Perempuan-Perempuan dalam Hidup Noordin M Top

JAKARTA, KOMPAS.com — Gembong teroris Indonesia, Noordin M Top, adalah orang yang paling dicari polisi. Aksi kejamnya meledakkan bom di sejumlah tempat di Jakarta menewaskan banyak orang tak berdosa. Terakhir, serangan terhadap Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton juga diduga didalangi lelaki asal Malaysia ini.


Nama Noordin mulai dikenal setelah peristiwa Bom Bali I pada tahun 2002. Selama ini polisi telah berhasil menangkah puluhan orang yang terkait jaringan terorisme di Indonesia, tapi selalu gagal menangkap Noordin. Itu artinya, selama tujuh tahun ia menjadi buronan polisi.

Hidup di pelarian tampaknya begitu mudah bagi Noordin. Memang, kita tidak tahu bagaimana perjuangan dia hidup dalam persembunyian. Namun, satu jejak jelas yang ditinggalkan Noordin adalah sejumlah wanita yang berhasil disuntingnya. Dalam pelariannya, Noordin masih sempat menikah dan punya anak. Berapa banyak istri Noordin M Top hingga kini tidak ada yang tahu pasti.

Pascaledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jumat 17 Juli 2009, yang paling santer disebut sebagai istri Noordin adalah Ariani Rahma alias Arina. Kepada Arina, Noordin mengenalkan diri dengan nama samaran Abdul Halim.
Makanya, Arina mengaku sangat shock begitu tahu pria yang dinikahinya pada 2006 itu ternyata teroris yang paling dicari di negeri ini.

Istri Noordin M Top yang dicokok dari rumahnya di Desa Pesuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, itu mengira Noordin adalah seorang guru di sebuah pesantren di Makassar. Noordin sendiri memang jarang di rumah.
Dari pernikahan sirinya dengan Noordin, Arina mendapatkan dua anak, yakni Haula yang berusia 2,5 tahun dan Daud yang masih berusia satu tahun.

Wanita lain di Bogor
Tidak hanya Arina, Densus 88 juga mengamankan seorang wanita yang diduga istri Noordin yang lain. Wanita yang belum diketahui identitasnya ini diciduk dari rumahnya di Cianten, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Wanita ini kemudian diamankan di Markas Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis.

Wanita lain lagi di Riau
Densus 88 juga terus melacak istri Noordin yang berada di luar Pulau Jawa. Persisnya di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Noordin sempat menetap selama satu tahun di daerah ini. Di daerah ini, Noordin menikahi seorang perempuan yang identitasnya belum diketahui. Polisi masih melacak istri dan anak Noordin yang kabarnya pergi ke Malaysia.

Munfiatun al Fitri
Sebelumnya, Noordin juga pernah beristrikan Munfiatun al Fitri. Wanita yang dinikahinya secara siri pada 22 Juni 2004 ini disebut-sebut sebagai istri kedua Noordin. Pernikahan antara Munfiatun dan Noordin berlangsung di Surabaya dengan emas kawin berupa cincin emas dan akad nikah menggunakan bahasa Arab.
Dari sekian istri Noordin, Munfiatun mungkin yang paling apes. Ia harus mendekam selama tiga tahun di penjara pada Juni 2005 atas dakwaan bersalah menyembunyikan pelaku pengeboman. Munfiatun dibebaskan pada 2007. Saat berada di penjara, ia mengajukan cerai terhadap Noordin.

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/30/08504923%20/perempuan-perempuan.dalam.hidup.noordin.m.top

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

"Web Server" Blog "Noordin M Top" Berada di AS

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan Unit Cyber Crime Mabes Polri, web server dari website yang digunakan untuk memublikasikan sebuah blog yang berisi pengakuan Amir Tandzin Al-Qoidah sebagai pelaku bom Mega Kuningan berada di Amerika Serikat.

"Provider-nya (pemilik) di Amerika Serikat. Tapi semua orang bisa mengakses ke sana. Mudah-mudahan yang akses bisa ditelusuri," ucapnya di Mabes Polri Jakarta, Kamis (30/7).

Unit Cyber Crime, kata Nanan, akan mencoba menelusuri siapa pembuat blog tersebut yang mengaku mengatasnamakan Noordin M Top. Namun, jika Unit Cyber Crime Polri tidak mampu menelusuri, kepolisian akan memanfaatkan kerja sama antarkepolisian negara lain untuk membantu penelusuran. "Kalau tidak mampu, akan memanfaatkan police to police untuk membuka kaitan antara yang membuat," ucap Nanan.

Klaim dalam blog tersebut yang membawa agama Islam, menurut Nanan, sangat menyakitkan bagi umat Islam. Seolah-olah Islam menyetujui teror.

Pada bagian lain, Nanan juga mengkritik pemberitaan media massa yang menyebutkan siapa saja yang telah ditangkap oleh penyidik dan menjadi tersangka dalam kasus bom di Mega Kuningan, tanpa sumber yang jelas dari Mabes Polri. "Apa pun yang berkaitan dengan bom masih ditelusuri. Soal tersangka atau tidak harus dari Kapolri atau Divisi Humas," tegasnya.

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/30/15485550%20/quotweb.serverquot.blog.quotnoordin.m.topquot.berada.di.as

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Rezim Utang Bakal Berlanjut

JAKARTA – Utang pemerintah sudah mencapai level tertinggi, yakni 149,67 miliar dollar AS per Desember 2008. Meski begitu, tipe kebijakan pengelolaan utang dari tiga pasangan calon presiden (capres) dan cawapres belum tegas menunjukkan keberpihakan untuk lepas dari cengkeraman utang.

Kemandirin ekonomi, salah satunya ditandai dengan bebas dari utang asing, diperkirakan sulit terwujud pada masa pemerintahan baru, siapa pun pemenang pilpres nanti.

Tiga kandidat yang akan berlaga pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 8 Juli nanti ialah Susilo Bambang Yudhoyono–Boediono, Jusuf Kalla–Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri–Prabowo Subianto.

Pengamat pasar modal sekaligus Presiden Organisasi Pekerja Indonesia (OPSI) Yanuar Rizki menilai karakter kebijakan ekonomi Boediono sebagai cawapres pendamping Yudhoyono dikenal konservatif. Boediono konsisten dalam mengelola utang untuk membiayai kebijakan fiskal.

“Dia lebih baik tidak berutang untuk menutup pembiayaan dibandingkan saat SBY memunyai Menteri Keuangan Sri Mulyani,” kata dia di Jakarta, Minggu (17/5).

Menurut Yanuar, kepemimpinan Yudhoyono yang menjalankan ekonomi kosmetik selalu berhasrat menambah utang untuk menutup pembiayaan fiskal. “Boediono konservatif dan cenderung malas menambah utang, sedang SBY sangat ambisius menutup belanja fiskal dengan utang. Ini berpotensi menimbukan konflik internal,” kata dia.

Yanuar menilai Boediono adalah ekonom yang sangat memercayai mekanisme pasar untuk tujuan kesejahteraan. Ia juga menilai langkah Yudhoyono salah kaprah karena selalu menaikkan citra dengan mengatakan dapat menurunkan porsi utang. Pasalnya, porsi utang luar negeri yang turun tidak dibarengi dengan pengurangan utang obligasi melalui surat utang negara (SUN).

Posisi utang pemerintah hingga akhir Desember 2008 mencapai 149,67 miliar dollar AS. Artinya, ada kenaikan 8,61 miliar dollar AS jika dibandingkan akhir 2004 sebesar 139,86 miliar dollar AS.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan menunjukkan, sampai 28 Februari, total pinjaman luar negeri Indonesia adalah 62,74 miliar dollar AS, sementara pinjaman luar negeri yang jatuh tempo pada 2009 adalah 5,83 miliar dollar AS.

Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir, menambahkan seandainya Yudhoyono–Boediono terpilih dan memegang tampuk pemerintahan, rezim utang Indonesia sudah pasti akan berlanjut.

Menurut dia, kebijakan ekonomi pemerintahan Yudhoyono–Boediono kelak tidak akan berubah signifikan. Pemerintah akan terus melanjutkan kebijakan mereka yang terkait dengan utang, yaitu melakukan utang dengan dalih pembangunan.

Menanggapi pasangan Megawati–Prabowo, Yanuar menilai jargon yang dikampanyekan sangat ambisius. “Siapa yang dapat menghapus utang? Utang saat ini sudah tidak G to G, tetapi meritel. Bagaimana dia bisa bernegosiasi dengan pemilik SUN?” kata dia.

Untuk pasangan Jusuf Kalla–Wiranto, Yanuar berpendapat, Kalla akan menjalankan ekonomi pragmatis. “Selamanya dia tidak akan dapat mendisiplinkan pasar agar tidak dikuasai asing,” kata dia.

Poros Washington

Pengamat keuangan negara dari Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan menilai pasangan Yudhoyono–Boediono tidak akan mendukung kemandirian ekonomi.

Keduanya dianggap sebagai poros pro-Washington yang mengedepankan aliran neoliberalisme. Karena itu, modal asing dan utang luar negeri diperkirakan tetap mengalir.

Boediono, lanjut Dani, merupakan seseorang yang pro pada kebijakan lembaga-lembaga multilateral. "Boediono merupakan murid yang patuh dari IMF (Dana Moneter Internasional), Bank Dunia, dan sebagainya," ujar dia.

Sebelumnya, pengamat ekonomi Dradjad Hari Wibowo mengungkapan hal senada. Menurut dia, Boediono cenderung mengikuti konsensus Washington. Penjualan bank besar-besaran kepada pihak asing melalui BPPN terjadi saat dia menjadi menteri keuangan dalam kabinet Presiden Megawati.

“Dengan banyak kasus BLBI, negara memperoleh pengembalian sangat sedikit. Hanya kelompok yang prokonsensus Washington yang mau melakukan hal seperti itu,” tegas dia. (Koran Jakarta, 17/5).

Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI dengan seluruh rangkaiannya memakan uang negara hampir 700 triliun rupiah melalui obligasi rekapitalisasi. Sementara uang tunai yang sudah keluar untuk membayar utang pokok dan bunganya sudah mencapai 300 triliun rupiah. Ini, kata Dradjad, akan bertambah terus sampai 2023.

 

Sumber:

http://kau.or.id/content/view/144/2/

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Mengapa Noordin M.Top Diduga Intelejen Asing

Pengeboman Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton Jum'at (17/7) disinyalir didalangi oleh intelegen asing yang sengaja disusupkan di Indonesia. Salah satunya adalah teroris kawakan bernama Noordin M. Top. Banyak pihak dan pengamat menduga Noordin M. Top sengaja disusupkan ke Indonesia untuk menganggu keamanan dan perekonomian Indonesia.

Dari beberapa komentar pengamat dan elitis di negeri ini terangkum, Noordin M. Top sengaja disusupkan oleh Malaysia untuk melakukan serangkaian pengeboman di Indonesia.

Berikut beberapa alasan yang mendasari dugaan Nurdin M.Top sebagai Intelegen Malaysia
1.    Noordin M. Top warga negara Malaysia


2.    Salah seorang teroris yang berhasil dilumpuhkan dan terbunuh di Indonesia yakni Dr. Ashari juga merupakan warga Malaysia.


3.    Pembantu terdekat atau tangan kanan Noordin M. Top yang bernama Zulkifli juga merupakan warga Malaysia


4.    Noordin M. Top dan jaringan teroris lainnya tidak pernah melakukan pengeboman di wilayah Malaysia, padahal malaysia juga bertebaran lokasi maksiat seperti Genting Highland dan lainnya


5.    Noordin M. Top dan jaringan lainnya tidak pernah melakukan pengeboman diwilayah Malaysia yang lokasinya merupakan daerah wisata yang banyak dikunjungi turis-turis asing.


6.    Pengamanan Hotel dan lokasi-lokasi strategis di Malaysia relatif longgar dibandingkan dengan pengamanan hotel di Indonesia yang setiap melewati pintu pasti akan digeledah habis. Mengapa dengan pengamanan yang begitu longgar para teroris tidak berminat menggunakan Malaysia sebagai lokasi teror?


7.    Aparat kepolisian di Malaysia tidak terlalu tertarik untuk menyelediki keterlibatan Noordin M. Top sebagai dalang teroris di Indonesia, fakta ini bisa dilihat tidak ada upaya dari aparat kepolisian selama ini untuk mendalami hubungan Noordin M.Top dengan keluarganya di Malaysia. Bayangkan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia, dugaan seseorang yang dituduh sebagai teroris maka saat itu juga aparat keamanan akan mengamankan keluarga teroris yang dituduh.


8.    Pemerintah Malaysia belum pernah melakukan pendekatan kepada keluarga Noordin M. Top agar keluarga Noordin M. Top mengimbau secara luas melalui berbagai media agar Noordin M.Top tidak lagi membunuhi orang di Indonesia.


9.    Mendagri Malaysia Hishammuddin Hussein seperti dimuat diharian Kompas selasa (21/7) menyatakan belum ada petunjuk yang nyata Noordin M Top, warganegara Malaysia, berada di balik dua bom bunuh diri di Jakarta. Apakah Mendagri Malaysia sudah melakukan investigasi lengkap hingga mampu mengeluarkan pernyataan sepenting ini, lebih cepat daripada pihak berwajib di Indonesia? Apakah badan intelijen dan kepolisian Malaysia lebih hebat daripada BIN dan Kepolisian Indonesia, sehingga Malaysia sudah tahu Noordin M Top tak terlibat pengeboman Marriot-Carlton II pada 17 Juli 2009? ( analisis fadjroel rachmanl )


10.    Adanya upaya perebutan pengaruh saat menjamu Manchester United (MU). Malaysia hendak membuktikan bahwa negaranya lebih aman dari Indonesia. ( analisis Anggota Komisi I DPR RI Ali Mochtar Ngabalin )


11.    Sumber dana operasional Noordin M. Top diduga berasal dari luar Negeri


12.    Saat ini Indonesia sedang giat-giatnya mempromosikan kunjungan wisata Indonesia, dan jika ini sukses dampaknya akan mempengaruhi kunjungan wisata ke Malaysia. Salah satu upaya untuk menghancurkan pariwisata Indonesia adalah dengan melakukan pengeboman dilokasi yang identik dengan tamu asing.


Alasan diatas masih sebatas pendapat dan dugaan dari berbagai pihak, dan tugas negaralah untuk mengungkap misteri yang belum terungkap selama ini.

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

SM Kartosoewirjo Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo

Tokoh yang satu ini, menurut berbagai pandangan masyarakat bangsa Indonesia saat ini adalah seorang pemberontak. Citranya sebagai "pemberontak", terlihat ketika dirinya berusaha menjadikan negara Indonesia menjadi sebuah Negara Islam. Namun sangatlah aneh, perjuangan yang dilakukannya itu justru mendapat sambutan yang luar biasa dari daerah-daerah lain di Indonesia, seperti di Jawa Tengah, di Sulawesi Selatan, di Kalimantan, dan di Aceh.


Timbul satu pertanyaan, benarkah dia itu penjahat perang sebagaimana yang dinyatakan oleh pemerintah? Atau mungkin ini sebuah penilaian yang sangat subjektif dari pemerintah yang ingin berusaha melanggengkan kekuasaan tiraninya terhadap rakyat Indonesia. Sehingga diketahui, pemerintah sendiri ketika selesai menjatuhkan vonis hukuman mati terhadapnya, tidak memberitahukan sedikit pun keterangan kepada pihak keluarganya di mana pusaranya berada.


Siapa S.M. Kartosoewirjo?


Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo demikian nama lengkap dari Kartosoewirjo, dilahirkan 7 Januari 1907 di Cepu, sebuah kota kecil antara Blora dan Bojonegoro yang menjadi daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Kota Cepu ini menjadi tempat di mana budaya Jawa bagian timur dan bagian tengah bertemu dalam suatu garis budaya yang unik.


Ayahnya, yang bernama Kartosoewirjo, bekerja sebagai mantri pada kantor yang mengkoordinasikan para penjual candu di kota kecil Pamotan, dekat Rembang. Pada masa itu mantri candu sederajat dengan jabatan Sekretaris Distrik. Dalam posisi inilah, ayah Kartosoewirjo mempunyai kedudukan yang cukup penting sebagai seorang pribumi saat itu, menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan garis sejarah anaknya. Kartosoewirjo pun kemudian mengikuti tali pengaruh ini hingga pada usia remajanya.


Dengan kedudukan istimewa orang tuanya serta makin mapannya "gerakan pencerahan Indonesia" ketika itu, Kartosoewirjo dibesarkan dan berkembang. Ia terasuh di bawah sistem rasional Barat yang mulai dicangkokkan Belanda di tanah jajahan Hindia. Suasana politis ini juga mewarnai pola asuh orang tuanya yang berusaha menghidupkan suasana kehidupan keluarga yang liberal. Masing-masing anggota keluarganya mengembangkan visi dan arah pemikirannya ke berbagai orientasi. Ia mempunyai seorang kakak perempuan yang tinggal di Surakarta pada tahun 50-an yang hidup dengan penuh keguyuban, dan seorang kakak laki-laki yang memimpin Serikat Buruh Kereta Api pada tahun 20-an, ketika di Indonesia terbentuk berbagai Serikat Buruh.
Pada tahun 1911, saat para aktivis ramai-ramai mendirikan organisasi, saat itu Kartosoewirjo berusia enam tahun dan masuk Sekolah ISTK (Inlandsche School der Tweede Klasse) atau Sekolah "kelas dua" untuk kaum Bumiputra di Pamotan. Empat tahun kemudian, ia melanjutkan sekolah ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Rembang. Tahun 1919 ketika orang tuanya pindah ke Bojonegoro, mereka memasukkan Kartosoewirjo ke sekolah ELS (Europeesche Lagere School). Bagi seorang putra "pribumi", HIS dan ELS merupakan sekolah elite. Hanya dengan kecerdasan dan bakat yang khusus yang dimiliki Kartosoewirjo maka dia bisa masuk sekolah yang direncanakan sebagai lembaga pendidikan untuk orang Eropa dan kalangan masyarakat Indo-Eropa.


Semasa remajanya di Bojonegoro inilah Kartosoewirjo mendapatkan pendidikan agama dari seorang tokoh bernama Notodihardjo yang menjadi "guru" agamanya. Dia adalah tokoh Islam modern yang mengikuti Muhammadiyah. Tidak berlebihan ketika itu, Notodihardjo sendiri kemudian menanamkan banyak aspek kemodernan Islam ke dalam alam pikir Kartosoewirjo. Pemikiran-pemikirannya sangat mempengaruhi bagaimana Kartosoewirjo bersikap dalam merespon ajaran-ajaran agama Islam. Dalam masa-masa yang bisa kita sebut sebagai the formative age-nya.


Pada tahun 1923, setelah menamatkan sekolah di ELS, Kartosoewirjo pergi ke Surabaya melanjutkan studinya pada Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Sekolah Kedokteran Belanda untuk Pribumi. Pada saat kuliah inilah (l926) ia terlibat dengan banyak aktivitas organisasi pergerakan nasionalisme Indonesia di Surabaya.


Selama kuliah Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Islam. Ia mulai "mengaji" secara serius. Saking seriusnya, ia kemudian begitu "terasuki" oleh shibghatullah sehingga ia kemudian menjadi Islam minded. Semua aktivitasnya kemudian hanya untuk mempelajari Islam semata dan berbuat untuk Islam saja. Dia pun kemudian sering meninggalkan aktivitas kuliah dan menjadi tidak begitu peduli dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh sekolah Belanda, tentunya setelah ia mengkaji dan membaca banyak buku-buku dari berbagai disiplin ilmu, dari kedokteran hingga ilmu-ilmu sosial dan politik.
Dengan modal ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak sedikit itu, ditambah ia juga memasuki organisasi politik Sjarikat Islam di bawah pimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto banyak mempengaruhi sikap, tindakan dan orientasi Kartosuwirjo. Maka setahun kemudian, dia dikeluarkan dari sekolah karena dituduh menjadi aktivis politik, dan didapati memiliki sejumlah buku sosialis dan komunis yang diperoleh dari pamannya yaitu Marko Kartodikromo, seorang wartawan dan sastrawan yang cukup terkenal pada zamannya. Sekolah tempat ia menimba ilmu tidak berani menuduhnya karena "terasuki" ilmu-ilmu Islam, melainkan dituduh "komunis" karena memang ideologi ini sering dipandang sebagai ideologi yang akan membahayakan. Padahal ideologi Islamlah yang sangat berbahaya bagi penguasa yang zhalim. Tidaklah mengherankan, kalau Kartosuwirjo nantinya tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kesadaran politik sekaligus memiliki integritas keislaman yang tinggi. Ia adalah seorang ulama besar, bahkan kalau kita baca tulisan-tulisannya, kita pasti akan mengakuinya sebagai seorang ulama terbesar di Asia Tenggara.


Aktivitas Kartosoewirjo


Semenjak tahun 1923, dia sudah aktif dalam gerakan kepemudaan, di antaranya gerakan pemuda Jong Java. Kemudian pada tahun 1925, ketika anggota-anggota Jong Java yang lebih mengutamakan cita-cita keislamannya mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB). Kartosoewirjo pun pindah ke organisasi ini karena sikap pemihakannya kepada agamanya. Melalui dua organisasi inilah kemudian membawa dia menjadi salah satu pelaku sejarah gerakan pemuda yang sangat terkenal, "Sumpah Pemuda".
Selain bertugas sebagai sekretaris umum PSIHT (Partij Sjarikat Islam Hindia Timur), Kartosoewirjo pun bekerja sebagai wartawan di koran harian Fadjar Asia. Semula ia sebagai korektor, kemudian diangkat menjadi reporter. Pada tahun 1929, dalam usianya yang relatif muda sekitar 22 tahun, Kartosoewirjo telah menjadi redaktur harian Fadjar Asia. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur, mulailah dia menerbitkan berbagai artikel yang isinya banyak sekali kritikan-kritikan, baik kepada penguasa pribumi maupun penjajah Belanda.


Ketika dalam perjalanan tugasnya itu dia pergi ke Malangbong. Di sana bertemu dengan pemimpin PSIHT setempat yang terkenal bernama Ajengan Ardiwisastera. Di sana pulalah dia berkenalan dengan Siti Dewi Kalsum putri Ajengan Ardiwisastera, yang kemudian dinikahinya pada bulan April tahun 1929. Perkawinan yang sakinah ini kemudian dikarunia dua belas anak, tiga yang terakhir lahir di hutan-hutan belantara Jawa Barat. Begitu banyaknya pengalaman telah menghantarkan dirinya sebagai aktor intelektual dalam kancah pergerakan nasional.


Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kartosoewirjo kembali aktif di bidang politik, yang sempat terhenti. Dia masuk sebuah organisasi kesejahteraan dari MIAI (Madjlis Islam 'Alaa Indonesia) di bawah pimpinan Wondoamiseno, sekaligus menjadi sekretaris dalam Majelis Baitul-Mal pada organisasi tersebut.


Dalam masa pendudukan Jepang ini, dia pun memfungsikan kembali lembaga Suffah yang pernah dia bentuk. Namun kali ini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran karena saat itu Jepang telah membuka pendidikan militernya. Kemudian siswa yang menerima latihan kemiliteran di Institut Suffah itu akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang, Hizbullah dan Sabilillah, yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat.


Pada bulan Agustus 1945 menjelang berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia, Kartosoewirjo yang disertai tentara Hizbullah berada di Jakarta. Dia juga telah mengetahui kekalahan Jepang dari sekutu, bahkan dia mempunyai rencana: kinilah saatnya rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Sesungguhnya dia telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Tetapi proklamasinya ditarik kembali sesudah ada pernyataan kemerdekaan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Untuk sementara waktu dia tetap loyal kepada Republik dan menerima dasar "sekuler"-nya.


Namun sejak kemerdekaan RI diproklamasikan (17 Agustus 1945), kaum nasionalis sekulerlah yang memegang tampuk kekuasaan negara dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip kenegaraan modern yang sekuler. Semenjak itu kalangan nasionalis Islam tersingkir secara sistematis dan hingga akhir 70-an kalangan Islam berada di luar negara. Dari sinilah dimulainya pertentangan serius antara kalangan Islam dan kaum nasionalis sekuler. Karena kaum nasionalis sekuler mulai secara efektif memegang kekuasaan negara, maka pertentangan ini untuk selanjutnya dapat disebut sebagai pertentangan antara Islam dan negara.


Situasi yang kacau akibat agresi militer kedua Belanda, apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian Renville antara pemerintah Republik dengan Belanda. Di mana pada perjanjian tersebut berisi antara lain gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi van Mook. Sementara pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia, maka menjadi pil pahit bagi Republik. Tempat-tempat penting yang strategis bagi pasukannya di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan semua pasukan harus ditarik mundur --atau "kabur" dalam istilah orang-orang DI-- ke Jawa Tengah. Karena persetujuan ini, Tentara Republik resmi dalam Jawa Barat, Divisi Siliwangi, mematuhi ketentuan-ketentuannya. Soekarno menyebut "kaburnya" TNI ini dengan memakai istilah Islam, "hijrah". Dengan sebutan ini dia menipu jutaan rakyat Muslim. Namun berbeda dengan pasukan gerilyawan Hizbullah dan Sabilillah, bagian yang cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat, menolak untuk mematuhinya. Hizbullah dan Sabilillah lebih tahu apa makna "hijrah" itu.


Pada tahun 1949 Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Pada saat Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu terjadilah sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri al-Jumhuriyah Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai ad-Daulatul Islamiyah atau Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII. DI/TII di dalam sejarah Indonesia sering disebut para pengamat yang fobi dengan Negara Islam sebagai "Islam muncul dalam wajah yang tegang." Bahkan, peristiwa ini dimanipulasi sebagai sebuah "pemberontakan". Kalaupun peristiwa ini disebut sebagai sebuah "pemberontakan", maka ia bukanlah sebuah pemberontakan biasa. Ia merupakan sebuah perjuangan suci anti-kezhaliman yang terbesar di dunia di awal abad ke-20 ini. "Pemberontakan" bersenjata yang sempat menguras habis logistik angkatan perang Republik Indonesia ini bukanlah pemberontakan kecil, bukan pula pemberontakan yang bersifat regional, bukan "pemberontakan" yang muncul karena sakit hati atau kekecewaan politik lainnya, melainkan karena sebuah "cita-cita", sebuah "mimpi" yang diilhami oleh ajaran-ajaran Islam yang lurus.
Akhirnya, perjuangan panjang Kartosoewirjo selama 13 tahun pupus setelah Kartosoewirjo sendiri tertangkap. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur l962, menyatakan bahwa perjuangan suci Kartosoewirjo dalam menegakkan Negara Islam Indonesia itu adalah sebuah "pemberontakan". Hukuman mati kemudian diberikan kepada mujahid Kartosoewirjo.


Tentang kisah wafatnya Kartosoewirjo, ternyata Soekarno dan A.H. Nasution cukup menyadari bahwa Kartosoewirjo adalah tokoh besar yang bahkan jika wafat pun akan terus dirindukan umat. Maka mereka dengan segala konspirasinya, didukung Umar Wirahadikusuma, berusaha menyembunyikan rencana jahat mereka ketika mengeksekusi Imam Negara Islam ini.


Sekalipun jasad beliau telah tiada dan tidak diketahui di mana pusaranya berada karena alasan-alasan tertentu dari pemerintahan Soekarno, tapi jiwa dan perjuangannya akan tetap hidup sepanjang masa.
Sejarah Indonesia telah mencatat walaupun dimanipulasi dan sekarang bertambah lagi dengan darah mujahid Asy-syahid S.M. Kartosoewirjo. HARI INI KAMI MENGHORMATIMU, BESOK KAMI BERSAMAMU! Insya Allah. Itulah makna dari firman Allah:
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu mati); bahkan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya".
(QS. 2:154).


Memahami kembali Sejarah Darul Islam di Indonesia


Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya dengan mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah banyak dimanipulasi, bahkan berusaha ditutup-tutupi oleh penguasa. Rezim orde lama dan kemudian orde baru, mengalami sukses besar dalam membohongi serta menyesatkan kaum muslimin khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya dalam memahami sejarah masa lalu negeri ini.


Selama ini kita telah tertipu membaca buku-buku sejarah serta berbagai publikasi sejarah perjuangan umat Islam diIndonesia.Sukses besar yang diperoleh dua rezim penguasa di Indonesia dalam mendistorsi sejarah Darul Islam, adalah munculnya trauma politik di kalangan umat Islam. Hampir seluruh kaum muslimin di negeri ini, memiliki semangat untuk memperjuangkan agamanya, bahkan seringkali terjadi hiruk pikuk di ruang diskusi maupun seminar untuk hal tersebut. Tetapi begitu tiba-tiba memasuki pembicaraan menyangkut perlunya mendirikan Negara Islam, kita akan menyaksikan segera setelah itu mereka akan menghindar dan bungkam seribu bahasa.


Di masa akhir-akhir ini, bahkan semakin banyak tokoh-tokoh Islam yang menampakkan ketakutannya terhadap persoalan Negara Islam.


Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan : "Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari'at Islam".
(Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : "Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme".


Salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi ini, malah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan gagah: "Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami". Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: "Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan".


Demikian besar ketakutan kaum muslimin terhadap issu negara Islam, melebihi ketakutan orang-orang kafir dan sekuler, sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa segala isme (faham) atau pun Ideologi di dunia ini berjuang meraih kekuasaan untuk mendirikan negara berdasarkan isme atau ideologi yang dianutnya.


Selama 32 tahun berkuasanya rezim Soeharto, sosialisasi tentang Negara Islam Indonesia seakan terhenti. Oleh karena itu adanya bedah buku atau pun terbitnya buku-buku yang mengungkapkan manipulasi sejarah ini, merupakan perbuatan luhur dalam meluruskan distorsi sejarah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari khazanah sejarah bangsa.
Sejak berdirinya Republik Indonesia, rakyat negeri umumnya, telah ditipu oleh penguasa, hingga saat sekarang. Umat Islam yang menduduki jumlah mayoritas telah disesatkan pemahaman sejarah perjuangan Islam itu sendiri. Sudah seharusnya, di masa reformasi ini, umat Islam menyadari bahwa di Indonesia pernah ada suatu gerakan anak bangsa yang berusaha membangun supremasi Islam, yaitu Negara Islam Indonesia yang berhasil diproklamasikan, 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13


tahun lamanya (1949-1962). Namun rezim yang berkuasa telah memanipulasi sejarah tersebut dengan seenaknya, sehingga umat Islam sendiri tidak mengenal dengan jelas sejarah masa lalunya.
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, adalah sebuah nama yang cukup problematis dan kontroversial di negara Indonesia, dari dulu hingga saat ini. Bahwa dia dikenal sebagai pemberontak, harus kita luruskan.Bukan saja demi membetulkan fakta sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, tetapi juga supaya kezaliman sejarah tidak terus berlanjut terhadap seorang tokoh yang seharusnya dihormati.


Semasa Orla berkuasa (1947-1949) yang merupakan puncaknya perjuangan Negara Islam Indonesia, SM. Kartosuwiryo memang dikenal sebagai pemberontak. Tetapi fakta yang sebenarnya adalah, Kartosuwiryo sesungguhnya tokoh penyelamat bagi bangsa Indonesia, lebih dari apa yang dilakukan oleh Soekarno dan tokoh tokoh nasionalis lainnya.


Pada waktu Soekarno bersama tentara Republik pindah ke Yogyakarta sebagai akibat dari perjanjian Renville, yang menyebutkan bahwa wilayah Indonesia hanya tinggal Yogya dan sekitamya saja, dan wilayah yang masih tersisa itu pun, dipersengketakan antara Belanda dan Indonesia, sehingga pada waktu itu nyaris Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Dan yang ada hanyalah negara-negara serikat, baik yang sudah terbentuk, atau pun yang masih dalam proses melengkapi syarat-syarat kenegaraan. Seperti Jawa Barat, ketika itu dianjurkan oleh Belanda supaya membentuk Negara Pasundan, namun belum terbentuk sama sekali, karena belum adanya kelengkapan kenegaraan.


Ketika segala peristiwa yang telah disebutkan di atas, menggelayuti atmosfir politik Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Pada saat itulah, Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta berdasarkan perjanjian Renville. Guna memberi legitimasi Islami, dan untuk rnenipu umat Islam Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi terminologi al-Qur'an dengan menggunakan istilah "Hijrah" untuk menyebut pindahnya pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri. Namun S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari medan perang.


Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah"hijrah" sudah pernah diperkenalkan, dan dipergunakan.sebagai metode perjuangan modern yang brillian oleh S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah Nabawiyah. Ketika itu, pada tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan yaitu cooperatif dan non cooperatif. Metode non cooperatif, artinya tidak mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa yang ada. Metode ini sebenamya dipengaruhi oleh politik SWADESI, politik Mahatma Gandhi dari India. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode Hijrah, sebuah metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif, berusaha untuk melawan kekuatan penjajah.


Akan tetapi, pada waktu itu, metode ini dikecam keras oleh Agus Salim, karena menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam suatu masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha menanamkan politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini, karena paham politik sangat penting. Namun, Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan hanya elit pemimpin saja yang boleh mengetahui. Sedangkan "hijrah" adalah berusaha menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri dan berusaha dengan kekuatansendiri untuk mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak cukup progresif dan tidak Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu melahirkan PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin Agus Salim.


Walaupun metode Hijrah, bagi sebagian tokoh politik saat itu, terlihat mustahil untuk digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat berjalan efektif pada tahun 1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan dibawah bendera Bismillahirrahmaniirrahim. Sehingga pantaslah, jika kita tidak memperhatikan rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesia berarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan.


Namun sebenamya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional. Barangkakali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di indonesia.


Melihat sambutan yang gemilang hangat dari saudara muslim lainnya, maka rezim Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia bersama A.H. Nasuion, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan hingga sekarang, tetapi ternyata mempumyai kontribusi yang negatif dalam perkembangan Negara Islam Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi segala hal yang memungkinkan S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia kembali terangkat dalam masyarakat, seperti penyembunyian tempat eksekusi dan makam mujahid Islam tersebut.


Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orla dan Orba, telah melakukan kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang rasanya sulit untuk dimaafkan. Mungkin bisa diumpamakan, hampir sama dengan dosa syirik dalam pengertian agama, yang merupakan dosa terbesar dalam Islam. Karena prilaku politik yang mereka pertontonkan, telah menyesatkan masyarakat dalam memahami sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan sebenarnya. Berbagai rekayasa politik untuk memanipulasi sejarah telah dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya, tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar SMK dan Negara Islam Indonesia jauh dari ingatan masyarakat.


Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan dzalim pemerintah RI. Pernah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria ia menjawab," Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama Soekarno".


Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel dalam bukunya berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: "Darul Islam dan Kartosuwiryo, Angan-angan yang gagal", mengakui bahwa telah terjadi manipulasi data sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi tawaran grasi tersebut. Tokoh sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta maaf, namun ketika kita baca dalam terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan telah diubah sebaliknya, bahwa Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekamo, dan kita tahu Sinar Harapan adalah bagian dari kekuatan Kristen yang bahu -membahu dengan penguasa sekuler dalam mendistorsi sejarah Islam.


Dalam majalah Tempo 1983, pernah dimuat kisah seorang petugas eksekusi S.M. Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak pedulian Kartosuwiryo atas keputusan yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari sinilah akhimya diketahui kemudian dimana pusara Kartosuwiryo berada, yaitu di pulau Seribu.


Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di antara fakta sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran tuduhan teks proklamasi dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari proklamasi Soekarno-Hatta. Yang sebenamya terjadi justru kebalikannya.
Ketika Hiroshima dan Nagasaki di bom (6 - 9 Mei 1945) S.M. Kartosuwiryo sudah tahu melalui berita radio, sehingga ia berusaha memanfaatkan peluang ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia datang ke Jakarta bersama pasukan Hisbullah dan mengumpulkan massa guna mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia, dan rancangan konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat. Sebagai seorang tokoh nasional yang pernah ditawari sebagai menteri pertahanan muda yang kemudian ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan perkara sulit. Salah satu di antara massa yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Subarjo.


Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, mereka menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga Negara Islam Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H. Dengel menyebutkan tanggal 14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di proklamirkan, tetapi yang sebenarnya baru sosialisasi saja. Ketika di Rengasdengklok Soekamo menanyakan kepada Ahmad Soebardjo, sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya "Lahirnya Republik Indonesia".
Pertanyaan Soekarno itu adalah: "Masih ingatkah saudara, teks dari bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita ?"
"Ya saya ingat, saya menjawab,"Tetapi tidak lengkap seluruhnya".
"Tidak mengapa," Soekarno bilang, "Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya".


Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa yang saya ucapkan sebagai berikut : "Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan".
Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena kita tahu bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, "Masih ingatkah saudara akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?" Maka wajarlah jika naskah Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan. Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan sebaliknya. Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini. Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945 bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah.


"Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hisbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia. Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo tidak dapat
ditemukan di Jakarta, kiranya Historical enquiry berikut ini perlu diajukan : Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok padahal Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia? Mengapa ketika Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan Piagam Jakarta ? Mengapa jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa Indonesia ...? Bukankah itu sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada mereka ? Pada malam harinya mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun PETA di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekamo dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang, tujuan ini mereka tolak. Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan bilamana kemerdekaan dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan Agustus 1945. Maka, seingat Soekarni dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI."


(Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Isalam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen. Darul Falah, Jakarta).


Demikianlah, berbagai manipulasi sejarah yang ditimpakan kepada Darul Islam dan pemimpinnya, sedikit demi sedikit mulai tersibak, sehingga dengan ini diharapkan dapat membuka cakrawala berfikir dan membangun kesadaran historis para pembaca. Lebih dari itu, upaya mengungkap manipulasi sejarah Negara Islam Indonesia yang dilakukan semasa orla dan orba oleh para sejarawan merupakan suatu keberanian yang patut didukung, supaya pembaca mendapatkan informasi yang berimbang dari apa yang selama ini berkembang luas.
Kami bersyukur kepada Allah Malikurrahman atas antusiame generasi muda Islam dalam menerima informasi yang benar dan obyektif mengenai sejarah perjuangan menegakkan Negara Islam dan berlakunya syari'at Islam di negeri ini. Semoga Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita semua, sehingga perjuangan menjadikan hukum Allah sebagai satu-satunya sumber dari segala sumber hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara segera terwujud di Indonesia yang, menurut sensus adalah negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Amin, Ya Arhamar Rahimin !


Negara Islam Indonesia telah diproklamirkan oleh As-Syahid Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 7 Agustus 1949. Dimana bunyi proklamasi Negara Islam Indonesia adalah sebagai berikut :

PROKLAMASI
Berdirinya
Negara Islam Indonesia
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih
Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadarrasulullah
Kami, Ummat Islam Bangsa Indonesia
MENYATAKAN :
BERDIRINYA
NEGARA ISLAM INDONESIA
Maka Hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu, ialah : HUKUM ISLAM.
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !
Atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia
IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA
ttd
S.M. KARTOSOEWIRJO

Madinah - Indonesia,
12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949.

 

Tanggal 7 agustus 1949 adalah bertepatan dengan Bung Hatta pergi ke Belanda untuk mengadakan perundingan Meja Bundar, yang berakhir dengan kekecewaan. Dimana hasil perundingan tersebut adalah Irian Barat tidak dimasukkan kedalam penyerahan kedaulatan Indonesia, lapangan ekonomi masih dipegang oleh kapitalis barat.


Negara Islam Indonesia diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Jogya. Sebab daerah de-facto R.I. pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 Kabupaten saja ( menurut fakta-fakta perundingan/kompromis dengan Kerajaan Belanda; perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya de-facto R.I. tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, de-facto R.I. adalah hanya terdiri dari Yogyakarta). Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan didalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda.


Negara Islam Indonesia dengan organisasinya Darul Islam dan tentaranya yang dikenal dengan nama Tentara Islam Indonesia dihantam habis-habisan oleh Regim Soekarno yang didukung oleh partai komunis Indonesia(PKI).


Sedangkan Masyumi (Majelis syura muslimin Indonesia) tidak ikut menghantam, hanya tidak mendukung, walaupun organisasi Darul Islam yang pada mulanya bernama Majlis Islam adalah organisasi dibawah Masyumi yang kemudian memisahkan diri. Seorang tokoh besar dari Masyumi almarhum M Isa Anshary pada tahun 1951 menyatakan bahwa "Tidak ada seorang muslimpun, bangsa apa dan dimana juga dia berada yang tidak bercita-cita Darul Islam. Hanya orang yang sudah bejad moral, iman dan Islam-nya, yang tidak menyetujui berdirinya Negara Islam Indonesia. Hanya jalan dan cara memperjuangkan idiologi itu terdapat persimpangan dan perbedaan. Jalan bersimpang jauh. Yang satu berjuang dalam batas-batas hukum, secara legal dan parlementer, itulah Masyumi. Yang lain berjuang dengan alat senjata, mendirikan negara dalam negara, itulah Darul Islam" (majalah Hikmah, 1951).


Ketika Masyumi memegang pemerintahan, M Natsir mengirimkan surat kepada SM Kartosoewirjo untuk mengajak beliau dan kawan-kawan yang ada di gunung untuk kembali berjuang dalam batas-batas hukum negara yang ada. Namun M Natsir mendapat jawaban dari SM Kartosoewirjo "Barangkali saudara belum menerima proklamasi kami"(majalah Hikmah, 1951).


Setelah Imam Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo tertangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1962 regim Soekarno dengan dibantu oleh PKI yang diteruskan oleh regim Soeharto dengan ABRI-nya telah membungkam Negara Islam Indonesia sampai sekarang dengan pola yang sama. Pola tersebut adalah dengan cara menugaskan bawahannya untuk melakukan pengrusakan, setelah melakukan pengrusakkan bawahan tersebut "bernyanyi" bahwa dia adalah anggota kelompok Islam tertentu. Atau melakukan pengrusakan dengan menggunakan atribut Islam. Menurut salah seorang kapten yang kini masih hidup, dan mungkin saksi hidup yang lainnya pun masih banyak, bahwa ada perbedaan antara DI pengrusak dan DI Kartosuwiryo yakni attribut yang dipergunakan oleh DI pengrusak (buatan Sukarno) berwarna merah sedangkan DI Kartosuwiryo adalah hijau. Sebenarnya Negara Islam Indonesia masih ada dan tetap ada, walaupun sebagian anggota-anggota Darul Islam sudah pada meninggal, namun ide Negara Islam Indonesia masih tetap bersinar di muka bumi Indonesia*.*

sumber : http://swaramuslim.net/

 

 

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

TERORIS INDONESIA TELAH MERASUK KE "AKAR RUMPUT"

Terungkapnya jaringan teroris yang telah merasuk ke masyarakat tingkat bawah atau "akar rumput" dengan memanfaatkan rakyat jelata seperti kaum petani, mengindikasikan pengaruh pengawasan aparat keamanan belum menyentuh hingga ke tataran paling bawah.


"Gerakan teroris itu telah merasuk ke akar rumput, itu jelas dengan kasus di Yogya dan beberapa kawasan di Jawa Tengah, pekan lalu. Dari terungkapnya kasus itu, terlihat petani yang polos, lugu dan tulus pun dipakai atau diperalat untuk tujuan-tujuan kerusuhan serta terror," kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Damai Sejahtera (PDS), Denny Tewu, di Jakarta, Senin.


Dia menyatakan hal tu, menanggapi instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Kapolri Jenderal Sutanto agar segera bertindak lebih maksimal untuk mengamankan negara dan rakyat dari gangguan berbagai teror, termasuk aneka kejahatan lainnya.


Realitas di lapangan tersebut, lanjut Denny Tewu, dengan jelas mengindikasikan, pengaruh pengawasan aparat keamanan belum menyentuh sampai dengan akar rumput.


"Dan ini akan menjadi celah untuk aktivitas terorisme yang masih terus melebarkan sayapnya melalui jaringan rakyat paling bawah yang tidak terawasi," katanya mengingatkan.
Ia mengacu kepada pernyataan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono, yang dimuat berbagai media nasional, pekan lalu, bahwa jaringan para teroris itu berpusat di Jateng, terutama di basis-basis DI TII dulu.


Malahan, ada indikasi, para teroris itu yang salah satu tempat penampungan bom serta amunisi mereka berhasil dibongkar petugas, kini menyiapkan aksi "Bom Bali III".
Kondisi seperti ini, menurut Denny Tewu, akan sangat mempengaruhi stabilitas negara, otomatis memberi gangguan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di segala bisang demi meningkatkan kesejahteraan rakyat.


"Jadi, saya kira wajar saja dan bahkan sudah seharusnya bila Presiden menginstruksikan Kapolri agar lebih tanggap dalam memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya. Tetapi sesungguhnya tanpa instruksi begini, aparat mestinya harus terus bergerak. Mereka kan dibayar negara untuk itu," tandasnya.
Membiarkan situasi negara menjadi tidak aman untuk ditinggali, dan rakyat yang terus hidup dalam ancaman, tambah Denny Tewu, jelas bakal menjadikan bangsa ini semakin terpuruk.
"Atau, memang ada yang sengaja membuat Indonesia tidak maju-maju, selalu berurusan dengan teror, penyebaran beragam virus, pemerintahan yang kurang kuat, dan seterusnya. Ini perlu kita renungkan bersama," imbau Denny Tewu.


Sebelumnya, kalangan anggota Komisi I DPR menilai, Polri sebagai penanggung jawab keamanan dan ketertiban termasuk dalam hal mencegah gerakan aksi teroris, mestinya tidak bekerja berdasarkan perintah semata.


Yuddy Chrisnandi dari Fraksi Partai Golkar (FPG) menyatakan hal itu, menanggapi instruksi Presiden Yudhoyono kepada Kapolri untuk meningkatkan gerakan penangkalan, pencegahan serta pemberantasan berbagai kejahatan, terutama terorisme.


"Pernyataan (Presiden) tersebut juga normatif. Artinya, tanpa harus ada perintah seperti itu, mestinya gerakan pengamanan dan penertiban harus terus berlangsung secara maksimal, demi memberi kenyamanan serta ketenteraman kepada semua warga," katanya.
Mantan aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) tahun 1998 ini lanjut mengatakan, masalah keamanan dan ketertiban (kamtib) dan penanganan terorisme sudah menjadi tanggung jawab Polri.


"Jadi, tidak perlu perintah Presiden," tegasnya.
Secara terpisah, rekannya dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas H Pareira, menegaskan, program deradikalisasi yang telah dicanangkan pemerintah sudah mendesak diaplikasikan, guna menangkal berbagai aksi terorisme di tanah air.


"Kita tidak bisa teledor lagi. Saat ini rakyat masih merasa belum aman hidup di negerinya sendiri karena soal terror bom aksi rusuh lainnya yang sewaktu-waktu bisa muncul di mana-mana," katanya.
Karena itu, instruksi Presiden kepada pihak kepolisian, mestinya tak hanya dijawab dengan langkah-langkah konvensional semata, tetapi juga harus ada upaya tambahan, termasuk program deradikalisasi tersebut.
Sumber: ANTARA

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Pesan dari Teroris Indonesia

Rekaman berdurasi sekitar 15 menit tentang pengakuan para pelaku bom Bali II dan seorang tokoh misterius bertopeng yang disiarkan oleh sejumlah TV Indonesia dan telah disiarkan di mancanegara pada minggu ini cukup mencengangkan dan menarik untuk disimak.
Apa yg bisa kita cermati dari ditemukannya video tersebut?

  1. Pesan itu memang sengaja dibuat untuk ditemukan dan disebarluaskan ke masyarakat luas secara umum, namun sasaran khususnya adalah pemintaan "tolong" atau dukungan dari organisasi teroris internasional, bahwa kedudukan atau posisi kelompok teroris nusantara sudah terjepit. Hal ini bisa saya pastikan karena ada reaksi dari beberapa kelompok di luar negeri yg justru merasa simpati dengan kondisi yg dialami oleh organisasi teroris Indonesia, hal ini merupakan kebalikan dari reaksi negatif dari mayoritas umat Muslim Indonesia. Mungkin dalam waktu yg relatif singkat akan ada kontak antara kelompok teroris lokal dengan kelompok teroris internasional.
  2. Kenyataan bahwa sistem indoktrinasi paham jihad dengan bom bunuh diri cukup berhasil merekrut anak-anak Muslim Indonesia yg mungkin "terlanjur basah" terjebak dalam lingkungan organisasi teroris, modusnya hampir sama saja dengan kelompok pengedar obat bius. Apa yg membedakan adalah isi doktrinnya dan motivasi yg menjadi penggerak gerakan teror tersebut. Bisa juga kita bayangkan posisi seseorang yg telah dibai'at (disumpah) menjadi anggota korps pejuang apapun (tentara, martir, jihadist, phalangist, dst). Membunuh manusia itu merupakan hal yg sulit dan berat untuk pertama kali, tapi tidaklah terlalu berat untuk yg berikutnya. Demikian juga proses masuknya sebuah keyakinan tentang apapun, amatlah sulit untuk meyakini sesuatu untuk saat pertama. Dari pengamatan saya, hal pertama yg dilakukan seorang pencari bakat bunuh diri adalah adanya potensi untuk tidak merasa kehilangan apa-apa. Pada tahap yg paling awal menjadi wajib bagi calon teroris untuk putus hubungan dengan siapapun yg bisa mempengaruhi sikap dan keyakinannya (keluarga, pacar, sahabat, singkatnya orang-orang tercinta). Kemudian menjadikan gerakan/harakah atau organisasi sebagai keluarganya yg merelakannya bahkan memujanya untuk bisa mati "syahid". Saya jadi ingat ketika rekrutmen jihad Afghanistan diserukan di tanah air Indonesia, saya sempat memperoleh akses untuk ikut berjihad beserta sejumlah dokumen sederhana yg akan membawa saya ke Pakistan kemudian perlahan menyusuri jalan menuju perang kecil dengan resiko kematian sejati sebagai syahid. Tetapi jalan itu tidak saya lanjutkan karena masih ada hubuddunya, rasa cinta dunia, sayang keluarga, dan mendambakan ketenangan, walau hati sempat galau karena seruan jihad begitu kuat memanggil dari tangisan sesama Muslim di belahan dunia yg lain. Jadi seburuk apapun citra yg dilekatkan kepada gerakan teroris yg mengambil tema jihad Islamiyah, saya hanya ingin mengingatkan bahwa simpati kepada saudara-saudara kita yg mengambil langkah untuk berjihad dengan jalan kekerasan (aksi teror) tidaklah akan surut, karena keteraniayaan saudara-saudara Muslim di belahan dunia akan menjadi pemicu lahirnya simpati terhadap gerakan teroris dan antipati terhadap hegemon dunia yg dipimpin Amerika. Hal ini mungkin kelihatan klise dan tendensius bagi kebanyakan Muslim Indonesia yg sibuk dengan urusan dunia masing-masing. Tetapi ketika terbuka pintu ke arah "lain", simpati itu tidaklah pernah surut...hal ini mirip dengan cita-cita negara Islam dari benak sebagian umat Muslim.
  3. Aha.. untuk soal gerakan teroris Indonesia, saya kira pendapat brother Al Chaidar sangat menarik. Sebagai individu unik yg menguntungkan secara pribadi, Chaidar yg mengaku kenal dengan sebagian besar tokoh teroris yg paling dicari di Indonesia, hal ini benar-benar unik. Bahkan bisa meragukan (atau membuat ragu) bahwa tokoh bertopeng yg terekam dalam video yg telah ditayangkan di mancanegara itu adalah Wawan alias Noordin M Top. Sebagai mantan tokoh "pejuang" Negara Islam Indonesia (NII) dan tentunya sangat tahu peta perjuangan NII versi Kartosoewirjo seperti tertulis dalam bukunya Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia Kartosoewirjo. Apa yg aneh dalam diri brother Chaidar adalah keistimewaannya sebagai "wakil" pemerintah dalam negosiasi dengan kelompok teroris. Satu-satunya pengakuan Chaidar yg mencurigakan adalah bahwa dia melakukan itu untuk mencoba memahami jalan pikiran dan perasaan mereka (para teroris yang sebenarnya Chaidar sudah paham betul, benarkan?) Juga begitu yakinnya bahwa gerakan teroris di Indonesia adalah untuk mengikuti fatwa Usamah bin Laden untuk berjihad melawan Amerika. Bila saya balik, maka gerakan teroris di Indonesia adalah untuk menarik perhatian Usamah bin Laden, seperti apa yg terekam dalam video, yg saya yakini kini telah diketahui oleh gerakan teroris internasional. Bahwa teroris Indonesia skalanya lokal bisa dilihat dari lemahnya pembiayaan untuk operasi bom, silahkan cek ke Polri atau TNI yg punya data tentang perkiraan dana yg diperlukan untuk operasi bom Bali I ataupun Bom Bali II, sungguh tidaklah terlalu besar. Tetapi Chaidar benar tentang proses panjang doktrinasi yg tidak berada di pesantren-pesantren, melainkan ditempat-tempat rahasia (bahkan banyak yg berada di lokasi perumahan mewah di beberapa kawasan di Jakarta, benarkan Chaidar?)
  4. Baca baik-baik penggalan pernyataan pria bertoipeng : "Kami ulangi, bahwa musuh-musuh kami adalah Amerika, Australia, Inggris, Italia. Dan kami sampaikan juga bahwa musuh kami adalah penolong-penolong dan pembantu Bush [Presiden Amerika Serikat George Bush], Blair [Tony Blair, Perdana Menteri Inggris] penguasa kafir dan penguasa murtad yang menguasai kaum muslimin, yang mengejar ulama, dan para mujahid. Mereka inilah musuh-musuh kami yang kami incar dalam serangan kami." Statement tersebut terlalu mirip dengan perjuangan Usamah bin Laden, dan saya salut atas kecerdikan memanfaatkan media video yg seolah-olah tertinggal itu. Mengambil resiko meluasnya antipati dari mayoritas orang Indonesia demi datangnya bantuan dari dunia luar. Lumayan....

Sekian

Sumber:

http://intelindonesia.blogspot.com/2005/11/pesan-dari-teroris-indonesia.html

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Skenario Terbaru Terorisme Indonesia

Watak hangat-hangat tahi ayam Indonesia sangat dipahami oleh mayoritas pengamat Indonesia (Indonesianis). Hal ini tentu saja dipahami sepenuhnya oleh intelijen asing yang menjadikan Indonesia sebagai tempat bermain yang menyenangkan. Baik dari sisi kerjasama maupun upaya merubah wajah Indonesia semuanya menyenangkan.


Dalam menghadapi masalah terorisme, sudah mulai tampak tanda-tanda kembali pada posisi normal, dimana masalah terorisme dianggap hal yang kurang penting oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Tidak lebih dari urusan kriminal sejumlah pelaku yang dicitrakan sebagai kelompok Islam garis keras. Hal itu tentu sangat mengkhawatirkan bagi pihak yang berkepentingan mengangkat kembali msalah terorisme sebagai masalah paling penting di negara ini.


Padahal masalah pembangunan pertanian dan industri serta sejumlah bencana besar seharusnya menjadi prioritas utama di negara ini.


Akan sia-sia upaya pemeliharaan ancaman teroris di Indonesia bila tidak ada lagi ledakan, dan yang ada hanya kejar-kejaran sperti Tom and Jerry yang sudah tahu persis dimana, bagaimana dan bilamana dilakukannya.


Terkait dengan adanya rencananya kelanjutan perang melawan teror yang dimotori AS, maka Blog I-I menghimbau kewaspadaan publik atas ancaman bom yang mungkin akan terjadi lagi mulai saat ini sampai masa pemilu 2009. Tujuannya jelas untuk membela pandangan bahwa terorisme masih ada dan sangat berbahaya di Indonesia.


Blog I-I sudah hampir putus harapan dengan komunitas intelijen nasional dan khususnya Kepolisian yang sangat main-main dengan upaya penuntasan gerakan teroris. Semua senang bila ada dana segar untuk kegiatan, sementara sasaran pelaku teror sudah ada di tangan. Namun ada secercah cahaya karena Blog I-I berhasil mendeteksi sejumlah jaring intelijen yang cukup baik dan bekerja secara ideal dalam mengungkap keseluruhan skenario terorisme di Indonesia.


Satu hal yang perlu diperhatikan oleh Tim Kontra Teroris Indonesia adalah bahwa akan terus ada kejutan di luar daftar yang sudah dimiliki. Kejutan itu mau tidak mau akan berbentuk ledakan. Ini bisa terjadi karena musuh sesungguhnya bukanlah sesama bangsa Indonesia yang terpengaruhi untuk melakukan tindakan teror, melainkan the puppet master yang bergerak di belakangnya.


Akar Terorisme di Indonesia adalah masuknya agen-agen yang memusuhi Islam serta mengarahkan para alumni Mujahid untuk melakukan tindakan teror. Mengapa Blog I-I sangat yakin, hal ini tampak dari fakta bahwa para Mujahid asal Indonesia pada umumnya adalah orang-orang sederhana yang ingin mengabdikan hidupnya untuk tegaknya agama Islam. Sangat tidak benar, bahwa Mujahid Indonesia adalah orang miskin dan berpendidikan rendah. Hal ini adalah propaganda musuh Islam yang sengaja masuk dalam bentuk informasi menyesatkan. Lihat sendiri bagaimana kondisi pejuang asal Indonesia di sebagian wilayah Timur Tengah, mereka adalah orang-orang yang tidak mabuk harta seperti kebanyakan pemimpin di negeri ini.
Sekali lagi, kelemahan mereka justru pada lemahnya kewaspadaan bahwa mereka diperalat oleh agen-agen penyusup untuk merubah sikap tegas dalam memegang ajaran Islam menjadi gerakan teroris. Alasan berupa teror satu-satunya jalan karena jalan lain sudah tertutup oleh kapitalisme global adalah rayuan yang cukup berhasil. Apalagi bila dihadapkan dengan fakta betapa kuatnya AS dan sekutunya, dan tragedi WTC adalah pemicu untuk aktifnya hampir seluruh sel di dunia. Padahal sel-sel tersebut sudah dalam genggaman intelijen, termasuk di Indonesia. Adalah soal pilihan untuk segera menghancurkan atau menjadikannya mainan.


Dari berbagai arah CIA membidik serta menghangatkan suasana perang melawan teror di Indonesia. Itulah mengapa BIN pernah memberikan peringatan kepada CIA bahwa BIN tahu gerakan mereka melalui salah satu agennya, lihat Sidney Jones. Lihat juga Why Sidney Jones. Hal ini menjadi semakin menarik bila kita berkunjung ke indymedia.


Namun kemudian terjadi kesepahaman dengan rejim SBY untuk memerangi terorisme dari berbagai arahnya.


Saran dari Blog I-I, selidiki akar terorisme dengan pengungkapan seluruh jaringnya termasuk infiltran yang mendorong alumni Mujahidin untuk melakukan tindakan teror.
Hal yang sangat ditakuti adalah apabila seluruh elemen Islam garis keras maupun moderat semua sadar dengan permainan intelijen ini, sehingga terbuka dialog yang lebih baik. Namun saat ini sudah ada upaya pembentukan konflik antara Islam berorientasi internasional dengan Islam asli Indonesia (NU & Muhammadiyah), sehingga Islam di Indonesia tidak akan pernah kuat. Hal cukup menarik adalah semakin kuatnya pengaruh propaganda liberalisme Islam yang sesungguhnya memiliki dasar sederhana nasionalisasi sekulerisme, namun semakin kebabalasan dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan beragama yang membuat marah kelompok Islam tradisional maupun internasional.


Semoga tidak adalagi ledakan, yang sesungguhnya rencananya tidak bergantung pada ditangkapnya AD, NMT atau siapapun, karena dengan mudah akan ada pemimpin baru yang sudah disusupi oleh infiltran, contoh faktual adalah Umar Farouq.


Kepada segenap komunitas pejuang Jihad yang meyakini perang adalah kewajiban, mohon direnungi baik-baik.
Sekian

 

Sumber:

http://intelindonesia.blogspot.com/2007/06/skenario-terbaru-terorisme-indonesia.html

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Abubakar Ba'asyir : Orang Kafir Tak Boleh Dibunuh

Kemarin siang Pesantren Al-Mukmin di Ngruki, Sukoharjo, lebih ramai daripada biasanya. Puluhan wartawan dari dalam dan luar negeri berdatangan ke pesantren itu. Mereka mencari kabar seputar Nur Said, lulusan Ngruki yang diduga terkait dengan pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Mega Kuningan, Jakarta.
Meski membenarkan bahwa Nur Said pernah mondok di pesantren yang didirikannya, Abubakar Ba'asyir mengaku tak pernah mengenal bekas santri yang kini dicari-cari polisi itu. Berikut ini petikan wawancara sejumlah wartawan, termasuk Ahmad Rafiq dari Tempo, dengan Abubakar.

Bekas santri Anda, Nur Said, disebut-sebut terlibat pengeboman?

Itu kan baru dugaan. Belum tentu benar. Menurut saya, tidak semudah itu orang keluar-masuk hotel yang penjagaannya ketat. Kalaupun itu benar, saya yakin ada pihak-pihak yang menunggangi. Seperti pada kasus bom Bali. Yang percaya bom Bali buatan Muchlas hanya orang idiot.


Anda mengenal Nur Said?
Tidak. Memang dia pernah menjadi santri di sini dan lulus pada 1994, namun waktu itu saya masih di Malaysia, tak pernah bertemu dengannya. Setelah dia lulus, kami belum pernah bertemu. Mendengar namanya saja juga baru kemarin. Kalau Muchlas, memang saya pernah bertemu.

Jadi, menurut Anda, peledakan bom di Mega Kuningan itu....

Saya curiga peledakan itu rekayasa oleh lawan-lawan Islam. Tujuannya, memfitnah umat Islam, agar pemerintah bertindak represif terhadap umat Islam. Misalnya agar para mubalig ditangkapi.


Anda percaya Noor Din M. Top berada di balik peledakan bom tersebut?
Kalau sudah tidak senang, orang cenderung langsung menuduh. Padahal bukti-buktinya belum ada. Saya justru menduga Amerika berada di balik kejadian tersebut. Rekayasa sengaja dibuat untuk memojokkan Islam. Namun ini baru praduga.

Ada kemiripan bom Kuningan dengan bom Bali?

Saya bukan ahli bom. Jika dikatakan bom itu bom bunuh diri, zahirnya memang begitu. Namun orang kafir juga bisa melakukan bom bunuh diri. Mudah-mudahan polisi jujur dalam menangani kasus ini.


Beberapa lulusan Pesantren Ngruki dituduh terlibat aksi terorisme. Tanggapan Anda?
Tidak ada alumni pondok yang terlibat terorisme. Kalau ada yang terlibat jihad, itu benar. Meskipun begitu, saya tidak sependapat dengan Muchlas dan kawan-kawan mengenai jihad yang mereka lakukan. Bagi saya, pengeboman hanya bisa dilakukan dalam keadaan perang. Sedangkan seperti di Indonesia, lebih baik mendahulukan dakwah.

Berarti jihad mereka tidak sesuai dengan ajaran Al-Mukmin?

Yang dipelajari di sini Quran dan Hadis. Jihad dengan cara pengeboman, menurut ijtihad saya, boleh dilakukan dalam keadaan perang. Sedangkan Muchlas menggunakan ijtihad yang berbeda. Namun belum tentu ijtihad saya itu benar dan ijtihad mereka yang salah. Bisa jadi ijtihad saya yang salah.


Apa pendapat Anda soal banyaknya korban dalam pengeboman di JW Marriott dan Ritz-Carlton?
Seharusnya tidak begitu. Orang kafir pun, jika tak memusuhi Islam, tak boleh dibunuh. Kita bisa hidup berdampingan. Hanya orang yang terlibat dalam gerakan memusuhi Islam, meskipun hanya terlibat secara pemikiran, yang boleh dan wajib dibunuh.

Sumber:

http://tempointeraktif.com/hg/politik/2009/07/23/brk,20090723-188560,id.html

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Ini, Transkrip Pernyataan SBY tentang Bom Mega Kuningan

Halaman Depan Kantor Presiden, Jakarta, Jumat, 17 Juli 2009
Mengenai Aksi Pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton
<Sepenuhnya dikutip dari sini>http://www.presidensby.info/index.php/pers/presiden/2009/07/17/439.html

KETERANGAN PERS
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
TERKAIT AKSI BOM DI HOTEL JW MARRIOTT DAN RITZ CARLTON

HALAMAN DEPAN
KANTOR PRESIDEN, JAKARTA

17 Juli 2009

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Saudara-saudara,
Rakyat Indonesia yang saya cintai di manapun saudara berada. Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita. Terjadi lagi serangan atau pemboman yang dilakukan oleh kaum teroris di Jakarta. Aksi teror ini diperkirakan dilakukan oleh kelompok teroris, meskipun belum tentu jaringan terorime yang kita kenal selama ini terjadi di bumi Indonesia yang menimbulkan derita dan kesulitan yang dipikul seluruh rakyat Indonesia.

Aksi yang tidak berperikemanusian ini juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka bagi mereka yang tidak berdosa. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, atas nama negara dan pemerintah, dan selaku pribadi, kepada para keluarga yang berduka saya mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga saudra-saudara kita yang menjadi korban hidup tenang di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saudara-saudara,
Aksi pemboman yang keji dan tidak berperikemanusiaan serta tidak bertanggungjawab ini terjadi ketika baru saja bangsa Indonesia melakukan pemungutan suara dalam rangka Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, dan ketika KPU sedang menghitung hasil pemungutan suara itu. Kejadian ini yang sangat merusak keamanan dan kedamaian di negeri ini. Juga terjadi ketika rakyat sungguh menginginkan suasana yang tetap aman, tenang, dan damai. Dan justru rakyat ingin agar selesainya pemilihan umum 2009 ini kita semua segera bersatu membangun kembali negara kita untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Terus terang juga, aksi pemboman ini terjadi ketika rakyat merasa prihatin atas kegaduhan politik di tingkat elit, disertai –sebagaimana yang saya ikuti tiap hari– ucapan-ucapan yang bernada menghasut dan terus memelihara suhu yang panas dan penuh dengan permusuhan yang itu sesungguhnya bukan menjadi harapan rakyat setelah mereka semua melaksanakan kewajiban demokrasinya beberapa saat yang lalu.

Saudara-saudara,
Saya yakin hampir semua diantara kita merasa prihatin, berduka, dan menangis dalam hati, seperti yang saya rasakan. Memang ada segelintir orang di negeri ini yang sekarang tertawa puas, bersorak dalam hati, disertai nafsu amarah dan keangkaramurkaan. Mereka, segelintir orang itu, tidak memiliki rasa kemanusiaan, tidak peduli dengan kehancuran negara kita akibat aksi teror ini yang dampaknya luas bagi ekonomi kita, iklim usaha kita, kepariwisataan kita, citra kita di mata dunia dan lain-lain lagi.

Saat ini saudara-saudara, disamping kita, pemerintah menjalankan kegiatan tanggap darurat untuk merawat saudara-saudara kita yang menjadi korban dalam aksi pemboman ini. Investigasi juga tengah dilakukan. Saya telah menerima laporan awal dari investigasi yang sedang berlangsung ini. Setelah saya menerima laporan awal, saya telah menginstruksikan kepada Polri, Badan Intelejen Negara, dan lembaga-lembaga negara terkait untuk melakukan investigasi secara cepat dan menyeluruh, serta mengadili pelaku-pelakunya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Saya yakin sebagaimana yang dapat kita ungkapkan di waktu yang lalu, para pelaku dan mereka-mereka yang menggerakkan aksi terorisme ini akan dapat kita tangkap dan akan kita adili secara hukum. Saya juga menginstruksikan kepada para penegak hukum untuk juga mengadili siapa saja yang terlibat dalam aksi terorisme ini. Siapapun dia, apapun status dan latar belakang politiknya.

Pagi ini saya mendapat banyak sekali pernyataan atau saudara-saudara yang mengingatkan kepada saya yang berteori, paling tidak mencemaskan, kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pemilihan presiden sekarang ini. Saya meresponnya sebagai berikut, bahwa kita tidak boleh main tuding dan main duga begitu saja. Semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum. Negara kita adalah negara hukum dan juga negara demokrasi. Oleh karena itu norma hukum dan norma demokrasi harus betul-betul kita tegakkan. Bila seseorang bisa dibuktikan bersalah secara hukum, baru kita mengatakan yang bersangkutan bersalah.

Saya lanjutkan. Saya harus mengatakan untuk pertama kalinya kepada rakyat Indonesia bahwa dalam rangkaian pemilu legislatif dan pemilihan presiden serta wakil presiden tahun 2009 ini, memang ada sejumlah informasi intelijen yang dapat dikumpulkan oleh pihak berwenang. Sekali lagi ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun terus kita pantau dan ikuti. Intelijen yang saya maksud adalah adanya kegiatan kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya, foto SBY, dijadikan sasaran. Dijadikan lisan tembak. Ini saya tunjukkan.

Ada rekaman videonya, ini mereka yang berlatih menembak. Dua orang menembak pistol. Ini sasarannya. Dan ini foto saya dengan perkiraan tembakan di wilayah muka saya dan banyak lagi. Ini intelijen, ada rekaman videonya, ada gambarnya. Bukan fitnah, bukan isu. Saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu. Masih berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil pemilu.

Ada pula rencana untuk pendudukan paksa KPU, pada saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. Ada pernyataan, akan ada revolusi jika SBY menang. Ini intelijen, bukan rumor, bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan, kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu. Dan puluhan intelijen lagi yang sekarang berada di pihak yang berwenang.

Tadi pagi, terus terang, sebagaimana kebiasaan saya, saya ingin langsung datang ke lokasi. Tapi Kapolri dan semua pihak menyarankan jangan dulu, karena memang belum steril. Masih dibersihkan, masih disisir, dan ancaman setiap saat bisa datang, apalagi dengan contoh yang saya sampaikan tadi. Ancaman fisik.

Tetapi tentu hidup dan mati di tangan Allah SWT. Saya tidak boleh terhalang dalam menjalankan tugas saya untuk rakyat, untuk negara ini. Dan karena pengamanan presiden berada di pundak TNI, saya yakin TNI telah mengambil langkah-langkah seperlunya. Terhadap semua intelijen itu, saudara-saudara, apakah terkait dengan aksi pemboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran penegak hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif, tegas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Andaikata tidak terkait ancaman-ancaman yang terjadi itu, dengan aksi pemboman hari ini, tetaplah harus dicegah, harus dihentikan karena anarkhi tindakan kekerasan, perusakan, tindakan melawan hukum bukan karakter demokrasi, bukan karakter negara hukum. Sangat jelas. Atas semuanya ini, saya selaku kepala negara dan kepala pemerintahan mengutuk keras aksi teror yang keji ini. Saya juga sangat-sangat prihatin dengan kejadian ini. Barangkali, atau biasanya dalam keadaan seperti ini banyak diantara kita yang kurang berani menyampaikan kecaman dan kutukannya, barangkali karena pertimbangan politik. Saya dengan bahasa terang harus menyampaikan seperti itu, karena demikian amanah saya sebagai kepala negara.

Mengapa saya sangat-sangat prihatin? Pertama, saudara tahu lima tahun terakhir ini ekonomi kita tumbuh dengan baik. Dunia usaha, kepariwisataan, swasembada pangan, investasi, perdagangan, sektor riil, semuanya bergerak meskipun kita terus menghadapi krisis-krisis global yang datang silih berganti. Yang kedua, satu minggu terakhir ini saja nilai saham kita menguat tajam, nilai tukar rupiah juga menguat. Dengan ekonomi yang terus tumbuh, kesejahteraan rakyat kita sesungguhnya secara bertahap juga terus meningkat. Termasuk dapat dilaksanakannya program-program penanggulangan kemiskinan, program-program pengurangan pengangguran, yang sering saya sebut dengan program prorakyat.

Semua itu terjadi, saudara-saudara rakyat Indonesia yang saya cintai, karena tahun-tahun terakhir ini negara kita benar-benar aman dan damai. Sehingga disamping ekonomi tumbuh, rakyat kita di seluruh pelosok tanah air bisa bekerja, bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan tenang, bebas dari rasa ketakutan. Sementara itu citra kita di mata dunia tahun-tahun terakhir ini juga makin meningkat karena dunia menilai negara kita makin aman, tertib, dan damai. Negara kita memiliki kehidupan demokrasi yang makin mekar, serta penghormatan kepada hak asasi manusia yang makin baik. Negara yang ekonominya juga tumbuh dan negara yang berperan dalam percaturan global. Bahkan, ini yang sangat memilukan, sebenarnya kalau tidak ada kejadian ini, klub sepakbola terkenal di dunia, Manchaster United, berencana untuk bermain di Jakarta.

Saudara-saudara,
Dengan aksi-aksi teror yang keji dan tidak bertanggungjawab ini, apa yang telah kita bangun hampir lima tahun terakhir ini oleh kerja keras dan tetesan keringat seluruh rakyat Indonesia, lagi-lagi harus mengalami goncangan dan kemunduran. Lagi-lagi dampak buruknya harus dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia, minus mereka-mereka yang melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab itu.

Oleh karena itu kebenaran dan keadilan serta tegaknya hukum harus diwujudkan. Saya bersumpah, demi rakyat Indonesia yang sangat saya cintai, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan yang tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pemboman ini, berikut otak dan penggeraknya, ataupun kejahatan-kejahatan lain yang mungkin atau dapat terjadi di negeri kita sekarang ini.

Kepada Polri, TNI, BIN, termasuk kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota, saya minta untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terus berusaha keras mencegah aksi-aksi teror dan kemudian yang lebih penting lagi, para penegak hukum harus betul-betul bisa mencari, menangkap, dan mengadili para pelaku, para penggerak, dan otak di belakang kekerasan ini. Barangkali ada diantara kita yang di waktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali dan para pelaku itu masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita.

Saya tahu selama 5 tahun ini pihak kepolisian telah berkali-kali mencegah dan menggagalkan aksi terorisme. Telah bisa menyita bahan peledak yang siap diledakkan. Sudah bisa membongkar beberapa jaringan, meskipun lolos hari ini, terjadilah musibah yang sangat merobek keamanan dan nama baik bangsa dan negara kita. Agar tugas untuk mencegah dan memberantas terorisme ini, serta kejahatan-kejahatan lain dapat dilaksanakan dengan baik, intelijen harus benar-benar tajam. Pencegahan harus benar-benar efektif. Polri, BIN, TNI harus benar-benar bersinergi. Sikap lengah dan menganggap ringan sesuatu harus dibuang jauh-jauh. Ini amanah kita kepada rakyat, kepada negara.

Kepada rakyat Indonesia, seraya juga meningkatkan kewaspadaan, tetaplah menjalankan profesi dan kehidupan saudara secara normal. Jika ada keganjilan segera beritahu Polri. Jangan biarkan kaum teroris beserta otaknya berkeliaran di sekeliling saudara. Saudara pun bisa menjadi korban setiap saat manakala kaum teroris itu dibiarkan merancang lagi aksi-aksi terornya di negeri kita ini.

Selanjutnya ke depan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, seluruh komponen bangsa untuk marilah kita lebih bersatu dan sama-sama menjaga keamanan dan kedamaian di negeri ini. Bangsa manapun, agama apapun, kita semua tidak membenarkan terorisme. Apapun motif dan alasannya. Jangan ragu-ragu, jangan setengah hati, dan jangan takut untuk mencegah dan memberantas terorisme. Sementara itu aksi teror yang terjadi hari ini jangan pula menghalang-halangi semangat dan upaya kita untuk membangun dan memajukan negara kita ini.

Kita harus terus berjuang untuk membikin ekonomi yang lebih baik, politik, demokrasi, dan penghormatan kepada HAM lebih baik, penegakkan hukum, pembangunan daerah, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan lain sebagainya. Memang ada kerusakan akibat aksi terorisme hari ini. Mari bersama-sama kita perbaiki. Dan kemudian mari kita terus bangkit dan maju kembali. Kita bangsa, negara, rakyat tidak boleh kalah dan menyerah kepada terorisme. Tidak boleh membiarkan kekerasan, ekstrimitas, dan kejahatan-kejahatan lain terus tumbuh di negeri ini.

Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT akan melindungi dan menyelamatkan kehidupan bangsa Indonesia. Dan dengan memohon ridho Allah SWT, saya sampaikan kepada saudara-saudara rakyat Indonesia, saya akan terus berada di depan untuk menghadapi ancaman dan tantangan ini, serta untuk mengemban tugas yang berat namun mulia ini.

Demikian pernyataan saya.

Terimakasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sumber:

http://teguhtimur.com/2009/07/18/ini-transkrip-pernyataan-sby-tentang-bom-mega-kuningan

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Sering Dikaitkan dengan Bencana, SBY Punya Alasan Singgung Reaksi Pasca Pilpres 2009

Banyak pihak yang tercengang dan kaget mendengar Presiden SBY mengaitkan pengeboman di dua hotel mewah di kawasan Mega Kuningan Jakarta dengan ketidakpuasan kelompok tertentu terhadap hasil pemilihan presiden yang baru lalu.

Kekagetan itu semakin besar manakala SBY mulai membawa-bawa cerita tentang operasi intelijen yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk, bukan hanya mengganjal pelantikan dirinya sebagai presiden periode 2009-2014, tapi, menghabisi nyawanya.

Di tengah jumpa pers untuk menyikapi aksi pengeboman di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton di Istana Merdeka usai shalat Jumat atau beberapa jam setelah kedua bom meledak (17/7), seorang ajudan mendatangi SBY dan membisikkan sesuatu di telinganya sebelum memberikan beberapa foto dalam ukuran besar.

Foto-foto inilah yang kemudian diperlihatkan SBY kepada wartawan. Foto-foto itu memperlihatkan dua orang yang mengenakan baju hitam-hitam juga penutup kepala hitam sedang latihan menembak di sebuah tempat yang dipenuhi pepohonan. Sebuah foto menampilkan sasaran tembak yang mereka gunakan dalam latihan itu, yang tak lain adalah wajah SBY. Ada sebuah lubang tembakan di bagian pipi kiri gambar itu.

“Saya harus mengatakan untuk pertama kalinya bahwa dalam rangkaian Pemilu 2009 ini memang ada sejumlah (aksi) intelejen yang dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang. Ini memang tidak pernah kita buka kepada umum dan publik meskipun kita pantau dan ikuti,” ujar SBY.

Pernyataan SBY ini membuat banyak orang yang mendengarkannya untuk beberapa waktu lupa pada peristiwa pengeboman di Mega Kuningan. Mendengarkan SBY membeberkan rencana jahat yang dipersiapkan kelompok tertentu untuk menghabisi nyawanya membuat banyak orang tercenung dicekam kengerian.

Ada yang mulai mengait-engaitkan pengeboman JW Marriott dan Ritz Carlton dengan rencana jahat yang sedang dipresentasikan SBY itu.

Pengamat militer dan pertahanan dari Universitas Indonesia (UI), Andi Widjajanto, di layar televisi setelah SBY memamerkan foto-foto itu mengatakan bahwa sebenarnya ada dua hal berbeda yang dibicarakan SBY. Pertama, sudah barang tentu pernyataan resmi pemerintah mengenai aksi pengeboman di Mega Kuningan yang memporakporandakan semua prestasi yang sudah dicapai bangsa Indonesia dalam lima tahun terakhi. Aksi yang mana telah menelan sembilan nyawa.

Hal kedua yang disampaikan SBY adalah operasi intelijen yang menurut SBY dilakukan oleh orang-orang yang tak menginginkan dirinya dilantik sebagai presiden, yang menginginkan Indonesia mengalami kerusuhan seperti di Iran, yang menginginkan revolusi di negara ini, juga segelintir orang yang sekarang tertawa puas dan bersorak di dalam hati disertai nafsu angkara murka mereka menyusul pengeboman itu.

Inilah biasnya. Mestinya SBY dapat memisahkan dua hal tersebut, dan menyampaikannya dalam kesempatan yang berbeda. (Terlepas bahwa tetap akan banyak orang yang bertanya-tanya: mengapa bila sudah tahu tentang operasi intelijen untuk membunuh SBY, aparat pemerintah tidak melakukan apapun, kecuali memotret dan merekam).

Apabila dua hal itu disampaikan secara terpisah, tentulah tidak sempat terjadi kebingungan di kalangan rakyat.

Di sisi lain, SBY memiliki alasan yang kuat untuk tampil tegas dalam jumpa pers itu. SBY kelihatannya tahu pasti bahwa dirinya kerap dikaitkan dengan berbagai bencana dan petaka yang belakangan ini memang akrab menyapa kita. Juga SBY tampaknya paham bahwa masyarakat Indonesia masih gampang menerima cerita yang irasional dan imajinatif, misalnya cerita yang mengaitkan segala bencana alam dengan kepemimpinannya itu, sebagai sebuah kebenaran.

Belum lagi, SBY tentu ingat bahwa dalam masa kampanye Pilpres 2009 yang lalu sempat ada kelompok tak dikenal yang berusaha memojokkan dirinya dengan menyebarkan spanduk-spanduk yang berisi pesan bahwa SBY sama dengan bencana, dan memilih SBY sama dengan memilih bencana. Bahkan, ada juga pihak yang menerbitkan buku mengenai keterkaitan antara SBY dengan berbagai bencana itu.

Sebagai orang yang mengedepankan logika dan akal sehat, tentulah tidak mudah bagi penulis untuk menerima cerita yang mengaitkan SBY dengan berbagai bencana alam dan petaka. Cerita-cerita seperti itu, yang mengaitkan SBY dengan bencana alam di Indonesia, adalah imajinatif, tahayul dan di luar akal sehat.

Menyimak pernyataan SBY penulis menangkap pesan lain yang tersirat. Pesan itu adalah: bencana alam dan malapetaka, juga terorisme termasuk dalam bentuk aksi bom bunuh diri, berdiri dekat dengan kita.

Mereka ini siap meledak kapan saja dan di titik mana saja. Bencana dan malapetaka itu tidak ada hubungannya dengan kepemimpinan seseorang di Indonesia. Artinya lagi, masyarakat Indonesia harus siap dan siaga menghadapi semua kemungkinan itu dengan bersatu padu. Intinya, bencana atau malapetaka apapun itu adalah ancaman untuk kita semua.

Bukan begitu Pak SBY?

 

Sumber:

http://teguhtimur.com/2009/07/18/sering-dikaitkan-dengan-bencana-sby-punya-alasan-singgung-reaksi-pasca-pilpres-2009/

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Econit Yakin Pemerintah SBY-Boediono akan Pertahankan Tiga Agenda Pokok Neolib

Selama masa kampanye Pilpres 2009 pasangan SBY-Boediono telah mengkonfirmasi kepatuhan mereka pada agenda kaum neoliberal di Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Econit, Hendri Saparini, setidaknya masyarakat dapat mengetahui bahwa ada tiga program pokok ekonomi neolib yang akan dipertahankan dan dikembangkan duet bernomor punggung dua itu bila mereka menang. Kedua program pokok itu adalah satu, privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), liberalisasi di berbagai sektor penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan terakhir menggantungkan pembangunan pada utang luar negeri.

“Capres Boediono dalam berbagai kesempatan selama masa kampanye mengatakan ia akan melanjutkan penjualan Krakatau Steel, BTN (Bank Tabungan Negara), PT. Dok Kapal dan PT. KAI (Kereta Api Indonesia). Pertanyaan kita adalah mengapa BUMN strategis seperti ini hendak dijual? Mengapa pemerintah tidak melakukan pemetaan terlebih dahulu terhadap BUMN yang kita miliki,” kata Hendri Saparini dalam jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta, siang ini (Selasa, 7/7). Selain Hendri Saparini, ekonom senior Rizal Ramli dan Binny Buchori juga hadir.

Hendri Saparini juga mengecam keputusan tim ekonomi SBY untuk meliberalisasi sektor pertanian Indonesia dan Free Trade Agreement (FTA) dengan Australia. Dari sekian hal yang disampaikan kubu SBY selama kampanye, masih kata Hendri Saparini, rakyat mengetahui bahwa kubu SBY lebih mementingkan pencitraan, bertekad menjalankan ekonomi neolib dan tidak peduli pada kepentingan nasional.

Sumber:

http://teguhtimur.com/2009/07/07/econit-yakin-pemerintah-sby-boediono-akan-pertahankan-tiga-agenda-pokok-neolib/

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Cara Soeharto Dapatkan Senjata Baru Made in Amerika

INI adalah bagian terakhir dari pembicaraan antara Soeharto dan Richard Nixon, Mei 1970 di Gedung Putih.

Pada bagian ini, Nixon menguji pandangan Soeharto mengenai peranan Amerika Serikat di Indochina.

Sementara Soeharto terus mendesak agar Amerika Serikat memberikan bantuan militer kepada Indonesia. Karena tanpa itu Indonesia tidak akan mampu membantu Kamboja, yang artinya tidak dapat ikut dalam program besar menghalangi komunisme.

Soeharto bersedia mengirimkan peralatan perang buatan Rusia yang dimiliki Indonesia ke Kamboja, selama Amerika Serikat bersedia menggantinya dengan peralatan perang yang baru.

Kelanjutan dari Ingin Membantu Kamboja, Tapi Tak Punya Senjata, Nixon: Manuver Rusia dan China bisa Bangkitkan PKI, Rusia dan China Tahu Kelemahan Indonesia, dan Soeharto: Mahasiswa Mendukung Orde Baru yang juga dimuat di www.myRMnews.com.

“Ada pihak yang mengatakan bahwa tidak ada bedanya Kamboja dikuasai Vietnam Utara atau tidak. Menurut Anda apa yang akan terjadi bila Vietnam Utara yang mengontrol Kamboja,” tanya Nixon, entah berdiplomasi, entar basa-basi.

Kamboja akan menjadi basis subversi, itu sudah pasti, jawab Soeharto. Juga basis infiltrasi ke negara lain seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia. Kontrol Vietnam Utara atas Kamboja akan mempersulit upaya Vietnamisasi.

Lalu Nixon menegaskan bahwa negaranya tidak punya desain apapun untuk Kamboja. Yang ingin dilakukan Amerika saat ini adalah menghancurkan basis (komunis) di Kamboja dan menarik mundur pasukan dari sana. Bila Vietnam Utara tetap bertahan di Kamboja, maka Vietnam Selatan lah yang harus menghadapi.

Nixon bertanya, mengapa banyak kalangan yang keberatan dengan kehadiran 40 ribu pasukan Vietnam Selatan di Kamboja, tetapi tidak keberatan melihat kehadiran pasukan Vietnam Utara.

“Beberapa orang menilai pemerintahan Kamboja adalah boneka Amerika. Tetapi sebetulnya kami memainkan peranan yang sama seperti di Indonesia ketika Anda jadi presiden. Kedutaan kami dalam kedua kasus ini kecil dan tak punya peranan dalam perubahan pemerintah. Jadi juga penting bila Kamboja menerima bantuan moral dan material dari negara-negara Asia. Kami ingin pandangan tentang pemerintahan Kamboja boneka Amerika dapat segera hilang,” ujar Nixon.

Soeharto masih diam. Ia membiarkan Nixon melanjutkan uraiannya.

“Ada juga yang menilai perang di Kamboja sudah berlangsung sangat lama, dan sekarang saatnya untuk melemparkan handuk. Kami tidak akan melakukan ini.”

Dia juga mengatakan Amerika tidak punya rencana khusus untuk Vietnam Selatan. Tetapi, membiarkan pasukan Vietnam Utara yang juga berpangkalan di Kamboja akan membuat keadaan semakin buruk. Vietnam Utara akan masuk ke Vietnam Selatan, dan akibatnya akan begitu buruk bagi 17 juta rakyat Vietnam Selatan.

Intinya Amerika Serikat beraksi di Kamboja sekadar untuk mengamankan pasukan Amerika di sana dan menjamin Vietnamisasi. “Musuh tahu bahwa Amerika akan beraksi, dan akan terus beraksi bila terancam.”

Nixon pun memuji perhatian Indonesia pada krisis Kamboja. Konferensi di Jakarta sebelumnya mengenai masalah ini jelas berdampak positif bagi pandangan negara-negara Eropa dan Asia, juga rakyat Amerika.

“Bantuan Indonesia untuk Kamboja di mata dunia akan dapat diterima. Peralatan perang Anda yang sudah tua dari Rusia dapat diberikan kepada Kamboja dan kami akan menggantinya.”

Mendapat angin segar ini, Soeharto langsung bersuara.

“Kami akan mempertimbangkan bantuan material (peralatan perang buatan Rusia) untuk Kamboja, tetapi pertama-tama kami inigin mendapatkan kepastian tentang penggantiannya dengan mempertimbangkan kapasitas kami yang terbatas. Sebagai seorang tentara (military man) saya memahami bahwa operasi militer akan memakan waktu lama. Karena itu, saya mengerti kepentingan Amerika Serikat dan Vietnam Selatan dalam operasi di Kamboja.”

Kissinger yang sejak tadi diam, kini bersuara. Dia berusaha menkonkretkan arah pembicaraan Soeharto. Kepada Nixon, Kissinger berkata, “Tuan Presiden, saya rasa maksudnya adalah itu (operasi militer) akan memakan waktu yang sangat panjang.”

Dengan demikian, maksud kalimat Kissinger, bantuan militer untuk Indonesia harus secepat mungkin digelontorkan sehingga Indonesia bisa segera mengirimkan peralatan militer buatan Rusia yang sudah tua ke Kamboja.

Mendengar penjelasan tambahan dari Kissinger, Nixon menambahkan pihaknya akan segera mengkongkretkan pembicaraannya dengan Soeharto hari itu.

Hal pertama yang akan dilakukan adalah mengenai bantuan militer (military assistance) seperti yang sudah dibicarakan Soeharto dengan Dutabesar Amerika Serikat di Jakarta, Galbraith. Dan kedua mengenai kemungkinan pengiriman bantuan peralatan perang (buatan Rusia) dari Indonesia untuk Kamboja yang diikuti “the replacement of these old stocks” dengan peralatan perang made in Amerika.

Sumber:

teguhtimur.com

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!