Kekerasan Pemerintahan SBY Tandingi Gelar Bapak Demokrasi

Untuk menandingi gelar Bapak Pembangunan Demokrasi yang disematkan “Gerakan 98 untuk SBY” kepada SBY beberapa hari lalu, kelompok aktivis 1998 yang mengecam pemberian gelar itu membeberkan rekam jejak kekerasan terhadap mahasiswa yang melibatkan pemerintahan SBY.

Menurut Lalu Hilman Affandi, salah seorang aktivis gerakan mahasiswa angkatan 1998 yang tidak setuju dengan pemberian gelar itu, rekam jejak yang mereka beberkan Kamis siang kemarin (2/7) justru memperlihatkan betapa SBY tidak pantas digelari Bapak Pembangunan Demokrasi.

Sejak awal berkuasa, sebut Lalu Hilman, pemerintahan SBY telah memperlihatan represifitas terhadap gerakan mahasiswa dan prodemokrasi. Tanggal 25 Juni 2005, belum lagi setahun berkuasa, pemerintahan SBY menangkap lima aktivis BEM Universitas Gadjah Mada yang ingin menggelar demonstrasi di Gedung Agung. Sedianya mereka akan mendesak agar SBY merombak tim ekonomi yang dinilai tidak pro rakyat. Bulan Desember 2007 pemerintah menangkap empat aktivis Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) dan 50 aktivis Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di dua tempat yang berbeda, Medan dan Jakarta, pada waktu yang hanya terpaut sebelas hari.

Tanggal 25 Mei 2008, polisi yang saat itu dipimpin oleh Jenderal Sutanto, kini Pembina Gerakan Pro SBY, menyerang kampus Univeritas Nasional, Jakarta. Seorang mahasiswa tewas dan 141 lainnya ditangkap. Dua hari kemudian di Ambon, dua mahasiswa Universitas Darussalam ditangkap karena membakar foto SBY dalam demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Empat bulan kemudian giliran 13 mahasiswa Unhas Jakarta dan 11 mahasiswa Universitas Islam Makassar (UMI) ditangkap karena meminta pemerintahan SBY mengusut kasus Lapindo, BLBI, dan menolak kenaikan harga BBM. Bulan Oktober 2008 lima mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, ditangkap karena menolak kehadiran SBY dalam Dies Natalis kampus mereka. Lalu di akhir tahun itu 21 mahasiswa di Jogjakarta ditangkap karena menolak kehadiran SBY di kota itu.

Di tahun 2009 penangkapan dan represifitas terhadap gerakan mahasiswa terus terjadi. 28 Januari seorang mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, dicokok karena menolak komersialisasi perguruan tinggi. Sebulan kemudian tiga aktivis GMNI Tuban diciduk karena merencanakan demonstrasi menolak kehadiran SBY di kota itu. Lalu 7 Maret 23 mahasiswa di Solo ditangkap karena menggelar demonstrasi saat SBY meresmikan Bandara Adi Sumarmo. Terakhir 9 Juni 2009 sebanyak enam mahasiswa Semarang ditangkap karena meminta pemerintah menolak intervensi asing dan paham neoliberalisme.

Lalu Hilman berharap agar setelah membaca rekam jejak ini, teman-temannya yang sudah terlanjur memberikan gelar Bapak Pembangunan Demokrasi kepada SBY menyadari kekeliruan mereka dan mencabut gelar itu.

Sumber:

http://teguhtimur.com/2009/07/03/kekerasan-pemerintahan-sby-tandingi-gelar-bapak-demokrasi/

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

No comments: