terkesima. Amrozi dan Mukhlas disoroti seputar kehidupannya termasuk masalah spiritualnya. Dan inilah yang menyebabkan Amrozi cs terkesan bukan manusia 'biasa'. "TV bertanggung jawab terhadap pendangkalan itu," tegas dia


MUI boleh saja tidak menyikapi fenomena ini secara khusus. Akan tetapi, memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai tuntunan Islam terutama mengenai ziarah kubur hendaknya lebih gencar disosialisasikan. Sehingga fenomena miris seperti ini tidak perlu terjadi lagi.



Angka 911 Untuk Para Teroris

Angka 911 kerap dikaitkan dengan aksi teror. Pasalnya, sejumlah tragedi terorisme kerap terdapat angka 911 didalamnya. Sebut saja di antaranya tragedi pengeboman di World Trade Centre (WTC).

Sebagaimana diketahui, peristiwa yang menewaskan lebih dari 2.000 orang ini terjadi pada 11 September 2001. dari peristiwa itu, kerap disebut istilah tragedi 911, karena terjadi pada tanggal 11 bulan 9.

Selain itu, Indonesia juga pernah digegerkan dengan peristiwa ledakan bom di depan Kantor Kedubes Australia pada 9 September 2004. kendati tanggal dan bulan sama-sama angka 9, namun peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 11.00 WIB. lagi-lagi melibatkan angka 911.

Kasus pengeboman di Jalan Rasuna Said, Jakarta, tersebut juga menimbulkan kontroversi lainnya. Dimana, pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi jumlah korban sebanyak 9 orang. Namun, pemerintah Australia menyatakan bahwa korban ledakan tersebut berjumlah 11 orang.

Begitupun dengan Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ketiga pelaku pengeboman di Bali pada 12 Oktober 2002 ini telah dieksekusi pada tanggal 9 November kemarin. Dalam eksekusi tersebut, muncul pula angka 911, karena pada tanggal 9 dan bulan 11.

Bertahun-tahun mereka mendekam di LP Nusakambangan. Pemerintah memutuskan tanggal 9 November 2008 untuk mengeksekusi ketiganya. Mengapa pemerintah mengeksekusi pada 9 November? Apakah angka 911 memiliki makna dibalik pelaksanaan eksekusi ketiganya?

Triad Cina : Masuk Indonesia :

Meskipun tulisan di bawah ini dimaksudkan untuk mendiskreditkan ABRI atau TNI, namun jelas Triad di Indonesia sudah berakar bahkan sampai ke pelosok seperti gambaran tulisan di bawah ini.

http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1998/04/17/0064.html

Triad Cina, yang disebut-sebut sebagai organisasi kriminal paling
agresif didunia pada saat ini, telah gagal berulang kali untuk membuka
cabang operasinya di Indonesia.

Padahal hampir semua tempat - tempat
penting di dunia telah dirambahya, mulai dari Cape Town di Afrika, Jedah
di Saudi Arabia hingga negara - negara Latin Amerika. Sementara bisnis
di daerah basis operasinya di Amerika dan Eropa, dan terutama
Asia,semakin berkembang, Triad Cina hanya bisa gigit jari melihat
Indonesia.

Ny. Jd. Kue Ta lam (bukan nama sebenarnya) yang kabur dari Indonesia
pada bulan Desember lalu menyusul terjadinya "krismon" menuturkan pada
saya kenapa Triad China gagal di Indonesia. Rupanya ada faktor "ABRI" di
belakang kegagalan tersebut.

Berikut ini kisah nyata yang dituturkan pekan lalu oleh Ny. Janda Kue Ta
Lam dari Perth, Australia, yang kini sedang merintis bisnis esek - esek
(maáf, baca: prostitusi) di negeri kangguru tersebut setelah bisnis
prostitusinya di Mangga besar gulung tikar berhubung krismon.


ABRI, ORGANISASI KRIMINAL PALING DITAKUTI DI DUNIA

Ketika Triad China mulai melirik Indonesia dipertengahan tahun 80an,
markas besar mereka di Hongkong mengirim seorang utusan khususnya ke
Jakarta.

Sebut saja nama utusan itu Tuan Tai Bau, yang dipilih karena
keberhasilannya membuka cabang Triad di Timur tengah dan tentu
kepasihanya berbahasa Indonesia yang dia pelajari di suatu Universitas
di Beijing.

Dengan target membuka cabang resminya di Jakarta paling lama 6 bulan
setelah dia tiba di Jakarta, Tuan Tai Bau optimis bahwa Jakarta akan
dengan mudah dikuasai berhubung besarnya dominasi etnis China di
perekonomian Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa prostitusi,
judi dan penyeludupan pun dikuasai oleh tauke - tauke Cina di Indonesia.

Bagi Triad lahan bisnis terlarang ini belum sepenuhnya tergarap.
Berdasarkan pengalamannya di waktu -waktu sebelumya, seperti pengiriman
amoy - amoy dan ganja ke Jakarta, Triad Cina telah menyadari sedari awal
bahwa keikutsertaan ABRI adalah mutlak demi kelancaran bisnis mereka.

BISNIS PELACURAN.

Maka disusunlah suatu kerangka kerjasama pembagian kerja dan keuntungan
antara triad China dan ABRI, dalam hal ini Paspamres (Pasukan pengawal
Presiden) dan Kodam V Jaya yang secara tradisional memang telah
menguasai lahan bisnis terlarang yang menngiurkan di bilangan Glodok,
Kota, Mangga Besar dan sekitarnya.
Diatas kertas, semua beres - beres saja.
Urusan keimigrasian untuk import amoy-amoy dari Hongkong dan Taiwan akan
ditanggung aman dan lancar. Uang bulanan dan setoran harian untuk markas
Paspampres di Tanah Abang dan centeng -centeng berambut cepak di
Lapangan semua sudah disetujui hitung-hitungannya. Uang untuk imigrasi
untuk urusan perpanjangan visa bagi amoy - amoy itu juga sudah
disepakati besarnya.
Bahkan dana mendadak untuk uang penggerebekanpun sudah ada alokasinya.
Bisnis prostitusi amoy-amoy import dianggap feasible untuk di jalankan
di Mangga Besar, demikian laporan Tuan Tai bau ke kantor pusatnya di
Hongkong.
Tidak sampai 6 bulan dari target mereka sebelumnya, Triad china mulai
mendatangkan 20 amoy putih mulus, tidak hanya dari hongkong dan Taiwan,
tapi juga Bangkok untuk konsumsi tauke - tauke Jakarta.
Minggu - minggu pertama mereka beroperasi, semua berjaln lancar.
Genap sebulan beroperasi, Markas Paspampres di Tanah Abang telah
menerima setoran bulananya yang pertama dan...uang "pengertiannya" bagi
pengadaan baju seragam dan sepatu olah raga anggota - anggota
Paspampres. "Pengertian"nyapun dipenuhi, tentu saja.
Dipertengahn bulan kedua, Bapak Anu, demikian nama samarannya, utusan
komandan penjagaan Jl. Cendana menemui Tai Bau di Mangga besar untuk
meminta "pengertiannya" bagi biaya homestay putri sulung komandan di
Sydney Australia. Tanpa ba bi bu, permintaan itu langsung saja
"dimengerti".
Selanjutnya, dapatlah ditebak, permintaan "pengertiannya" yang lain lain
datang bertubi-tubi. Mulai dari sumbangan HUT ABRI, HUT GOLKAR,
sumbangan Tujuh belas Agustusan, sumbangn naik haji ibu mertua komandan
grup A, biaya renovasi kolam renag di komplex markas Paspampres di Tanah
Abang, pembangunan pompa besin terpadu milik koperasi Paspampres di
tanah Abang, hingga "partisipasinya" dalam bakti sosial ibu - ibu dharma
wanita Paspampres.
Hitung punya hitung, pungutan "proteksi" yang diminta ABRI yang semula
diperkirakan dapat tertutupi dengan hasil jualan daging mentah itu telah
membengkak sedemikian rupa.
"Rugi besar," kata Ny. Kue Ta Lam, menirukan keluhan si Tuan Tai Bau.
Belum lagi penghasilan ynag hilang selama ini, berhubung amoy-amoy
mereka juga dipakai oleh petinggi - petinggi ABRI dalam rapat rapat
mereka di daerah Puncak.
Setelah enam bulan beroperasi, telah sampailah pada titik tertentu
ketika uang pungutan dari ABRI agak "seret" dipenuhi.
Celakalah akibatnya.
Tak ayal lagi, operasi penggerebekan KODAM V Jaya yang biasanya dapat
diselesaikan di tempat, kala itu berhasil menggaruk ke 20 amoy putih
mulus montok tersebut.
Sudah diduga, akhirnya polisi meminta Rp 10 juta perkepala ke Tuan Tai
Bau, bila dia masih mau meneruskan usaha esek - eseknya.
Rupanya Hartono, si raja germo di Jakarta yang menjalin hubung baik
sejak lama dengan Raden Hartono (sekarang mendagri), ada dibalik sikap
rakus polisi itu. Sejak Tuan Tai Bau membuka bordilnya di Mangga Besar,
amoy - amoy singkawang asuhan Hartono lebih banyak "ngangurnya"daripada
dibooking.
"Haya, lo cabut saja dari Jakarta,"kata Ny Kue Ta Lam menirukan
penuturan atasan Tuan Tai Bau, ketika dia melaporkan situasi bisnis
Mannga Besar ke kantor Hongkong.
Beberapa waktu kemudian, berita di surat khabar menyebutkan bahwa
imigrasi mendeportasikan 20 wanita berpassport manacanegara yang
ditangkap basah melakukan praktek prostitusi si bilangan Mangga besar.
Habislah bisnis Tuan Tai Bau sampai disitu.
Kapokkah Triad China ?

JUDI

Bukan bangsa china namanya jika mereka gampang menyerah pada keadaan.
Gagal di prostitusi, tidak samapai setahun kemudian, Tuan Tai Bau sudah
terlihat mondar mandir di Soekarno-Hatta. Kali ini dia datang ke Jakarta
dengan tujuan menggarap ladang judi gelap WNI keturunan yang kala itu
sudah cukup menjamur, namun masih berskala ratusan juta rupiah, kecil
-kecilan.
Markas besar di Hongkong optimis, sumbangan, pungutan dan biaya
"pengertian" yang kebangetan diminta oleh ABRI dapat tertutupi dengan
mudah dari keuntungan usaha judi yang berlipat kali lebih besar dari
bisnis prostitusi.
Maka beroperasilah Tuan Tai Bau di Jl. Gadjah Mada, dengan berkedok
permainan ketangkasan.
Keuntungan yang gila - gilaan, dengan omzet ratusan juta rupiah
permalamnya, membuat apa saja permintaan Tanah Abang ataupun Cawang
(markas Kodam V Jaya) segera dipenuhi, termasuk import peralatan fitness
super lengkap untuk latihan otot - otot para pengawal presiden.
Dengan keuntungan besar ini, Triad China memutuskan membuka cabang rumah
judi mereka ynag kedua di daerah Pluit setengah tahun kemudian.
Sayang seribu sayang, langkah pembukaan cabang baru ini menyadarkan ABRI
bahwa pungutan yang mereka garuk selama ini ternyata terlalu kecil
dibanding besarnya keuntungan yang digaruk Triad china.
Tanpa tedeng aling - aling, utusan Tanah Abang megajukan suatu konsep
bagi hasil 50-50 dan memaksa menempatkan orang - orangnya langsung
sebagai asisten kasir.
Keputusan itu , bagaimanapun harus dijalankan dan terpaksa disetujui
Triad China dengan harapan praktek dilapangan nantinya bisa "diaturlah".
Pada sebulan pertama, keuntungan kotor 50 % yang didapat Triad china
tentu saja masih harus dipotong dengan berbagai sumbangan dan
"pengertiannya"yang dipungut ABRI, seperti biasanya tentu.
Menginjak bulan ketiga, keuntungan Triad china semakin menipis dengan
datangnya rumah judi baru dengan "backing" Polda Metro Jaya tepat di
Jalan yang sama.
Sebulan kemudian, untuk pertama kalinya, Triad china harus tekor dengan
dibolehkannya pungutan yang dilancarkan oleh Pemda DKI atas seizin
Paspampres.
Tak tahan lagi dengan itu semua, Triad China mulai mengindikasikan untuk
hengkang dari Jakarta jika keadan bertambah buruk.
Apa reaksi Paspampres ?
Penggerebekan pun dilakukan, ratusan penjudi yang hampir semuanya tauke
-tauke Jakarta dijaring, rumah judi disegel.
Mengingat jasa si Tuan Tai Bau, polisi membebaskannya dari penjara dan
langsung dideportasi ke Hongkong.
Tidak sampai sebulan kemudian, rumah judi beroperasi kembali, hanya kali
ini berbeda pengelolanya, seorang WNI kelahiran Bandung.

KAAPOK

Sebelum krismon terjadi, di awal 1997, Tuan Tai Bau terlihat sedang
asyik makan malam di Furama restaurant di Kota.
Apakah dia sudah memulai bisnisnya lagi di Jakarta ?
Tuan Tai Bau mengaku pada Ny. Janda Kue Ta Lam bahwa dia hanya singgah
di ibu kota untuk meng"escort" imigran ilegal dari China daratan yang
ingin mengadu nasib di Jakarta. Menurut pengakuannya, sesekali, ia juga
mampir di Jakarta untuk menjemput amoy amoy Singkawang untuk keperluan
konsumsi hdung belang di Taiwan dan Hongkong. Itupun tidak rutin.
Ketika ditanya kenapa tidak meneruskan usaha prostitusi dan judi nya di
jakarta yang sedang booming itu, Tuan Tai Bau berkata;
"Ah kita sih engga ada apa-apnya dibanding ABRI. Kalau ditanya
organisasi keriminal mana ynag paling disegani di dunia, jawabannya
bukan Yakuza ataupun Mafia Amerika atau Itali. Tapi ABRI lah organisasi
kriminal nomor satu didunia. Ennga lagi lagi deh urusan sama mereka.
Seganas ganasnya Triad, kita masih punya etiket dan peraturan, sementara
ABRI....aujubilah min zalik.. Kaaapoook oe."

Rosi Sibulu bulu Detektif pemburu rambut cepak

Lee Chin Kiat : Agung Podomoro Group :

Apartemen Mediterania Garden Residence yang menjulang di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, rupanya menyimpan sejumlah sengketa. Baru saja vonis terhadap sembilan bersaudara terkait dengan penipuan dan penggelapan menyangkut lahan lokasi apartemen itu, terungkap lagi kasus rangkaiannya yang mungkin lebih menghebohkan. Pasalnya, rangkaian kasus ini dapat menjadi skandal yang melibatkan nama beberapa jaksa dan pengusaha properti group Agung Podomoro terkemuka, Trihatma K Haliman.

Dalam sidang yang berlangsung Kamis, (11/8), majelis hakim yang diketuai MD Pasaribu memvonis sembilan bersaudara anak-mantu almarhum Munawar bin Salbini dengan hukuman berkisar antara satu bulan 15 hari hingga dua tahun. Agus Munawar kena hukuman dua tahun penjara, satu tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa. Sedangkan adik-adiknya, terdakwa Mulyani dan Agustina dipidana 10 bulan, sementara Sechbudin dan Rachmawati 4 bulan. Hukuman yang lebih ringan dikenakan kepada Bunyani Munawar, Rachmaningsih, Rachmamulyani serta Zubaedah (Ida isteri Agus Munawar)dengan masing-masing 1 bulan 15 hari.


Hakim Ketua Pasaribu mengatakan para terdakwa terbukti telah melakukan penggelapan dalam kaitan penjualan tanah 12,5 hektare di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, lahan yang kini berdiri dengan megahnya Apartemen Mediterania Garden Residence kelolaan kerajaan properti Agung Podomoro. Perbuatan para terdakwa, kata majelis hakim, mengakibatkan korban Lioe Nam Khiong alias Leo menderita kerugian sebesar Rp 5,6 miliar.


Atas putusan itu, para terdakwa menyatakan pikir-pikir, sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fredy SH menerima putusan, meski lebih ringan dari tuntutan yang diajukan. Lantas, tangis pun meledak usai majelis hakim menjatuhkan vonisnya. Para terdakwa saling berangkulan menghadapi status terpidana dan hukuman yang akan menimpa.


Awal dari kasus yang menyeret kesembilan bersaudara ini terkait dengan penjualan tanah seluas 12,5 hektare di kawasan Tanjung Duren. Agus dan isteri serta delapan adiknya adalah ahli waris H Munawar dari isteri kedua sedangkan tanah yang dijualnya itu adalah hak anak-anak H Munawar dari isteri pertama. Pembagian hak waris itu dikuatkan dalam surat hibah Pengadilan Agama tahun 1973. Namun oleh para terdakwa tanah dikuasai, padahal mereka telah menerima bagian berupa tanah di Cengkareng.


Persoalan menjadi semakin rumit setelah Agus Munawar menerima uang Rp 5,6 miliar dari Leo, dan tidak bisa mengembalikan lagi setelah Leo mengetahui bahwa hak tanah itu ada pada ahli waris dari isteri pertama. Agus Munawar pun didakwa telah menipu Leo. Sementara itu, Leo kemudian melanjutkan pelaksanaan jual-beli tanah melalui ahli waris yang sah hingga selesai secara tuntas.


Nah, dalam proses persidangan, disebutkan antara lain Leo menyerahkan dana kepada Agus dalam rangka menebus surat tanah Verponding Indonesia atas nama Munawar bin Salbini ke Bank Universal. Namun, surat tanah Verponding Indonesia itu ternyata menjadi barang sitaan di Kejaksaan Agung terkait dengan kasus korupsi. Sidang tidak menyebutkan dalam kasus korupsi apa surat tanah Verponding Indonesia itu disita.


Belakangan, hasil investigasi menunjukkan bahwa surat tanah Verponding Indonesia itu ada di tangan Kejaksaan Agung dalam kaitannya dengan perkara korupsi Bank Perkembangan Asia pada 1990 silam dengan terdakwa Lee Darmawan Kartarahardja Harianto alias Lee Chin Kiat, yang kala itu menjadi direktur.


Nah, dalam perkara itu, sejumlah aset dan dokumen terkait perkara Lee Darmawan disita oleh Kejaksaan Agung, termasuk dokumen berupa lima surat tanah Verponding Indonesia atas nama M Naseri bin Munawar (satu dokumen) dan empat dokumen yang sama atas nama Munawar bin Salbini.

Rupanya dokumen-dokumen itu memang sudah beralih tangan karena lahan di Tanjung Duren itu memang telah dijual oleh ahli waris Munawar Salbini dari isteri pertama kepada PT Madona Sewing Machine Manufacturer. PT Madona sendiri, salah satu pemiliknya adalah Lee Darmawan yang menguasai 15 persen saham perusahaan tersebut. Kantor PT Madona itu ternyata berada di lantai tiga Gedung Bank Perkembangan Asia, Jl Hayamwuruk 102, Jakarta Pusat.


Nah, belakangan dokumen-dokumen surat tanah Verponding Indonesia itu berada di tangan Stephen Z Satyahadi, Direktur Utama Bank Universal. Pasalnya, Bank Perkembangan Asia yang kolaps memang dibeli oleh Bank Universal (ex Bank Marannu), milik kelompok Astra ketika masih digenggam oleh keluarga William Soeryadjaya. Bank Universal lantas mengembalikan dokumen itu atas permintaan Kejagung pada 28 Agustus 2002.


Lee sendiri lantas mendapat hukuman pidana 12 tahun penjara dan denda Rp 30 juta atau diganti (subsider) enam bulan penjara, serta pidana tambahan membayar ganti rugi sebesar Rp 85 miliar kepada negara cq Bank Indonesia. Namun, dokumen-dokumen milik PT Madona ternyata bukan merupakan barang sitaan dalam perkara Lee Darmawan. Alasannya, jaka dalam perkara ini tidak mengajukan surat tanah Verponding Indonesia sebagai barang bukti di persidangan.


Selanjutnya, pada 2003 PT Madona meminta dokumen-dokumen itu dari Kejagung. Namun, permintaan ini belum dikabulkan hingga terbetik berita bahwa Kejagung menyerahkan surat-surat Verponding Indonesia itu kepada ahli waris Munawar bin Salbini melalui pendekatan Leo Darmawan alias (Lioe Nam Kiong). Penyerahan itu dilakukan dengan membayar pengganti kerugian negara sebesar Rp 400 juta atas nama Lee Darmawan. Di sinilah agaknya pangkal skandalnya.


Pasalnya, Lee Darmawan maupun PT Madona tak pernah memberi kuasa kepada Leo untuk membayar ganti rugi. Lagi pula, dokumen berupa surat-surat tanah Verponding Indonesia itu bukan merupakan barang bukti yang tercakup kerangka ganti rugi dalam perkara korupsi Lee Darmawan. Keanehan juga muncul menyangkut nilai ganti rugi sebesar Rp 400 juta yang dibayarkan Leo, padahal pidana denda Leo sebesar Rp 30 juta dan pidana tambahan berupa ganti rugi mencapai Rp 85 miliar.


Yang pasti, Leo berhasil mendapatkan dokumen-dokumen itu dari Kejaksaan Agung pada Maret 2003. Dalam hal ini diduga Leo merekayasa sebagai kuasa dari Lee Darmawan. Sementara pada Juli 2002, Leo membuat akta perjanjian di depan notaris Maria Julie B Wilar dengan sembilan bersaudara ahli waris Munawar Salbini yang menjadi terpidana pada 11 Agustus 2005 itu.


Di sini tercium keterlibatan sejumlah Jaksa dalam memperlancar upaya Leo untuk menguasai tanah itu. Apalagi para jaksa itu meminta Lee Darmawan bersedia menerima uang pengganti sebesar Rp 400 juta. Namun Lee Darmawan dengan tegas menolak uang itu. Mana mau dia, mengingat harga lahan yang kini berdiri di atasnya Apartemen Mediterania Garden Residence itu sudah berlipat-lipat.


Sebenarnya, pihak PT Madona dan Leo serta ahli waris Munawar Salbini sudah beberapa kali bertemu antara 2003-2004. Dalam pertemuan itu PT Madona menginginkan ganti rugi sesuai dengan nilai jual objek tanah lahan yang menjadi persoalan. Namun pertemuan menamui jalan buntu karena Leo keberatan pertemuan itu dihadiri oleh Yayasan Tridaya, kuasa hukum Bank Indonesia.


Belakangan, Leo mengalihkan lahan itu kepada Trihatma K Haliman, bos PT Agung Podomoro. Selanjutnya dibangunlah Apartemen Mediterania Garden Residence yang menjulang itu. Namun, tentu saja PT Madona masih akan memperjuangkan haknya.


Masih banyak yang mungkin tersembunyi dalam kasus ini. Selain itu, apa yang akan terjadi dengan para jaksa yang terlibat dalam kasus lahan seluas 12,5 ha di Tanjung Duren itu? Sebagian jaksa yang antaranya pejabat teras Kejagung itu sudah non-aktif bahkan ada yang sudah meninggal. Namun, masih banyak yang aktif malah menangani kasus-kasus korupsi big fish yang ramai sekarang ini. Ironis jika ternyata mereka adalah sapu-sapu yang kotor namun bertugas membersihkan rumah bernama Indonesia.

Bimantara Group dan Bambang Trihatmodjo

Majalah TIME tak sembarangan mengkarikaturkan
tokoh-tokoh dunia. Dalam edisi terbaru pekan ini, majalah bergengsi
Amerika itu menggambarkan Pak Harto sedang memarahi putranya, Bambang
Trihatmodjo. Ini tentulah soal gugatan Bambang Tri ke PTUN Jakarta
terhadap Menkeu RI dan Gubernur BI dalam kasus likuidasi Bank
Andromeda. Bos Bimantara itu digambarkan "menyerah", menangis, dan
kelihatan "sedikit putus asa".

Agaknya, karikatur itu tak pas
benar dengan perkembangan berita soal Bambang Trihatmodjo. Karena,
hanya dua minggu setelah Bank Andromeda miliknya (25 persen)
dilikuidasi, Bambang Tri "membeli izin" dan mengambil alih Bank Alfa.
Tak tanggung-tanggung, putra Presiden Soeharto itu mengambil alih
seluruh saham bank tersebut dari Albert Salim, putra Om Liem alias
Soedono Salim. Bambang Tri membeli 99 persen saham, sisanya dimiliki
adiknya, Siti Hediati Prabowo.

Bambang Tri boleh saja "mundur
selangkah" dengan mencabut gugatan di PTUN Jakarta, tapi siapa bilang
Bambang Tri "menangis". Dalam industri perbankan, Bambang Tri "lolos"
dari Daftar Orang Tercela yang ditetapkan BI untuk para pemilik dan
direksi - walau tak seluruhnya - dari 16 bank yang dilikuidasi.

Dia juga seperti mendapat kemudahan untuk mengambil alih bank lain, sesuatu "kesempatan" yang barangkali tak dimiliki yang lain.

Pengamat
perbankan Sutan Remi melihat bahwa jika deposan Bank Andromeda
diuntungkan dengan "solusi" Bambang Tri itu, maka tak ada yang janggal
dalam pengambilalihan Bank Alfa. Yang penting, ujar Remi, ada win-win
solusi untuk deposan, Bambang Tri, dan juga otoritas moneter (Lihat
wawancara Sutan Remi: "Pemerintah dan Bambang Sama-sama Pintar").

Sementara
itu, mantan CEO Lippobank, Laksamana Sukardi, melihat langkah Bambang
Tri sudah tepat. Sebaliknya, dia melihat bahwa penegakan ketentuan BI
atas bank-bank yang melanggar masih sedemikian tidak transparannya
(Lihat komentar Laksamana Sukardi: "Bambang Tri Tercela? Saya Tak Bisa
Berkomentar").

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Bank Andromeda
melanggar batas maksimal pemberian kredit? Pengamat Rasjim Wiraatmaja
menjelaskan bahwa baik direksi maupun komisaris yang secara sengaja
tidak menaati aturan perbankan, memang bisa kena sanksi pidana. Tetapi,
selama ini BI hanya memberikan sanksi administratif. "Padahal menurut
pasal 49 ayat (2b) UU Perbankan, siapa pun yang melanggar, dapat
dikenai sanksi pidana berupa denda dan hukuman penjara," katanya.

Jika Bambang Tri lolos dari "hukuman" BI, kata Rasjim, itu hanya BI yang
tahu apa sebabnya. "Seperti yang sudah saya bilang, hanya BI yang tahu
siapa saja yang masuk ke dalam DOT, jadi mungkin Bambang dinilai
"bersih", sehingga diijinkan mengambil alih Bank Alfa," katanya (Lihat
wawancara Rasjim: "Mungkin Saja Bambang Tri Dinilai Bersih").

Bambang Tri memang lebih tak "menyusahkan" deposan banknya dalam kasus
likuidasi - dengan mendapat "ijin" BI untuk membayar sendiri
deposannya. Kabarnya dia sudah merogoh kocek sampai Rp 60 miliar untuk
membayari nasabah Bank Andromeda. Tapi, tampaknya, permintaan Bambang
Tri itu juga "diimbangi" dengan ijin untuknya guna mengambil alih Bank
Alfa - bisa saja dengan dalih menampung karyawan Bank Andromeda. Suatu
"kesempatan" yang tak dimiliki bankir lain yang kena tebas likuidasi 1
November lalu.

Agaknya, karena "kesempatan" itulah bisnis Bambang Tri begitu cepat menanjak sejak dia dan kawan-kawannya mendirikan PT Bimantara Citra pada tahun 1981. Bambang bergabung dengan
kawan-kawannya sesama alumnus sekolah Percik (Perguruan Cikini dari SD
sampai SMP) dan SMA Negeri 1 Jakarta, yakni Mochamad Tachril dan Rosano
Barack. Bergabung juga Indra Rukmana, suami Mbak Tutut. Nama PT
Bimantara Citra itu diberikan olah Bambang, yang artinya kira-kira,
siap mengemban tugas yang berat dengan citra yang baik.

Kemudian, mereka -- Bambang, Aling (panggilan untuk Mohamad Tachril), dan Cano
(panggilan untuk Rosano Barack) -- mengajak Peter Gontha yang waktu itu
memimpin sebuah bank asing di Jakarta. Apa saja kegiatan mereka? "Kami
mulai dengan berdagang apa saja, menjadi broker, dan sebagainya," kata
Mochamad Tachril seperti dikutip majalah SWA edisi April 1989.

Usaha mereka terus berkembang dan merambah cepat, mulai dari perdagangan,
broker asuransi, real estate, konstruksi, televisi swasta, perhotelan,
transportasi, perkebunan, perikanan, industri otomatif, industri
makanan, industri kimia, pariwisata dan sebagainya. Menurut catatan SWA
tahun 1989, tak kurang dari 65 perusahaan telah mereka dirikan, 30
perusahaan di antaranya menempatkan Bimantara sebagai pemegang saham
mayoritas.

Tentu saja Bimantara bukanlah satu-satunya induk usaha mereka. Kemudian bersama keempat mitranya itu -- Indra Rukmana, Rosano Barack, Mohamad Tachril Sapi’ie dan Peter F. Gontha -- membangun perusahaan induk lainnya dengan nama PT Bumi Kusuma Prima. Beberapa
perusahaan Bimantara juga "diboyong" ke perusahaan ini, seperti PT Gelatindo Multi Graha (produsen cangkang kapsul), PT Lima Satria Nirwana (keagenan Mercedes-Benz), dan PT Citra Auto Nusantara (Ford).

Banyak proyek baru yang dikelola oleh perusahaan ini. Sebagian di antaranya
adalah proyek-proyek besar . Salah satunya adalah, Bali Turtle Island
Development, yang mengembangkan 1.000 ha kawasan wisata baru di Bali
dengan nilai investasi keseluruhan 2 miliar dollar AS.

Menurut catatan SWA edisi Agustus 1995, ada 26 perusahaan yang bernaung di
bawah payung Bimantara Citra. Diantaranya adalah Rajawali Citra
Televisi, Elektrindo Nusantara, Plaza Indonesia Realty, Nusadua Graha
International, Bima Kimia Citra, Multi Nitrotama Kimia, dan lain-lain.
Kemudian sejumlah perusahaan di bawah bendera PT. Bima Intan Kencana
serta beberapa perusahaan di bawah PT. Bima Kimia Citra, kedua
perusahaan ini berinduk ke PT. Bumi Kusuma Prima.

Disamping Bimantara dan PT. Bumi Kusuma Prima, menurut catatan SWA, Bambang juga
memiliki tak kurang 34 perusahaan pribadi. Termasuk diantaranya adalah
Bank Andromedia atau dengan nama PT. Andromeda Bank. Perusahaan Bambang
tersebut bergerak di berbagai bidang, seperti perdagangan, Perkebunan,
Kehutanan, Kimia, Farmasi, Kontruksi, Properti -
Perkantoran/Pembelanjaan, Real-Industrial Estate, Transportasi, Jasa
dan bidang Keuangan.

Jumlah investasi yang ditanam di seluruh perusahaan tersebut terbagi dua, masing-masing investasi asing dan investasi domistik. Investasi asing totalnya 102 juta dollar AS.
Sementara investasi domestik sebesar Rp 332,7 miliar.

Data "Who is Who" (Harian Ekonomi Bisnis Indonesia, Interactive Edition,
http://www.bisnis.com) menyebutkan, Bimantara kini mempunyai 50
perusahaan. Dengan aset seluruhnya diperkirakan sekitar 555 juta dollar
AS. Tetapi menurut sumber Warta Ekonomi, 25 Nopember 1996, Bimantara
(yang dalam data itu disebutkan Bambang Trihatmojo dan Indra Rukmana
adalah pemilik utamanya), menduduki urutan ke-6 ranking konglomerat
terbesar Indonesia 1995, dengan total aset diperkirakan Rp 2,738
triliun.

Disamping Bimantara, Bambang juga mempunyai usaha lain yang cukup mempunyai prospek, yakni Satelindo, Candra Asri, dan Kanindotex. Satelindo, adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi. Disamping melayani sambungan langsung internasional,
perusahaan ini juga menyediakan layanan satelit. Serta pula layanan
telepon seluler. Di Satelindo, lewat Bima Graha Telekomindo, ia menguasai 45 persen saham.

Sementara Candra Asri dimiliki oleh Bambang, Prajogo Pangestu, dan Henry Pribadi. Perusahaan yang total investasinya Rp 4 triliun lebih tersebut memproduksi ethylene,
prophylene, dan butadiene, masing-masing dengan kapasitas 495 ribu ton,
245 ribu ton, dan 24 ribu ton per tahun. Dengan jumlah tersebut
diperkirakan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pabrik petrokimia
semihilir (antara) di dalam negeri. Bahkan bisa berlebih, sehingga
dapat digunakan untuk diekspor.

Terakhir adalah PT. Kanindotex, perusahaan tekstil terpadu yang didirikan oleh Robby
Tjahjadi. Seperti ditulis SWA, bersama Johannes Kotjo, Bambang Rijadi
Soegomo, dan Wisnu Suwardono, Bambang menguasai mayoritas saham (90
persen) perusahaan itu. Tak kurang, enam perusahaan menjadi pendukung
prabrik tekstil tersebut. Salah satunya adalah PT. Kanindo Success
Textile. Perusahaan ini mengoperasikan 440 ribu mata pintal.

Sementara itu dari catatan Creative Information System of Indonesia (CISI),
1991-1992, disebutkan bahwa Bimantara Grup mempunyai 134 anak
perusahaan. Dengan bidang kegiatan antara lain, perbankan, asuransi,
perhotelan, industri pariwisata, industri kimia, pabrik farmasi,
otomotif, industri pakan ternak, industri kimia pertanian, pabrik
minyak makan, dan beberapa pabrik lainnya. Juga jasa pembangunan ladang
minyak, perkebunan, properti, kontraktor, transportasi laut, udara, dan
lainnya. Serta instalasi telekomunikasi dan distribusi peralatan
telekomunikasi, televisi, dan perdagangan (Lihat tabel 1, tabel 2, dan
tabel 3).

Untuk sebuah perusahaan yang dibangun sejak 1981, alias hanya sekitar 16 tahun, sukses Bimantara tergolong mencengangkan. Tapi, yang selalu jadi pertanyaan luas: adakah sukses itu lantaran kepiawaian seorang Bambang Tri ataukah berbagai "kesempatan" yang
dinikmatinya sebagai anak seorang presiden. Dalam kasus Bank Alfa,
misalnya, agak sukar menampik kesan bahwa "kesempatan" yang
diperolehnya "berdiri di depan" dibandingkan kepiawaiannya mengelola
bisnis.

Kevin Mitnick


Pertanyaan ini muncul saat saya membaca sebuah artikel beberapa waktu lalu,
Apa saya lakukan jika saya adalah Kevin Mitnick ?
yang pertama mungkin saya akan mengobrak-abrik jaringan telepon milik perusahaan telepon indonesia,
biar bisa nelpon gratis, dan yang pasti saya memperkaya diri,
emang sapa sih Kevin Mitnick itu ?
baiklah, jika anda tidak tau siapa kevin mitnick,
saya akan menceritakan beberapa cerita tentang beliau,
sehingga anda akan bisa menebak siapa dia.

Kevin mitnick adalah pemuda kelahiran Amerika, agustus 1963,
pemuda dengan kemampuan luar biasa,
keluarga kevin bukanlah orang berada,
sehingga mengenal komputer dan memperoleh kemampuannya di toko radioshack dan perpustakaan umum tempat dia biasa menghabiskan waktu,
tapi cerita awal seorang kevin mitnick bukanlah cerita baik-baik,
pada umur 17 tahun mulai merasakan dinginnya teralis besi akibat melakukan hacking pada komputer COSMOS (Computer System Mainstrem Operation) milik perusahaan telepon Pasific Bell di Los Angeles,
yang merupakan sentral database telepon Amerika,
dipenjara tidak membuat The Condor ini -id yang digunakan kevin mitnick- jera,
pada tahun 1983 dia dituduh membobol sistem keamanan PENTAGON menggunakan ARPANet melalui terminal kampus USC,
dan lagi-lagi condor harus merasakan dinginnya dinding penjara.

Setelah bebas, kevin mencari kehidupan lain,
dan menghilang dari dunia hacker, tapi hal tersebut tidak berlangsung lama,
karena pada tahun 1987 dia lagi-lagi harus berurusan dengan pihak berwajib,
dia dituduh menyusup perusahaan Santa Cruz Organization, perusahaan software yang bergerak di sistem operasi unix,
pada kasus ini The condor mendapat dakwaan melakukan tindakan yang kurang baik,dan kembali masuk bui selama 3 tahun,
setelah bebas kebiasaan mitnick kembali terulang, dan berurusan dengan pihak berwajib,
akibat melakukan pembobolan dan pembajakan software milik Digital Equipment Corporation yaitu Sistem Operasi VMS,
pada kasus ini mitnick tidak melakukannya sendiri, ia “duet” dengan temannya Lenny
cicicco,
dan diganjar hukuman penjara selama 1 tahun, serta mendapat sebutan dari pengacaranya ‘kecanduan pada komputer yang tidak bisa dihentikan’.

Setelah bebas, mitnick kembali mencoba mejalani hidup normal,
dan bekerja disalah satu perusahaan mailing list di Las Vegas,
tapi saat bekerja di perusahaan tersebut, oleh FBI mitnick dicurigai mengacak-acak sistem komputer Tel Tec Detective,
yang merupakan perusahaan tempat mitnick bekerja,
dan akhirnya membuat The Condor menjadi The Most Wanted Hacker atau buronan nomor 1 FBI,
mitnick harus menjalani kehidupan nomaden, berpindah dari satu kota ke kota lain,
dan selama menjadi buronan tersebut mitnick membobol beberapa perusahaan seperti Fujitsu, Motorola, Nokia, dan Sun Microsystems,
pada Februari tahun 1995 langkah mitnick terhenti oleh FBI,
semua itu akibat usaha FBI dan bantuan seorang hacker yang juga merupakan korban The Condor, yaitu Tsutomu Shimomura,
mitnick tertangkap akibat keteledorannya memakai Layanan penyimpanan dari rekening seseorang yang di bobolnya,
dan layanan tersebut menginformasikan kepada pemilik rekening bahwa rekeningnya sudah over quota,
sebelum ditangkap, mitnick sedang melacak balik orang yang sedang mengejarnya,
tapi pada saat yang bersamaan FBI menjadi “tamu” tak diundang di rumah pelarian mitnick.

Selain menjadi FBI Most Wanted,
mitnick juga diberi gelar oleh The Discovery yaitu Hall of Fame of Hacker,
karena selain menjadi Software Hacker dia juga dikenal sebagai Hardware Hacker,
dan juga mitnick memiliki kemampuan Social Engineering yang bagus,
sehingga dia berhasil mengibuli korban-korbannya,
selama 4 tahun mitnick di penjara, tanpa kepastian hukum, tanpa pengajuan ke pengadilan,
dan pada tahun 2000 mitnick bebas secara bersyarat, yaitu tidak boleh memegang komputer,
setelah 2 tahun pembebasan mitnick baru diperbolehkan menggunakan komputer tapi tanpa jaringan internet,
dan setahun sesudahnya yaitu pada tahun 2003 mitnick baru mengecap akses internet untuk pertama kalinya sejak dia dipenjara.

Saat ini mitnick sudah menjalani kehidupan normal,
dan menerbitkan buku tentang keamanan dan menjadi Best Seller,
serta mendirikan perusahaan konsultan security di http://www.kevinmitnick.com/,
dan tidak perlu lagi harus main kucing-kucingan dengan aparat keamanan,
sekarang anda sudah tau kan siapa kevin mitnick,
yup, dialah Kevin Mitnick The Hall of Fame of Hacker.

dan apa yang anda lakukan jika anda adalah kevin mitnic ?

Catatan Serangan Teroris Indonesia

2000
Bom Kedubes Filipina, Jakarta 2000. 1 Agustus 2000, bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.
Bom Kedubes Malaysia, Jakarta 2000. 27 Agustus 2000, granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
Bom Gedung Bursa Efek Jakarta 2000. 13 September 2000, ledakan mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.
Bom malam Natal 2000. 24 Desember 2000, serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.


2001
Bom Plaza Atrium Senen, Jakarta 2001. 23 September 2001, bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.
Bom Restoran KFC, Makassar 2001. 12 Oktober 2001, ledakan bom mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah. Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak.
Bom sekolah Australia, Jakarta 2001. 6 November 2001, bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.

2002
Bom malam Tahun Baru 2002. 1 Januari 2002, Granat manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
Bom Bali 2002. 12 Oktober 2002, tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.
Bom Restoran McDonald's Makassar 2002. 5 Desember 2002, bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald's Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.

2003
Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta 2003. 3 Februari 2003, bom rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
Bom Bandara Cengkareng, Jakarta 2003. 27 April 2003, bom meledak dii area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan ringan.
Bom JW Marriott 2003. 5 Agustus 2003, bom menghancurkan sebagian hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lainnya mengalami luka-luka.

2004
Bom cafe, Palopo 2004, terjadi pada 10 Januari 2004 di Palopo, Sulawesi menewaskan empat orang. (BBC)
Bom Kedubes Australia 2004, 9 September 2004, ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia, dan Gedung BNI. (Lihat pula: Bom Kedubes Indonesia, Paris 2004)
Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.

2005
Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005
Bom Pamulang, Tangerang 2005, 8 Juni 2005, bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
Bom Bali 2005, 1 Oktober 2005, bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
Pemboman Palu 2005, 31 Desember 2005, bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.

Papua Indonesia Freeport, proses penjajahan


Pengantar

Sebuah artikel yang cukup menarik ditulis oleh seorang pengagum Adolf Hitler. Penulis mengaku sangat tertarik dengan dunia intelijen dan pernah atau masih sedang mencoba menembus lembaga intelijen di Indonesia. Seorang muda yang kreatif dan berhasil mendapatkan coretan bocoran analisa intelijen berkat kecerdikannya.

Saya rasa cukup adil untuk mempercayai pengakuannya telah berhasil memperoleh sejumlah tulisan analisa intelijen dari kantor BIN. Mengapa saya percaya? tidak lain karena saya tahu persis kelemahan BIN yang bisa diibaratkan gudang analisa yang sangat rahasia namun dipelihara bagaikan tempat sampah. Dokumen berserakan tanpa ada prosedur penghancuran atau penyimpanan yang memadai, anggota-anggotanya yang oleh penulis (Abwehrmeister) disebut sebagai punggawa pejaten pada umumnya sudah melupakan prinsip internal security dan cenderung semborono. Kondisi inilah yang memudahkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kelemahan tersebut untuk tujuan yang macam-macam.

Saya jadi ingat perbincangan dengan mantan Kepala BAKIN (KABAKIN) almarhum Letjen (purn) Z.A. Maulani ketika beliau masih bertugas di kantor Sekretariat Wakil Presiden. Menurut beliau laporan BAKIN seperti garbage in garbage out. Menyedihkan sekali bukan?
Isi sebuah laporan intelijen barangkali biasa saja dan bersifat rutin, tetapi karena ia dibuat oleh lembaga intelijen maka tidak selayaknya diperlakukan seperti kertas bungkus pisang gorang.

Tentu perspektif di atas tidak bersifat general, karena masih ada junior-junior saya yang sekarang naik dalam level eselon 1 dan 2 yang benar-benar menjaga prinsip internal security dan berhasil menjalankan tugas dengan begitu baiknya. Untuk figur-figur yang tegas dan punya komitmen tinggi dalam tugas maka tidak ada celah bagi kesembronoan. Dari sisi unsur militer juga demikian ada yang sangat profesional dan ada yang sembrono. Mudah membedakannya unsur militer yang masuk BIN hanya ada dua macam, pertama adalah mereka yang sangat dibutuhkan karena kemampuannya dan kedua adalah mereka yang mengemis segala cara kepada Kepala BIN agar diberikan jabatan karena di militer karirnya tamat.

Kebobrokan organisasi BIN maupun BAIS inilah yang melahirkan seorang Senopati Wirang yang harus menanggung MALU menuliskan BLOG I-I berdasarkan pada pengalaman pahit bertahun-tahun. Pernah saya menulis surat kaleng kepada Presiden Suharto...hasilnya malah pembersihan organisasi dan ancaman-ancaman. Memang saya bukan Ksatria yang terang-terangan menantang sistem, tetapi apalah artinya perjuangan satu suara yang lemah ini. Saya sudah menyaksikan banyak korban berjatuhan bahkan seorang sahabat ada yang sampai di Penjara dan seorang Jenderal Yoga Soegama hanya sempat minta maaf di depan mayatnya setelah sahabat saya sakit sekian lama. Setidaknya sejak saya bergabung dengan Intelijen Tempur, Intelijen Strategis dan Intelijen Sipil dan sampai masa akhir hidup saya ini belum ada yang menyadari siapa saya.

Ah pengantarnya jadi terlalu banyak, habis saya kesal dengan sistem pengamanan yang amat sangat buruk di institusi intelijen Indonesia.


Silahkan disimak artikel dari seseorang yang sangat memimpikan dirinya menjadi seorang agen intelijen.
------------------------------------------------------------------------------------------------

GRAND DESIGN AMERIKA SERIKAT TERHADAP PAPUA
oleh: ABWEHRMEISTER
Menarik kita amati perkembangan kasus Papua, yang diawali dari kasus Abepura (yang menuntut ditinjau ulangnya kontrak karya antara PT.Freeport Indonesia dan pemerintah RI) dan kasus pemberian visa tinggal sementara oleh Australia bagi puluhan orang aktivis Papua Merdeka yang menyatakan adanya genocide di Papua. Mari kita coba mengamati secara lebih seksama kedua kasus tersebut. 

1. Tuntutan peninjauan ulang kontrak karya antara pemerintah RI dan PT.Freeport Indonesia.
Hal ini mulai mendapat perhatian publik setelah terjadi demo besar-besaran oleh sebagian besar unsur masyarakat Papua (baik di Papua maupun di Jakarta) yang menelan korban dari aparat dan dari masyarakat. Mereka menuntut di tinjau ulangnya kontrak karya pengolahan Sumber Daya Alam yang dilakukan PT.Freeport Indonesia, sebuah perusahaan Amerika Serikat. Tuntutan ini dikarenakan selama ini PT.Freeport Indonesia dinilai lalai dalam menangani masalah lingkungan hidup dan PT.Freeport Indonesia dirasa tidak memberi dampak positif secara signifikan kepada masyarakat asli Papua. Hal ini diperkuat oleh adanya laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia yang menyatakan bahwa (pada intinya) telah terjadi degradasi/penurunan kualitas lingkungan hidup di Papua, yang apabila dibiarkan terus menerus akan sangat merugikan Indonesia. Beberapa tokoh politisi dan parlemen Indonesia belakangan angkat bicara dan mengakomodir keinginan masyarakat Papua melalui parlemen. DPR mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kontrak karyanya dengan PT.Freeport Indonesia. Hanya sayang sikap DPR ini hanya melalui pernyataan-pernyataan tokohnya secara parsial, bukan sikap resmi DPR secara institusional sebagai lembaga parlemen Indonesia. Tanpa perlu menjadi seorang expert, kita bisa melihat adanya gangguan terhadap kepentingan Amerika Serikat di Indonesia. Bisa dibayangkan berapa besar kerugian yang dialami PT.Freeport Indonesia (baca: Amerika Serikat) apabila peninjauan ulang kontrak karya tersebut benar-benar terjadi. Sebenarnya peninjauan ulang kontrak kerja sama merupakan HAK Indonesia sebagai negara yang berdaulat penuh atas Papua. Ditinjau dari segi hukum (tentunya hukum Indonesia), pembaruan suatu perjanjian dimungkinkan untuk dilakukan sebelum habis masa berlaku perjanjian tersebut apabila ada hal-hal yang secara prinsipil melanggar UU. Ketentuan ini bisa kita lihat dari pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia (BW) yang menyatakan sebagai berikut :”semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Suatu perjanjian harus dilakukan dengan itikad baik.”
Dari uraian pasal tersebut diatas nampak jelas bahwa suatu perikatan hukum (baca: perjanjian) dapat ditarik kembali (atau diperbarui) apabila mendapat kesepakatan dari kedua belah pihak dan atau pelanggaran terhadap UU yang berlaku. Dalam hal ini UU No.23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Posisi pemerintah dalam hal ini sebenarnya sangat kuat baik secara de facto maupun secara de jure. Pemerintah tidak perlu takut terhadap pencitraan buruk Indonesia di luar negeri. Saya yakin banyak putera-puteri Indonesia yang ahli dalam bidang komunikasi dan pencitraan diri. Masih banyak investor asing lain yang mau menanamkan modalnya di Papua. Dalam kasus ini PT.Freeport Indonesia (baca:Amerika Serikat) jelas-jelas merasa terancam dan merasa terusik posisinya di Indonesia. Logikanya, pasti mereka akan memberikan reaksi yang kita tidak tahu entah apa. Melihat arah kebijakan luar negeri AS yang kental nuansa kapitalisme (baca: kolonialisme) yang dilatar belakangi sumber daya alam (Irak, Blok Cepu, Amerika Latin),bisa dipastikan mereka akan mempertahankan kepentingannya dengan segala cara. Pengalaman kita pada masa pemerintahan Soekarno, dimana AS berencana untuk menduduki Indonesia melalui skenarionya membumi hanguskan CALTEX di Riau untuk kemudian mendarat dan menguasai Indonesia. Kejadian itu pada masa pemberontakan PRRI-PERMESTA pada zaman pemerintahan Soekarno. Saya merasa bersyukur skenario tersebut gagal total dan akhirnya mencoreng muka AS. Bukan tidak mungkin AS akan mempertahankan kepentingannya dengan cara-cara yang sama atau sama sekali baru yang tidak kita duga sebelumnya. Kita harus dapat mengantisipasi potensi-potensi ancaman dimasa datang. Untuk tujuan itulah tulisan ini saya buat.


2. Kasus pemberian visa tinggal sementara oleh Australia terhadap aktivis separatisme Papua.
Kasus ini membuat hubungan bilateral Indonesia – Australia kembali memanas. Indonesia menarik kembali dubesnya, sementara dubes Australia dipanggil Menlu RI untuk menjelaskan sikap pemerintahan Australia. Untuk yang kesekian kalinya hubungan Indonesia – Australia menegang. Masih segar dalam benak rakyat Indonesia bagaimana peran aktif Australia dalam kasus lepasnya Timor-Timur dari pangkuan ibu pertiwi. Belakangan diketahui bahwa motif utama Australia dalam mensponsori kemerdekaan Timor-timur adalah celah timor yang ditengarai kaya akan minyak. Sobat kental AS ini nampaknya telah belajar banyak dari sohibnya itu. Pemberian suaka dan visa tinggal tersebut jelas-jelas tidak mencerminkan sikap dukungan Australia terhadap kedaulatan wilayah NKRI, seperti yang selama ini berulang kali mereka utarakan kepada berbagai media dunia. Sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka memberi dukungan kepada elemen-elemen separatisme di Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari adanya dukungan berupa moril dan materiil dari berbagai parpol Australia terhadap pihak separatis Papua (sebagaimana tercantum dalam temuan data dan fakta yang dibawa oleh tim parlemen Indonesia yang akan sowan ke Australia). Terlebih lagi kita memiliki pengalaman pahit pada masa lalu dalam kasus lepas nya Timor-Timur dari NKRI. Apakah kita akan jatuh dalam lubang yang sama untuk yang kedua kalinya? Saya yakin bahwa ini adalah suatu skenario yang disusun bersama antara Australia dan AS dengan tujuan untuk mengambil alih sumber daya alam yang terdapat di Papua. Indikasinya adalah Australia begitu mengekspos penindasan yang dialami oleh para aktivis separatisme Papua (versi mereka tentunya). Bahkan mereka menuduh telah terjadi genocide di bumi Papua. Ini adalah suatu tuduhan serius yang tidak berdasar. Serius karena istilah genocide merupakan salah satu pelanggaran HAM berat, setara dengan yang dilakukan oleh NAZI Jerman. Tidak berdasar karena tuduhan tersebut tanpa disertai data, fakta dan bukti yang kuat dan meyakinkan. Ini adalah bagian dari skenario panjang AS dan Australia untuk merebut sumber daya alam Indonesia. Selama ini Amerika dikenal sebagai agresor yang mengabaikan norma-norma apapun dalam menjaga kepentingannya diberbagai penjuru dunia. Tidak perlu legitimasi, tidak perlu ada bukti yang kuat, dan sering kali mengabaikan PBB.
3. Alternatif penyelesaian masalah.
Berkali-kali Australia menginjak-injak harga diri dan martabat bangsa Indonesia. Penangkapan nelayan Indonesia, pelanggaran kedaulatan Indonesia di udara oleh AU Australia (boleh tanyakan pada saudara-saudara kita di AURI), lepasnya Tim-tim dari NKRI, pemasangan instalasi rudal yang dapat menjangkau wilayah NKRI, dan sekarang dukungan secara terang-terangan terhadap elemen separatisme Papua (pihak parlemen Indonesia dan kalangan intelijen pasti tahu lebih banyak). Kita semua pasti mahfum bahwa kita tidak bisa berharap banyak dari PBB. Sudah banyak kejadian yang menunjukkan bahwa PBB tidak memihak kepada rasa keadilan masyarakat internasional dan didalam tubuh PBB sendiri ada perbedaan perlakuan terhadap negara-negara anggotanya. Masih adanya hak veto bagi beberapa negara menunjukkan hal ini. Padahal hak veto tersebut sangat tidak relevan dan sangat mencederai asas persamaan kedudukan negara-negara yang berdaulat di dunia. Tidak akan pernah tercapai susunan dunia yang adil, merata dan sejahtera bila PBB (sebagai organisasi internasional yang utama) masih tidak berubah. Sikap Indonesia yang menarik kembali duta besarnya di Australia mencerminkan adanya perhatian yang serius dari pemerintah RI. Kita harus menata ulang kembali hubungan bilateral kita dengan Australia. Saya menyarankan beberapa alternatif penyelesaian disini, yaitu :
§ Secara eksternal
- Melakukan komunikasi bilateral dengan Australia melalui saluran diplomatik secara lebih intensif dan komprehensif dalam konteks Papua
- Mencari dukungan dalam berbagai forum internasional terhadap keutuhan kedaulatan wilayah NKRI (negara-negara Asia-Afrika, ASEAN, PBB,dll)
- Memberikan penjelasan kepada masyarakat internasional bahwa apa yang terjadi di Papua adalah murni masalah intern dalam negeri Indonesia, bahwa tidak ada peristiwa pelanggaran HAM berat (genocide) yang terjadi di bumi Papua seperti yang dituduhkan para aktivis separatisme Papua, bahwa apa yang dilakukan Australia adalah bentuk sikap bermusuhan dan melegalisasi tuduhan pelanggaran HAM berat di Indonesia, bahwa sikap Australia tersebut merupakan suatu bentuk ancaman terhadap kedaulatan sah suatu negara yang dapat menimpa negara mana saja di dunia dan merupakan preseden buruk dimasa datang.
§ Secara internal
- Melakukan pengusutan tuntas terhadap kasus kerusuhan Abepura, Papua.
- Merangkul semua elemen masyarakat Papua untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik bagi bangsa dan negara RI (hal ini lebih sulit dalam hal implementasi di lapangan).
- Mencari bukti keterlibatan asing dalam kasus Papua.
- Para pemimpin bangsa ini agar tidak serta merta mengeluarkan pernyataan yang bersifat tuduhan yang menyudutkan saudara sebangsa sendiri (politisasi). Akan lebih baik jika kita memfokuskan perhatian dan stamina kita untuk mengantisipasi ancaman dari luar. Kasus ini adalah murni masalah harga diri dan martabat Indonesia, tidak perlu kita larut dalam kepentingan politik sesaat.
- Melakukan pemberdayaan intelijen nasional baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini sangat penting artinya untuk menangkal ancaman-ancaman baik dari dalam maupun dari luar. Sebagai contoh, pembentukan aturan hukum yang jelas bagi kalangan intelijen nasional lebih urgent ketimbang RUU APP misalnya.

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat, paling tidak, menimbulkan kesadaran berbangsa dan semoga dalam tataran lebih luas dapat memberikan alternatif wawasan dalam menanggapi sikap Australia. Semoga Tuhan YME melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Amin !!

Bagaimana Caranya Mengabdi dan Menjadi Anggota Intelijen Indonesia?

Saya telah menerima dan mengecewakan entah berapa puluh e-mail dan unpublish comment dari rekan-rekan, mungkin mencapai seratusan lebih yang menanyakan bagaimana menjadi intel, meminta informasi tentang BIN atau bahkan meminta rekomendasi untuk bisa masuk dalam komunitas intelijen Indonesia.

Mungkin sudah waktunya bagi BIN untuk lebih transparan dengan melakukan rekrutmen terbuka yang lebih kompetitif sehingga calon-calon agen yang direkrut benar-benar pilihan. Hal ini tentunya tetap diiringi dengan sistem spotting agen yang tertutup. Dua mekanisme rekrutmen yang memiliki tujuan berbeda sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Menurut saya untuk agen-agen khusus operasional, sistem rekrutmen tertutup dengan spotting berbulan-bulan masih relevan, karena karakteristik agen yang dibutuhkan adalah kemampuan khusus yang unik yang dimiliki seseorang karena pengalaman hidupnya, karena keterampilan khususnya, karena jaring komunikasinya, karena aksesnya, dll. Setidaknya model ini sangat efektif dan tampak tetap menunjukkan bahwa agen yang direkrut cukup handal dan sebagian besar unsur sipil pimpinan BIN mungkin dari model ini, selebihnya sampah.

Sementara agen-agen analis lebih membutuhkan rekrutmen kompetitif yang bisa dilakukan secara terbuka di kampus-kampus terkemuka untuk mendapatkan calon agen terbaik. Seluruh Badan Intelijen di dunia seperti CIA, MI6, MOSSAD, ASIS, dll telah melakukan rekrutmen terbuka sejak lama. Bidang-bidang pendukung seperti teknologi informasi dan peralatan intelijen jelas membutuhkan kemampuan teknis yang tinggi dari lulusan informatika, telekomunikasi, elektronika, dll. Model ini sedikit-demi sedikit juga ditempuh oleh beberapa petinggi BIN yang mencoba mendeteksi calon-calon agen potensial dari kampus, cukup banyak yang menonjol hasilnya dan berhasil menyelamatkan muka BIN dikala krisis, tetapi jumlahnya sangat sedikit.
Sementara mayoritas agen BIN yang direkrut melalui jalur kekeluargaan yang tidak transparan oleh pejabat lainnya hanyalah sampah.

Sistem penyaringan yang ketat dan berlapis mudah saja untuk disusun bila BIN benar-benar ingin melakukan revitalisasi organisasi. Informasi tentang dibukanya kesempatan bergabung dengan BIN hanya dilakukan oleh para pejabat BIN yang akhirnya hanya memasukkan kenalan atau anggota keluarganya. Meski ada jaminan loyalitas, tetapi bagaimana dengan kemampuannya yang sangat terbatas. Sudah saat ketakutan BIN disusupi oleh calon agen yang tidak loyal kepada Negara dan Bangsa Indonesia disingkirkan, karena sekarang Indonesia sudah demokratis, tidak lagi menginteli bangsa sendiri secara intensif demi kepentingan dan kekuasaan politik kelompok penguasa. Tetapi mewaspadai ATHG yang sungguh-sungguh menjadi bahaya bagi rakyat, bangsa dan negara Indonesia.

Kehancuran organisasi BIN sejak akhir era 1980-an, 1990-an bahkan mungkin sampai tahun 2000-an jelas disebabkan oleh buruknya sistem rekrutmen kekeluargaan semacam itu. Meski saya dengar mantan Kepala BIN, Jenderal (purn) AM Hendropriyono telah merancang mekanisme rekrutmen yang lebih baik dan kompetitif serta meningkatkan sistem pendidikan dan pelatihan. Namun fakta bahwa tidak semua calon agen potensial di masyarakat tahu tentang adanya rekrutmen BIN, menurunkan prosentase kemungkinan calon agen terbaik yang terpilih masuk menjadi anggota intelijen.

Semoga para pejabat BIN tergugah untuk melakukan reformasi organisasi.

Sekian

Bidang Studi Intelijen

Apa sebenarnya yang wajib dipelajari dalam studi intelijen secara akademik?

Pertanyaan itu terus menggelitik hati dan pikiran saya sejak Pak Hendropriyono menggagas dan akhirnya mewujudkan sekolah Intelijen setingkat S1 dan S2 beberapa tahun silam. Tanggung jawab dalam mencetak kader intelijen yang memiliki kapasitas kesarjanaan yang tinggi secara akademis terus membayangi sekolah Intelijen. Karena saya tidak bisa ikut campur dalam penyusunan kurikulum maupun penyelenggaraan sekolah tersebut, maka saya akan ungkapkan apa-apa yang wajib dipelajari dalam studi intelijen berdasarkan survey internet dan pengalaman sekolah saya, sbb:


Konteks studi intelijen seyogyanya lebih luas dari studi politik, ekonomi, hubungan internasional, kebijakan luar negeri, hukum internasional, kriminologi, etika, psikologi, dan usaha-usaha negara bangsa dalam memelihara keamanan politik, sosial, ekonomi, dan militer. Dengan kata lain studi intelijen bersifat multidisplin.
Sebagai pondasi, diperlukan studi logika, matematika dan statistik serta dasar-dasar ilmu alam, filsafat manusia dan filsafat ilmu pengetahuan, geografi, dan sejarah dunia.
Sebagai pengetahuan praktis dan teknis perlu dikembangkan spesialisasi khusus seperti bahasa asing, fotografi dan teknologi audio video, ilmu komputer, teknologi komunikasi, dan teknologi sistem pengamanan. 
Sebagai pilihan studi bisa disusun berdasarkan area studies (kajian wilayah/kawasan misalnya Asia Tenggara) atau issues studies (kajian masalah misalnya Terrorisme).
Sebagai studi utama, tentu saja tetap mengajarkan dasar-dasar intelijen mulai dari internal security sampai pada analisa intelijen strategis tingkat advance.

Dalam waktu studi 4-5 tahun tentu saja variasi studi yang bisa disusun dalam sebuah kurikulum studi intelijen bisa diperluas ke bidang-bidang lain yang juga menjadi perhatian intelijen, bisa juga memasukkan studi lingkungan hidup, studi tentang gerakan NGO, studi tentang analisa psikologi (khususnya tentang personality), teori komunikasi beserta teknik praktisnya, dll.

Semoga saja, sahabat Blog I-I yang sedang atau sudah menempuh studi intelijen baik yg S1 maupun S2, juga mendapatkan apa yg saya tuliskan di atas. Karena dengan demikian, saya yakin cukup memadai untuk menjadi dasar dalam melangkah secara mantap dan profesional khususnya dalam melaksanakan tugas serta meningkatkan kapabilitas organisasi intelijen secara umum.


Catatan dari saya tersebut di atas bisa jadi masih sangat kurang. Bila ada yang ingin menambahkan ide silahkan.

Sekian

Eksekusi Amrozi, Imam Samudra.

Malam Mencekam di Desa Amrozi 

 
Pengamanan di Rumah Amrozi 
Lamongan - Sekitar pukul 15.20 WIB, Minggu (9/11/2008) jenazah Amrozi dan Muklas akhirnya dimakamkan di sebuah tanah lapang yang berada di sebelah TPU Tenggulun, Lamongan. Pemakaman kedua terpidana mati bom Bali I ini dipimpin Ustad Abu Bakar Ba'asyir.

Jenazah Amrozi dan Muklas dimakamkan di dalam dua lubang. Kedua lubang liang
lahat itu hanya berjarak sekitar 1 meter. Selain itu, didekat kedua makam ini juga terdapat sebuah tulisan yang ditempel di pohon berbunyi, "Makam Pejuang Islam".

Sebelum dimakamkan, jenazah Amrozi dan Muklas sempat disalatkan di Masjid Baitul Mustaqin yang jaraknya sekitar 15 meter dari rumah ibu kandung keduanya, Hj Tariyem.

Setelah itu, jenazah kembali disemayamkan di Ponpes Al Islam untuk memberi
kesempatan kepada santri dan juga para pendukung yang belum sempat melakukan
salat jenazah.

Dalam pemakaman yang dihadiri ratusan massa pendukung Amrozi ini sempat terjadi insiden kecil. Wartawan baik dari mendia cetak maupun televisi dilarang untuk mengambil gambar prosesi pemakaman. Alasan yang diberikan oleh salah seorang santri, larangan itu merupakan wasiat dari Alamarhum Amrozi.

Jakarta - Amrozi Cs sudah dieksekusi, namun Tim Pengacara Muslim (TPM) tetap akan mempersoalkan adanya dugaan pelanggaran HAM. Pihaknya mendesak DPR RI untuk membentuk tim pencari fakta independen dalam kasus Bom Bali I dan juga
permasalahan sebelum eksekusi.

"Matinya Amrozi Cs bukan berarti perjuangan kita akan berakhir.Kita akan terus berjuang," kata salah satu TPM Fahmi Bachmid kepada detikcom, Minggu
(9/11/2008).

Salah satu pelanggaran yang dilakukan sebelum eksekusi kata dia, para keluarga kesulitan untuk bertemu dengan tiga terpidana mati tersebut dan juga adanya keganjilan dalam persoalan bahan peledak yang digunakan. Hingga saat ini kata Fahmi tidak penjelasan mengenai hal tersebut.

"Kita sudah mendapat surat amnesti internasional mengenai persoalan ini. Kita meminta organisasi advokat untuk menyikapi diamputasinya hak-hak advokat sebagai penegak hukum," tandasnya.

Tiga terpidana mati dieksekusi pukul 00.15 WIB di bukit Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). Amrozi dan Muklas dimakamkan di Desa Tenggulun, Lamongan Jawa Timur dan Imam Samudra di makamkan di Serang, Banten.

Lamongan - Teriakan takbir dikumandangkan oleh pendukung Amrozi dan Muklas mengiring kedatangan Ustad Abu Bakar Ba'asyir di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan,Minggu (9/11/2008). Ba'asyir datang dengan pengawalan ketat dari para pendukung Amrozi.

Suasana ketegangan sedikit terasa saat Ba'asyir tiba. Pasalnya para pendukung Amrozi meminta kepada warga yang ada di jalan desa untuk segera memberikan jalan.

Ba'asyir tiba di Desa Tenggulun pada pukul 13.45 WIB dan langsung masuk ke Pondok Pesantren Al Islam. Simpatisan Amrozi tetap meminta kepada seluruh wartawan untuk tidak mengambil gambar bahkan beberapa kali mereka berteriak, "Kameranya matikan!'

Sementara itu suasana di sekitar tempat pemakamam kedua terpidana mati dipenuhi ribuan warga yang sebelumnya memadati rumah Amrozi dan ponpes. Di calon makam Amrozi dan Muklas terlihat kegiatan membuat nisan dari batu kapur.

Jakarta - Terpidana mati bom Bali I Amrozi cs sudah dieksekusi. Pasca eksekusi mati tersebut, wilayah Indonesia dalam kondisi kondusif. Tidak ada pengamanan yang berlebihan. 

"Secara umum kondusif," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira kepada detikcom, Minggu (9/11/2008). 

Abubakar mengatakan, untuk pengamanan khusus Jakarta diserahkan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman. 

"Hanya fokus di beberapa titik yang rawan seperti pusat perbelanjaan dan kedutaan," katanya.

Pengamanan Kedubes Ditingkatkan

Sementara itu, pengamanan di seluruh kedutaan besar (kedubes) asing di Jakarta ditingkatkan pasca eksekusi Amrozi cs.

"Pengamanan terutama di kedutaan-kedutaan seperti AS, Inggris dan Australia, tapi itupun hanya di depan pagar saja," papar Abubakar.

Abubakar menjelaskan ada tiga tahap pengamanan eksekusi Amrozi cs. Ketiganya yakni pengamanan sebelum eksekusi, saat eksekusi berlangsung, dan pengamanan pasca eksekusi.

Ribuan Orang Iringi Jenazah Amrozi ke Ponpes Al Islam

Lamongan - Jenazah dua terpidana mati, Amrozi dan Muklas alias Ali Gufron, dibawa ke Pondok Pesantren Al Islam setelah disemayamkan di rumah orangtuanya. Saat dibawa, jenazah keduanya dikawal dengan sangat ketat oleh para simpatisan dan pendukung keduanya. Kedua jenazah diangkut dengan dua ambulans pada pukul 12.30 WIB, Minggu (9/11/2008) 

Dari pantauan detiksurabaya.com, ribuan orang mengiring jenazah Amrozi dan Muklas. Terlihat salah satu pengacara dari TPM, Fahmi Bachmid, di antara iringan jenazah.

Jarak antara rumah ibu kandung kedua pelaku peledakan yang menewaskan 202 orang dengan Ponpes Al Islam tersebut sekitar 300 meter. Dan sepanjang perjalanan gema takbir terus berkumandang. Allahu Akbar..Allahu Akbar..terus diteriakkan oleh para simpatisan.

Jenazah Amrozi dan Muklas dibawa ke Ponpes Al Islam untuk memberi kesempatan pada santri dan juga para pendukung yang belum sempat melakukan salat jenazah. Selama perjalanan ke ponpes, para wartawan dilarang mengabadikan. Petugas dari Samapta Polwil Bojonegoro nampak bersiaga selama iring-iringan jenazah.

FPKS: Belajarlah Tidak Kembangkan Radikalisme dengan Kekerasan

Jakarta - Amrozi Cs telah dieksekusi oleh tim eksekusi dari Kejaksaan Agung, Minggu (9/11/2008) sekitar pukul 00.15 WIB. Eksekusi ini diharapkan agar masyarakat tidak mengembangkan radikalisme.

"Diharapkan setelah ini masyarakat Indonesia belajar untuk tidak mengembangkan radikalisme yang menggunakan kekerasan," ujar Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Mahfudz Siddiq dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Minggu (9/11/2008).

Eksekusi terhadap pelaku bom Bali I tersebut juga dianggap sebagai bentuk kepastian hukum. "Kasus ini memberikan kepastian hukum bagi semua pihak, terlepas dari berbagai kontroversi di dalamnya," kata Mahfudz.

Mahfudz berharap, setelah eksekusi ini dilakukan, pemerintah lebih serius menangani radikalisme. "Sementara pemerintah juga lebih serius mengatasi berbagai persoalan potensial menumbuh-suburkan radikalisme," ujar pria kalem ini.

Kepada pihak keluarga, Mahfudz meminta agar mereka ikhlas dan sabar dalam menghadapi cobaan ini.

"Semua niat dan amal dikembalikan kepada Allah, hakim terakhir yang Maha Adil dan tidak pernah salah dalam menghakimi," pungkasnya

Kedubes Australia dan Gedung KPK Diancam Bom

Jakarta - Kedubes Australia kembali menerima ancaman teror bom, bertepatan dengan tuntasnya eksekusi Amrozi cs. Ancaman bom diterima Call Centre Polda Metro Jaya 1717 pukul 11.17 WIB.

"Ada (ancaman bom)," ujar petugas TMC Polda Metro Jaya AKP Sugeng kepada detikcom, Minggu (9/11/2008).

Sugeng mengatakan, ancaman bom tersebut berisi "Sasaran kami Kedubes Australia yang akan kami bom siang ini". 

Tim Gegana Polda Metro Jaya langsung meluncur ke TKP. Hingga pukul 13.00 WIB, petugas masih terus menyisir.

"Gegana masih di lokasi," katanya.

Sugeng menambahkan ada dua ancaman bom yang masuk hari ini. Selain Kedubes Australia, Gedung KPK juga diancam bom. Ancaman bom itu masuk pukul 07.26 WIB dan berisi "Ada bom dekat gedung KPK".

"Namun setelah disisir, nggak ada," katanya.

Sebelumnya pada 4 November 2008, Kedubes AS dan Kedubes Australia diancam bom. Pengancam mengirim SMS ke 1717 Polda Metro Jaya yang isinya "Saya menaruh bom TNT di kawasan Kedubes AS dan Australia". Namun setelah disisir oleh Densus 88, ancaman bom tersebut tidak terbukti.

Pelayat Tumplek di Makam Imam, Sejumlah Pusara Rusak

Jakarta - Ratusan pelayat sepertinya ingin melihat proses pemakaman Imam Samudra dari dekat. Mereka seakan tak peduli dan menginjak-injak makam yang telah ada di pemakaman keramat itu.

Pantauan detikcom, Minggu (9/11/2008) beberapa makam pun rusak. Bahkan beberapa nisan pusara makam di kompleks pemakaman seluas setengah luas lapangan bola itu patah dan berantakan.

Hingga pukul 11.30 WIB, pelayat masih menyemut di pemakaman teroris otak bom Bali I itu. Bergiliran, mereka menyalatkan dan berdoa di sekitar kuburan yang basih basah itu.

Seluruh keluarga Imam telah meninggalkan makam. Sebelumnya, Ibu Imam, Umi Embay Badriyah dan anak Imam, Umar, tak kuasa menahan tangis. Bahkan Umi Embay hampir pingsan.

Pasca Eksekusi Amrozi Cs, Dermaga Wijayapura Kembali Normal

Cilacap - Dua minggu terakhir, Dermaga Wijayapura Cilacap ramai dan dijaga ketat petugas. Kini, setelah eksekusi terpidana bom Bali I Amrozi Cs dan jenazahnya dibawa ke rumah duka, dermaga tersebut kembali normal.

Pantauan detikcom, Minggu, (9/11/2008) pukul 13.00 WIB, beberapa aparat kepolisian dan TNI memang masih berjaga pada jarak 100 meter dari pintu gerbang dermaga. Namun, mereka membiarkan saja pengendara atau warga yang lalu lalang di tempat tersebut.

Pintu gerbang yang dalam seminggu ini selalu tertutup dan dijaga aparat, kini dibiarkan terbuka. Beberapa petugas hanya mengawasi saja warga saat hendak menyeberang dari dan ke Pulau Nusakambangan.

Hampir seluruh wartawan yang selama ini 'ngepos' di dermaga sudah tak tampak lagi. Hanya tinggal satu dua mobil wartawan yang parkir. Tapi pengemudinya atau kru wartawan masih tertidur pulas, karena kelelahan.

"Ya, lega. Sudah kembali seperti semula," tutur salah satu petugas pengamanan Dermaga Wijayapura, Lasiyo.

Mobil-mobil polisi, kejaksaan, atau petugas tak terlihat lagi. Aktivitas penyeberangan resmi dari dan ke Nusakambangan tersebut, benar-benar telah normal.

Laporan Itelijen sekian terima kasih.