Kata Sandi-sandi rahasia Polisi

Ini rekapan sandi yang lazim digunakan oleh POLRI.
untuk "kasta" tertentu punya sandi yang MASIH RAHASIA.
maksud dari kasta adalah :
- reserse
- intel
- densus

SANDI ANGKA
* 1-1 : Hubungi per telepon
* 1-4 : Ingin bicara diudara (langsung)
* 3-3 : Penerimaan sangat jelek/orang gila
* 3-3L : Kecelakaan korban luka
* 3-3M : Kecelakaan korban material
* 3-3K : Kecelakaan korban meninggal
* 3-3KA : Kecelakaan kereta api
* 3-4-K : Kecelakaan, korban meninggal, pelaku melarikandiri
* 4-4 : Penerimaan kurang jelas
* 5-5 : Penerimaan baik/sehat
* 8-4 : Tes pesawat/penerimaannya
* 8-6 : Dimengerti
* 8-7 : Disampaikan
* 8-8 : Ingin berjumpa langsung
* 10-2 : Posisi/keberadaan
* 10-8 : Menuju
* 2-8-5 : Pemerkosaan
* 3-0-3 : Perjudian <- The Predator
* 3-0-1: lagi kimpoi <- killerinhouse
* 3-3-8 : Pembunuhan
* 3-6-3 : Pencurian
* 3-6-5 : Perampokan
* 8-1-0 : Pembunuhan
* 8-1-1 : Hidup
* 8-1-2 : Berita agar diulangi (kurang jelas)
* 8-1-3 : Selamat bertugas
* 8-1-4 : Laporan/pembicaraan terlalu cepat
* 8-1-5 : Cuaca
* 8-1-6 : Jam/waktu
* 8-1-9 : Situasi

SANDI HURUF
* Taruna : Berita
* Gelombang : Jam/waktu
* Semut : Pelajar
* Lalat : Mahasiswa
* Pangkalan : Rumah/kediaman
* Cangkulan : Kantor/tempat kerja
* Gajah : Derek
* Komando : Kantor polisi
* Tikar : Surat
* Buntut tikus : Antena pendek (HT)
* Belalai gajah : Antena atas
* Laka : Kecelakaan
* Jaya 65 : Kebakaran
* Timor Kupang Pati : Tempat Kejadian Perkara
* Timor Lombok Pati : Telepon
* Timor Kupang Ambon : TerKendali Aman
* Halong Timur : Handy Talky (HT)
* Halong Pati : Hand Phone (HP)
* Kupang Rembang : KendaRaan
* Kupang Ambon : Kereta Api
* Wilis Kendal : Walikota
* Kendal Cepu : KeCamatan
* Kendal Lombok : KeLurahan
* Rembang Wilis : RW
* Rembang Timur : RT
* Rembang Rembang : Serse
* Rembang Solo : Rumah Sakit
* Rembang Pati : Rupiah
* Anak Kijang : Pencuri/Tersangka
* Ambon Demak : Angkatan Darat
* Ambon Lombok : Angkatan Laut
* Ambon Ungaran : Angkatan Udara
* Pati Medan : Polisi Militer
* Timor Medan : Tamu/Teman
* Lombok-Lombok : Lalu Lintas
* Timor Lombok : Lampu Lalu Lintas/Traffic Light
* Sepi : Senjata Api
* Sajam : Senjata Tajam
* Curat : Pencurian Dengan Pemberatan
* Curas : Pencurian Dengan Kekerasan
* Curanmor : Pencurian Kendaraan Bermotor
* Bandung Umar Solo : BUS
* Medan-Medan : Metro Mini
* Pati Demak Irian : Jam/Waktu
* Solo Medan Pati : Pelajar
* Solo Medan Ungaran : Mahasiswa
* Solo Timur Medan : Rumah/Kediaman
* Opak Kendal Jepara : Kantor/Tempat Kerja
* Opak Pati Solo : Derek
* Lombok Pati : Kantor Polisi
* Lombok Irian : Surat
* Lombok Demak : Antena Pendek (HT)
* Bandung-Bandung : Barang Bukti (BB)
* Bandung2 Padat : Makan
* Bandung2 Medan : Bahan Bakar Minyak
* Lampiran/Ambon : Istri
* Monik : Anak
* Solo Bandung : Stand By
* Solo Garut : SiaGa
* Medan Demak : Meninggal Dunia
* Pati Ambon Medan : Pengamanan
* Ambon Pati-Pati : Apel
* Palang Hitam : Mobil Jenazah
* Demak Pati Kendal : Dinas Pemadam Kebakaran
Sandi Pangkat Kesatuan
* Kresna : Presiden
* Bima : Wakil Presiden
* Timor Bandung I : Kapolri
* Metro I : Kapolda
* Timor I : Kapolres
* Jajaran 1 : Kapolsek
* Jajaran 2 : Wakapolsek
* Jajaran 3 : Serse
* Jajaran 4 : Sabhara
* Jajaran 5 : Bimas/Babinkamtibmas
* Jajaran 6 : Lantas/Lalu Lintas

bandung bandung padat = makan

3-0-1: lagi kawin

anggota polisi d jogja...
75.x(x=1-10)
itu bwt ce, 1-10 adalah skor utk ce

Ada lagi yang umum diucapin di penjara/polsuspas
Posko=komandan regu
Posko 2=wadanru
01=pas 1= kalapas
02=pas 2=ka kplp
Palkam = Kepala Kamar
Bebek = pendatang baru

T-14-Koperasi Wahana Kalpika : angkot cipayung-ciracas

klo di penjara 88 itu lg sibuk/jangan diganggu api 88 kadang diartikan,,,napix lagi ehem ehem ama pembesuk

Source:

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2466219

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Misteri “Teroris Import” Ali Muhammad agen CIA ?

Pada 18 Agustus 2009, Polisi menahan Ali Muhammad, warga negara asing, yang diduga ikut terlibat dalam menyediakan dana untuk membiayai aksi pemboman 17 Juli 2009 di JW Marriott dan Ritz Carlton [1].

Ali Muhammad disebut sebagai warga negara Arab Saudi. Namun, Duta Besar Arab Saudi di Jakarta, Abdul Rahman Al Hayyat membantah tersangka teroris yang ditangkap Tim Densus 88 itu adalah warga negaranya[2].

Polisi menduga Ali Muhammad adalah anggota Al Qaeda. Namun, hingga kini polisi belum bisa memastikan hal itu. Dilaporkan juga bahwa polisi kesulitan mencari tahu siapa sebenarnya Ali Muhammad. Menurut Mardigu, psikolog hipnoterapis yang kerap dimintakan bantuan oleh Polisi, Ali memiliki defence yang bagus seolah-olah dia sudah menyiapkan skenario jika ditangkap [3].

Dalam jejak rekam Al Qaeda, nama “Ali Muhammad” merujuk kepada “asisten” Osama bin Laden. Menurut Lary Johnson, bekas deputi kepala counter-terrorism di Departemen Luar Negeri AS, Ali Muhammad adalah seorang militan yang memenuhi profil seorang “agen ganda” [4].

Dia berkebangsaan Mesir dan seorang mayor di angkatan darat Mesir tetapi pada 1980-an menjadi warga negara AS setelah menikahi perempuan AS dari Santa Clara, California . Tak lama setelah itu, ia masuk angkatan darat AS dan ditempatkan di unit khusus Special Warfare Center di Fort Bragg, North Carolina sebagai instruktur. Murid-muridnya banyak yang bertugas pada Special Activities Division CIA [5].

Selama perang Afghanistan, Ali Muhammad melatih pejuang mujahidin di perbatasan Afghan-Pakistan. Bahkan Agen Khusus FBI Jack Cloonan menyebutnya sebagai “bin Laden’s first trainer” [6].

Pada 1998 Ali Muhammad ditahan dalam kaitan dengan pemboman kedubes AS di Nairobi dan Tanzania. Pada tahun 2000, dia dinyatakan bersalah. Namun, tidak pernah ada laporan tentang hukumannya. Bahkan Federal Departement of Prisons Inmate tidak memiliki catatan narapidana bernama Ali Muhammad. Seorang jurnalis AS, Patrick Briley pernah menulis laporan bahwa Ali Muhammad sudah dibebaskan atas perintah langsung Departemen Kehakiman pemerintahan Bush di bawah Alberto Gonzales.

Jika benar bahwa “Ali Muhammad” yang ditangkap Densus 88 adalah “Ali Muhammad” yang banyak disebut-sebut itu, maka ia adalah sumber informasi penting untuk mengungkap jaringan terorisme internasional di Indonesia. Siapa pun dia sebenarnya, polisi harus memastikan Ali Muhammad diadili di Indonesia agar jelas apa peran dan kesalahannya dalam aksi pemboman itu. Jangan sampai kasus kontroversial Umar Al Farouq terulang kembali.

[1] “Penyandang dana teroris ditangkap?”, kompas.com, 19 Agustus 2009.

[2] “Al Hayyat: Ali Muhammad bukan warga Arab Saudi”, metronews.com, 23 Agustus 2009.

[3] “Polisi dinilai kesulitan interogasi Ali Muhammad”, detiknews.com, 22 Agustus 2009.

[4] “Egyptian agent worked with Green Berets, bin Laden”, Jerusalem Post, 31 Desember 2001.

[5] “Bin Laden’s man in Silicon Valley”, sfgate.com, 21 September 2001.

[6] Wayne Madsen, “CIA Collusion with “Al Qaeda” financier and attacks planner”, waynemadsenreport.com, 24 Agustus 2009.
[7] “Interview with FBI special agent Jack Cloonan”, Frontline, PBS, 18 Oktober 2005.

Posted by Jemala Gembala

Source:

http://muhsinlabib.wordpress.com/2009/09/01/misteri-teroris-import-ali-muhammad/

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Inilah 10 Fakta Tentang Noordin M Top!

JAKARTA, KOMPAS.com - Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Pepatah ini mungkin tepat menggambarkan sepak terjang gembong teroris Noordin M Top (41).

Setelah sembilan tahun diburu, akhirnya Noordin berhasil ditumpas oleh Detasemen Khusus 88 Mabes Polri dalam sebuah penyergapan selama sembilan jam di Kampung Kepuh Sari RT 3 RW 11, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.

Penyergapan berlangsung berlangsung sejak Rabu (16/9) tengah malam. Berikut ini adalah sepuluh fakta tentang gembong teroris paling dicari di Asia Tenggara ini:

1. Noordin, lahir 11 Agustus 1968, merupakan warga negara Malaysia yang menyelundup masuk ke Indonesia melalui Riau pada awal tahun 2002. Sebelum ke Indonesia, sejak tahun 1995 Noordin terlebih dahulu aktif di Pondok Pesantren Luqmanul Hakiem yang berafiliasi pada jaringan Jemaah Islamiyah. Di ponpes yang pada puncaknya pernah memiliki 350 santri tersebut, Noordin sempat dipercaya menjabat sebagai kepala sekolah.

2. Tidak saja dikenal sebagai ahli perakit bom, jebolan Universiti Teknologi Malaysia ini juga memiliki reputasi dalam merekrut "calon pengantin" atau pelaku bom bunuh diri.

3. Noordin dipercaya bertanggung jawab atas empat bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia, seperti Bom JW Marriott pada tahun 2003, Bom Kedutaan Besar Australia pada tahun 2004, tiga restoran padat warga asing di Denpasar, Bali, pada tahun 2005, serta Bom Mega Kuningan pada tahun 2009. Atas tindakan tersebut, lebih 200 orang tewas. Angka ini terdiri dari korban lokal maupun warga asing.

4. Ketika hengkang dari Malaysia, Noordin meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Selama buron di Indonesia, Noordin setidaknya telah menikahi dua warga Indonesia. Kedua orang tersebut adalah Munfiatun, dinikahinya pada bulan Mei 2004, dan Arina Rahmah, pada bulan September 2005.

5. Noordin dikenal sebagai gembong teroris yang licin bak belut. Pria kelahiran Johor ini setidaknya telah empat kali lolos dalam penyergapan oleh Densus 88. Pertama pada bulan November 2005 di Kota Batu, Jawa Timur. Pada penyergapan ini, Dr Azahari tewas tertembak. Kedua pada penyergapan di Wonosobo bulan April 2006. Ketiga pada penyergapan di Palembang bulan Juli 2008. Terakhir di Bekasi pada bulan Agustus 2009.

6. Noordin bersama kelompoknya diyakini pernah merencanakan penyerangan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertengahan bulan Agustus 2009. Hal ini terungkap seiring ditemukannya sekitar setengah ton bahan peledak di Perumahan Puri Nusa Phala, Bekasi.

7. Kemampuan Noordin dalam merekrut dan merencanakan pengeboman diyakini telah terwariskan ke pengikutnya. Hal ini terbukti dengan keberadaan Ustadz Saifudin Zuhri bin Jaelani Irsyad. Saifudin Zuhri berhasil merekrut Ibrohim, penata bunga di Ritz-Carlton, dalam perencanaan peledakan bom Mega Kuningan. Mabes Polri sendiri mengungkapkan, Ibrohim memegang peranan dominan dalam perencanaan bom Mega Kuningan, di antaranya melakukan survei dan menyelundupkan bom ke dalam hotel melalui akses masuk karyawan.

8. Selama buron, Noordin lebih banyak menghabiskan waktunya di berbagai pelosok kota di Pulau Jawa, mulai dari Bandung, Cilacap, Solo, Surabaya, hingga Blitar. Pulau Jawa yang padat dan masyarakatnya yang cenderung permisif turut mendukung persembunyiannya. Noordin juga diyakini tidak pernah singgah di tempat yang pernah ditinggalinya.

9. Mabes Polri pernah "menghargai kepala" Noordin Rp 1 miliar.

10. Noordin tewas dalam penyergapan di Jebres, Solo, pada tanggal 16 September. Noordin tewas bersama dengan Susilo alias Adib, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Aji. Dua orang terakhir ini merupakan orang yang masuk ke dalam daftar pencarian orang Mabes Polri.

 

Source:

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/09/18/05472892%20/inilah.10.fakta.tentang.noordin.m.top.

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Isu Komisi Untuk Susno Duadji

Tidak mudah bagi pengusaha tembakau Budi Sampoerna meminta kembali uangnya yang digelapkan pemilik lama Bank Century, Robert Tantular. Ia minta bantuan Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Jenderal Susno Duadji untuk memfasilitasi pencairannya. Langkah ringan petinggi polisi ini justru menimbulkan aroma tak sedap. Apa betul ada komisinya?

WAKTU sudah melewati pukul sembilan malam. Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Jenderal Susno Duadji tak juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal ia sebagai pengundang. Setelah dinanti lebih dari dua jam, barulah mantan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat ini tiba di Restoran Bebek Bengil di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat, Senin lalu. ”Maaf terlambat, saya tarawih dulu dengan Presiden di Istana Bogor,” ucapnya sambil menyalami Tempo dengan senyum khasnya.

Sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal, Susno termasuk polisi yang paling banyak dicari wartawan. Maklum, setumpuk perkara kriminal besar—yang menyedot perhatian publik—hingga urusan ancaman teroris ada dalam genggamannya. Meski begitu, jika sudah duduk bareng, Susno bukan pejabat yang pelit bicara. Senin malam pekan lalu, misalnya, dia mengundang Tempo dan sepuluh wartawan lain berbuka puasa bersama di restoran kawasan Menteng itu. Begitu duduk di kursi, dia langsung berucap, ”Ini banyak yang enggak mengerti kasus (Bank) Century.”

Langkah penyehatan Bank Century memang ramai diperdebatkan selama lebih dari dua pekan kemarin, khususnya oleh Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat dengan Menteri Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan. Komisi Dewan mempertanyakan pembengkakan dana penyelamatan Century yang menjadi Rp 6,7 triliun dari laporan sebelumnya yang hanya Rp 632 miliar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beralasan, kalau bank yang dulu dimiliki Robert Tantular—kini berstatus terdakwa—ini ditutup, ada 23 bank berpotensi kolaps akibat penutupan itu.

Di balik silang pendapat soal penyelamatan bank itu, menurut Susno, di kalangan anggota Dewan merebak isu tak sedap. Dia disebut-sebut terlibat dalam proses pencairan dana milik salah satu nasabah terbesar Century, Budi Sampoerna. Kucuran dana segar Rp 6,7 triliun dari Lembaga Penjamin Simpanan itu memang disinyalir mengalir ke sejumlah nasabah prime.

Mendengar dirinya diisukan miring, Susno semula memilih tidak reaktif. Namun perkembangan kasus Century di gedung parlemen, menurut Susno, tak bisa lagi didiamkan. ”Kalau terus-terusan diam, dikira benar saya meminta (uang),” ucapnya. Padahal faktanya, kata dia, ”Sampai sekarang duit Budi belum cair.”
l l l
Rumor keberadaan Kepala Badan Reserse Kriminal Susno Duadji dalam pusaran duit Budi Sampoerna di Bank Century sejatinya bukan hal baru. ”Dugaan itu” bahkan dikabarkan sempat tersadap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Susno berang dan mengungkapkan ke media bahwa telepon selulernya telah disadap. ”Saya tidak sebut lembaga mana, ya, tapi saya jelas tahu telepon saya disadap,” katanya

(Tempo edisi 6-12 Juli 2009).

Tak ayal, publik pun disuguhi ”perselisihan” Susno dengan Komisi Pemberantasan Korupsi, yang kemudian menelurkan istilah ”cicak-buaya”. Dalam wawancara khusus dengan Tempo awal Juli lalu, Susno mengumpamakan Komisi Pemberantasan Korupsi itu ”cicak” yang berani-beraninya menyadap telepon polisi—yang diistilahkan ”buaya”. ”Cicak kok melawan buaya,” begitu ucapnya dalam wawancara itu. Perseteruan itu sendiri memang serius dengan dipanggilnya ”cicak” untuk diperiksa oleh ”buaya” meskipun ”cicak” mengabaikan panggilan pertama, dan kini polisi menerbitkan panggilan kedua.

Kembali ke kasus Century. Keterlibatan Susno dalam urusan duit Budi, menurut sumber Tempo, terlihat dari dikeluarkannya dua surat Badan Reserse Kriminal, pada 7 dan 17 April 2009, yang menyatakan dana milik Budi Sampoerna dan US$ 18 juta kepunyaan PT Lancar Sampoerna Bestari di Bank Century ”sudah tidak ada masalah lagi”. Susno juga memfasilitasi beberapa pertemuan direksi Century yang dipimpin Maryono dengan pihak Budi di kantor Badan Reserse Kriminal.

Salah satu pertemuan itu dilaksanakan pada 29 Mei 2009. Di dalam dokumen minutes of meeting Bank Century disebutkan pertemuan dihadiri tiga petinggi Century. Mereka jugalah yang meneken dokumen itu, di antaranya Maryono (direktur utama) dan Ahmad Fajar (direktur). Dokumen itu juga mencantumkan nama Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Susno Duadji dan Direktur Ekonomi Khusus Brigadir Jenderal Edmond Ilyas.

Pertemuan menelurkan dua kesepakatan. Salah satunya tentang persetujuan pencairan dana senilai US$ 58 juta—dari total Rp 2 triliun—milik Budi atas nama PT Lancar Sampoerna Bestari. Kesepakatan lainnya, pencairan dilakukan dalam rupiah. Sumber Tempo yang mengetahui pertemuan ini menilai kesepakatan itu menimbulkan tanda tanya. Sebab, kepolisian hanya berwenang mengusut tindak pidana penggelapan uang milik Budi oleh Robert Tantular, pemilik lama Bank Century, senilai US$ 18 juta. ”Kenapa yang US$ 40 juta juga ikut diurus polisi dan dibahas di kantor Bareskrim?” ujar sumber ini. ”Ada apa ini?”

Menurut sumber Tempo ini lagi, secara aktif pula Susno berkoordinasi dengan Maryono dan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan Rudjito untuk melancarkan proses pencairan duit pengusaha tembakau itu. Atas upayanya itu, masih kata sumber ini, kepada Susno dijanjikan oleh Lucas, kuasa hukum Budi, komisi 10 persen dari jumlah uang Budi yang akan cair.

 

Perhatian Susno Duadji pada urusan duit Budi Sampoerna berawal dari laporan Lucas pada Maret lalu soal dugaan penggelapan dana nasabah yang dilakukan manajemen Bank Century. Asal-muasalnya, manajemen Century menolak mengembalikan uang Budi sebanyak US$ 18 juta yang digasak Dewi Tantular—adik Robert Tantular yang masih jadi buron. Kini Robert menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dianggap terlibat dalam penggelapan itu.

Susno langsung merespons laporan Lucas dengan memanggil Direktur Utama Bank Century Maryono dan pejabat Lembaga Penjamin Simpanan ke kantor Badan Reserse Kriminal. Dalam pertemuan itu, menurut Susno, Maryono meminta polisi tidak melakukan pemeriksaan kepada manajemen Century karena dikhawatirkan akan menghilangkan kepercayaan nasabah. Jika pemeriksaan terjadi, nasabah akan menarik uang secara besar-besaran dari bank. ”Saya terima alasan Maryono, tapi saya juga bilang bahwa ini tidak bisa lama-lama,” kata Susno.

Nyatanya, kata Susno, setelah berbulan-bulan, Budi tetap tidak bisa mencairkan duitnya, sekalipun Badan Reserse Kriminal sudah mengeluarkan dua surat klarifikasi atas simpanannya. Tak cuma itu, pertemuan yang difasilitasi Susno di Badan Reserse Kriminal pun tak berujung pada pencairan duit Budi. ”Ini ada apa, katanya sudah digrujugin banyak, kok enggak bayar-bayar,” kata Susno, yang memang terus mempertanyakannya kepada manajemen Century.

Susno membantah keras soal komisi yang akan diterimanya atas usahanya mencairkan duit Budi. ”Boro-boro dapat itu,” ucapnya sambil tertawa lebar. ”Ongkos saya ke luar negeri untuk mendapatkan aset-aset Robert saja belum diganti.”

Soal surat klarifikasi yang ditekennya sendiri, Susno membenarkan. Menurut dia, surat yang dirancang Lucas itu dibuat atas permintaan direksi Century. ”Saya minta Lucas menulis sendiri apa isi surat itu, saya tinggal teken,” katanya.

Dia juga mengaku telah memfasilitasi pertemuan di kantor Badan Reserse Kriminal antara direksi Bank Century dan pihak Budi Sampoerna. Tapi Susno membantah ikut campur, termasuk memberikan advis penyelesaian uang Budi. ”Kalau tanya-tanya atau ikut campur, nanti dibilangnya mau dapat 10 persen, ha-ha-ha….”

Faktanya, kata Susno, hingga kini Century belum membayar sepeser pun kepada Budi. Padahal surat klarifikasi Badan Reserse Kriminal itu berarti uang Budi harus dikembalikan. ”Kalau tidak bayar terus, bisa ditangkap,” ujar Susno.

Lucas, yang mendapat kuasa dari Budi Sampoerna sejak 25 November 2008, juga membantah telah menjanjikan komisi kepada Susno. ”Maksudnya fee? Enggak ada sama sekali. Itu fitnah,” jawabnya saat diwawancarai Tempo di kantornya Selasa lalu. Dia juga membantah telah bertemu dengan Susno di Hotel Ambhara untuk membicarakan surat klarifikasi dan komisi 10 persen itu. ”Tidak ada pertemuan dengan Susno di Hotel Ambhara. Saya bertemu Susno selalu di kantor Bareskrim,” ujarnya.

Namun Lucas membenarkan telah mengadukan direksi Bank Century ke Badan Reserse Kriminal pada Maret lalu lantaran kesal duit kliennya tak kunjung cair. ”Sementara duit nasabah besar lainnya dicairkan,” ujarnya tanpa menyebutkan nasabah dimaksud. Menurut dia, baik surat klarifikasi maupun pertemuan di Badan Reserse Kriminal sepenuhnya atas desakan direksi Bank Century. Tanpa klarifikasi dari Markas Besar, uang tidak akan dicairkan. ”Sudah diklarifikasi, enggak beres juga,” ucapnya.

Maryono, saat diwawancarai Anton Aprianto dari Tempo di kantornya Selasa lalu, menolak memberikan keterangan rinci ihwal karut-marut duit Budi. ”Mohon maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena ini menyangkut nasabah,” paparnya.

Dia hanya membenarkan telah menerima dua pucuk surat klarifikasi dari Kepala Badan Reserse Kriminal Susno Duadji. Namun, menurut dia, surat itu tidak memerintahkan duit Budi segera dicairkan. ”Surat itu hanya clearance bahwa penyidikan atas penggelapan dana Bank Century sudah selesai,” katanya.
Dia membantah telah ditekan Badan Reserse Kriminal berkaitan dengan status duit Budi. ”Tidak pernah ada tekanan,” ujarnya. Maryono hanya tertawa lebar ketika disinggung soal pertemuan-pertemuan yang difasilitasi Susno untuk membahas duit Budi. ”Ha-ha-ha…, jangan tanya saja, tanya Pak Susno saja.”
Keterangan agak detail justru disampaikan Erwin Prasetio dan Benny Purnomo, dua direktur Bank Century yang datang ke redaksi Koran Tempo pada 20 Agustus lalu. Menurut Erwin, tak ada kesulitan bagi Budi untuk menarik dananya secara bertahap dan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama. ”Setiap hari ada penarikan, kok. Saya yang teken,” Benny menambahkan.

Selain itu, menurut Erwin, bank sudah mencadangkan US$ 18 juta sebagai antisipasi kerugian yang mungkin bakal dialami Century. Uang itu diakuinya belum kembali ke deposito PT Lancar Sampoerna. ”Karena uang itu masih kasus (di pengadilan),” tuturnya.

Saat dikonfirmasi ke Lucas bahwa Bank Century sudah mencairkan uang Budi secara bertahap, pengacara bertubuh besar ini kontan membantahnya. ”Itu memutarbalikkan fakta,” ujarnya. Dengan santai Lucas bahkan mengiyakan bahwa usahanya mengembalikan uang kliennya belum berhasil. Wah, kalau berurusan dengan duit, semuanya jadi runyam.

Sumber

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/LU/mbm.20090914.LU131405.id.html

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Inilah Kisah Aksi (Komisaris Jenderal) Susno di Century

Aksi Susno di Century
BANK Century sudah sepuluh bulan beroperasi di bawah kendali Lembaga Penjamin Simpanan. Namun lumrah saja bila debat penyelamatan bank itu terus berlarat-larat. Selain adu argumen tentang dampak sistemik pada bank kecil lain andai Century ditutup, besarnya dana talangan menjadi salah satu pemicu perbantahan.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan—yang diketuai Menteri Keuangan—memutuskan untuk menyelamatkan Century pada rapat maraton 20-21 November 2008. Saat itu Century hanya butuh suntikan Rp 630 miliar. Rasio kecukupan modal (CAR) Century ketika itu minus 3,53 persen, sedangkan Bank Indonesia mensyaratkan tak boleh kurang dari delapan persen. Dalam waktu singkat setelah keputusan jatuh, dana talangan yang dibutuhkan Century berlipat dengan kecepatan deret ukur dan akhirnya mencapai Rp 6,76 triliun alias lebih dari sepuluh kali lipat kebutuhan pertama. Audit investigasi yang sedang dirancang Badan Pemeriksa Keuangan penting sekali untuk memastikan tak ada penyimpangan di balik grojogan dana besar itu.

Anjloknya CAR Century jelas kaitannya dengan manajemen buruk bank yang dikendalikan PT Century Mega Investindo (milik Robert Tantular) dan First Gulf Asia Holdings Ltd. (Rafat Ali Rizvi dan Hesham al-Warraq) itu. Antara lain, di sana ditemukan letter of credit fiktif senilai US$ 197 juta, kredit macet senilai Rp 1 triliun, dan penggelapan dana sekitar US$ 18 juta.

Kredit macet dan semua hal buruk itu menyebabkan risiko Bank Century naik—di dunia perbankan dinamai aktiva tertimbang menurut risiko. Bila dipahami CAR merupakan perbandingan antara modal dan risiko, jelas CAR akan turun manakala kredit macet naik, transaksi fiktif terjadi, bank merugi, atau ada penggelapan. Sialnya, banyak bisnis Century berisiko tinggi, akibat manajemen amburadul dan perilaku pemilik bank yang menjurus kriminal.

Dengan pengelolaan awut-awutan begini, nasabah besar seperti Budi Sampoerna, paman Putera Sampoerna, mantan pemilik PT HM Sampoerna, pantas saja khawatir duitnya melayang. Ia berupaya menarik depositonya sebesar Rp 2 triliun yang semula disimpan di Bank Century Cabang Surabaya. Ketika gagal mendapatkan haknya, ia menyewa pengacara Lucas. Diduga duit Budi sebanyak US$ 18 juta telah dicairkan diam-diam oleh Dewi Tantular, adik Robert. Sebagian duit itu dipakai Robert Tantular untuk bisnis reksadana Antaboga—yang belakangan sebagian ketahuan fiktif. Dalam upaya membela kliennya, Lucas melapor kepada Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian.

Komisaris Jenderal Susno Duadji, sang Kepala Badan Reserse Kriminal, pun akhirnya masuk pusaran karut-marut kasus Century ini. Susno memang terkesan terlalu bersemangat. Ia dua kali menulis surat kepada manajemen baru Bank Century pada April lalu, meminta Century mencairkan duit Budi Sampoerna. Ketika Susno memanggil pimpinan Century ke kantornya, untuk dipertemukan dengan pihak Budi Sampoerna—Susno menyebutnya ”memfasilitasi”—agaknya ia kelewat jauh melangkah.

Benar bahwa Susno Duadji menjalankan tugas. Tak ada yang membantah bahwa yang terjadi di Century, yakni dugaan penggelapan, memang termasuk wilayah kerja Badan Reserse Kriminal. Tapi Bank Century kini sedang ditangani Lembaga Penjamin Simpanan—yang menjalankan perintah Komite Stabilitas Sistem Keuangan, yang dibentuk pemerintah.

Terlepas dari setuju atau kontra terhadap keputusan penyelamatan bank dengan aset hanya Rp 10 triliun itu—sangat tak berarti dibanding aset perbankan nasional yang seluruhnya Rp 2.200 triliun—Susno perlu berkoordinasi dengan Lembaga Penjamin Simpanan, yang kini mengelola Century. Ia perlu juga mendengar penjadwalan pembayaran utang nasabah yang sudah disusun oleh manajemen baru bank itu. Kalau ia terlalu kuat mendesak, banyak yang akan curiga ”ada apa-apa” di balik tindakannya.

Tentu gampang dipahami keberatan Century mencairkan sekaligus simpanan Budi Sampoerna. Meskipun diberitakan Century telah mencetak laba, dan CAR bank itu kini sekitar sembilan persen, pencairan dana berskala besar tentu akan berpengaruh pada kinerja bisnisnya. Ujung-ujungnya, CAR bisa turun lagi dan akhirnya Lembaga Penjamin Simpanan juga yang harus menguras kantongnya.

Apa boleh buat, untuk menyelamatkan keputusan bailout Bank Century yang sudah telanjur diambil pemerintah, semua jajaran mestilah melangkah seirama. Kepolisian tak terkecuali. Bila penyelamatan Century gagal, tentu kerugian besar akan terjadi, walaupun korbannya adalah dana Lembaga Penjamin Simpanan, yang modalnya berasal dari iuran kalangan perbankan.
Robert Tantular dan dua anggota direksi lama sudah mulai disidangkan. Tapi dua pemilik lain masih buron dan masuk daftar Interpol. Lebih baik saat ini kepolisian membantu mencari mereka, juga mencari aset Century yang diduga diembat pemilik lama.

Source:

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/14/OPI/mbm.20090914.OPI131394.id.html

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!

Amerika Serikat Buka Dokumen Rahasia Soeharto

Dokumen-dokumen yang selama ini diklasifikasikan rahasia itu memperlihatkan, pemerintah AS tidak pernah menekan Soeharto atas berbagai pelanggaran HAM yang terjadi selama pemerintahannya.
Kritik keras Amerika Serikat terhadap almarhum bekas presiden Soeharto hanya muncul tahun 1998, ketika Indonesia diguncang kerusuhan akibat krisis moneter.
Bill Clinton, yang ketika itu menjabat presiden Amerika Serikat, berkali-kali menelpon Jakarta, mendesak agar Soeharto memberlakukan penyesuaian ekonomi besar-besaran agar memenuhi ketentuan Dana Moneter Internasional, IMF. Itulah salah satu catatan dalam dokumen-dokumen yang baru dipublikasi oleh Arsip Keamanan Nasional atau The National Security Archives. Berlandaskan Undang-undang Kebebasan Informasi, lembaga non pemerintah yang terkait Universitas George Washington ini mengoleksi dan mempublikasi dokumen-dokumen yang sudah tak lagi dirahasiakan.
Dokumen rahasia Amerika yang baru saja dibuka, yang menceritakan sikap represif dan korupsi Soeharto, serta dukungan Amerika terhadap rezim Soeharto:

 Dokumen Rahasia Soeharto:


http://www.gwu.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB242/index.htm
Link di atas dokumen rahasia Amerika yang baru saja dibuka, yang menceritakan sikap represif dan korupsi Soeharto, serta dukungan Amerika terhadap rezim Soeharto.

Untuk melihatnya lebih dekat:
http://www.gwu.edu/~nsarchiv/NSAEBB/...526_memcon.pdf

Dari puluhan ribu dokumen mengenai hubungan Amerika Serikat dengan Soeharto hingga tahun 1998, tak ada bukti bahwa presiden-presiden Amerika Serikat pernah menggunakan tekanan agar rejim Soeharto mengindahkan hak azasi manusia maupun demokratisasi. Begitu ungkap, Brad Simpson yang bertanggung jawab untuk proyek dokumentasi mengenai Indonesia dan Timor Leste di lembaga itu.
Diantara dokumen yang sudah bebas-baca itu terdapat transkripsi pertemuan dan pembicaraan antara Soeharto dengan sederetan bekas presiden dan petinggi Amerika Serikat, seperti Henry Kissinger. Surat dari bekas Menlu AS itu kepada Richard Nixon misalnya, menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki masalah dengan Indonesia.
Tak lama kemudian, Nixon dan Kissinger menemui Soeharto pada 26 Mei 1970. Dalam catatan pembicaraan itu tertera tanya-jawab yang berlangsung. Di situ bekas Presiden Indonesia mengaku telah menahan puluhan ribu orang dan menumpas pendukung komunisme sampai hanya tertinggal 10 persen kekuatan sebelumnya.
Soeharto juga melaporkan telah melancarkan indoktrinasi paham Orde Baru kepada siswa dan mahasiswa Indonesia. Dalam jawabannya, bekas presiden Nixon mengatakan bahwa Soeharto merupakan pemimpin salah satu demokrasi yang terbesar di dunia.
Dokumen-dokumen ini juga merefleksi persepsi Amerika Serikat terhadap Soeharto, sejak awal kekuasaannya yang berdarah, bahkan ketika aneksasi Papua Barat di tahun 1969, invasi terhadap Timor Timur di tahun 1975 dan pembunuhan misterius atau petrus yang berlangsung dari 1983 hingga 1984.
Dalam masa kepresidenen Gerald Ford di Amerika Serikat, juga terdapat pernyataan Soeharto mengenai dekolonialisasi Timor Leste. Tercatat, Ford tidak memberi tanggapan ketika Soeharto mengatakan bahwa satu-satunya cara adalah untuk mengintegrasi wilayah itu ke Indonesia.
Rangkaian catatan serupa, bagai benang merah mengalir dalam dokumen-dokumen itu. Yang nampak jelas, Amerika Serikat memperhatikan Indonesia hanya dari segi keamanan dan ekonomi. (ek)
Sumber:
http://www.dw-world.de/dw/article/0,...095247,00.html

Rahasia dibalik Suksesnya Soeharto :

Kondisi kesehatan Soeharto makin memburuk. Tak heran jika setiap detik, media massa elektronik terus memantau. Sambil menunggu perkembangan, kisah-kisah tentang Soeharto ditayangkan berikut analisisnya. Tak kurang berperan, kisah hidup Siti Hartinah (Ibu Tie), istrinya yang telah wafat ikut menjadi warna. Sebab, peran Ibu Tien bagi Soeharto begitu besar. Bahkan ketika ia meninggal seluruh Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang.

Soeharto yang pernah berkuasa dengan Orde Barunya di Indonesia selama 32 tahun itu, ternyata tidak bisa lepas dari pengaruh istrinya Siti Hartinah atau yang akrab di sapa Bu Tien. Bu Tien yang lahir di Solo itu, dalam buku ini, dalam konteks dunia batin orang Jawa, mempunyai wangsit keprabon yang pada akhirnya wangsit itu merasuk kepada suaminya yang kemudian mengantarkan suaminya Soeharto menjadi seorang yang terkuat dan paling berpengaruh di Asia, sebagaimana yang pernah diakui majalah Asiaweek pada tahun 1996.

Padahal, seperti yang pernah dikatakan Soeharto dalam autobiografinya, dia tidak pernah bercita-bercita atau bermimpi menjadi seorang presiden karena memang dia berasal dari keluarga miskin di sebuah dusun kecil di Yogyakarta, yang tidak punya apa-apa. Namun, dengan menikahi Siti Hartinah pada 26 Desember 1947, yang masih keturunan Mangkunegoro itu, dan dengan laku spiritual atau melalui jalan keberuntungan yang harus ditempuh Soeharto, wangsit yang tersembunyi dalam diri Siti Hartinah akhirnya datang menghampiri Soeharto dan menjadikan Soeharto berkuasa di Indonesia. Begitulah Arwan menandaskan dalam Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto ini.

Arwan mengungkap rahasia-rahasia di balik kesuksesan Soeharto, yaitu dengan pendekatan ruang dunia batin Jawa atau dunia spiritual orang Jawa, ia menjelaskan keberadaan Bu Tien di sisi Soeharto telah menjadi pulung bagi keberlangsungan kekuasaan Soeharto.

Sebagai keturunan Mangkunegoro III, Bu Tien telah menitiskan trah kekuasaan ketangan Soeharto. Ia laksana api keramat kerajaan yang mampu megangkat rakyat biasa, seperti Soeharto menjadi raja.
Bahkan, Arwan mengatakan kalau seandainya Soeharto tidak menikahi Siti Hartinah, barangkali nasib yang menghampirinya tidak akan semujur itu. Sebab, sangat mungkin justru melalui Siti Hartinah itulah wangsit keprabon turun ke Soeharto, mengingat Soeharto adalah keturunan orang biasa, sedangkan Bu Tien adalah keturunan seorang raja.

Ong Hok Ham, dalam bukunya, Dari Soal Priyayi Sampai Nyai Blorong (2002: 217) membenarkan hal itu. Menurut Ong, perempuan (baca: Bu Tien) keturunan raja ini memiliki pusaka paling keramat karena darinya berasal api keramat kerajaan yang dapat mengangkat rakyat biasa menjadi raja.

Kapan wangsit keprabon itu masuk tubuh Soeharto? Menurut Arwan, tepat pada taggal 11 Maret 1966, saat Soekarno membubuhkan tanda tangannya pada surat perintah di Istana Bogor yang kemudian terkenal dengan Supersemar itu, maka saat itulah wangsit keprabon mulai angslup di tubuh Soeharto, sehingga Soeharto pun sakit.

Hal itulah yang kemudian menjadikan nasib Soeharto mujur. Dalam konsep masyarakat Jawa, ada istilah ndilalah kersaning Allah4 atau kehendak Tuhan. Selain itu, dalam konsep Jawa, juga dikenal dengan istilah pulung. Pulung itu datang dari langit dan ditunjukkan kepada Soeharto. Menurut ajaran Jawa, pulung merupakan suatu anugerah, wahyu dan tanda dari langit. Pada saat pemilihan Kepala Desa di desa-desa Jawa, misalnya, masyarakat biasanya memperhatikan pulung yang berseliweran, kepada siapa pulung itu akan jatuh.

Nah, dari sini dapat dikira bahwa di balik kesuksesan Soeharto itu sesungguhnya ada kekuatan gaib dari Bu Tien yang menopang dari belakang. Demi Soeharto, seperti yang dijelaskan Arwan, Bu Tien melakukan tapabrata, kungkum, ngombe banyu pitung sumur, nyekar, dan berbagai macam laku prihatin lain.
Dengan tapabrata dan berbagai macam laku prihatin yang dilakukan Bu Tien itu, kekuasaan Soeharto makin tertopang, baik ketika Soeharto meniti kariernya sebagai militer maupun ketika menggantikan Soekarno menjadi presiden. Dengan begitu, Bu Tien atas kekuasaan Soeharto mempunyai andil yang cukup besar secara spiritual.

Namun bukan sepenuhnya kekuasaan Soeharto itu diraih dari kehebatannya Bu Tien. Soeharto bukan orang yang bodoh, yang kemudian menjadi penguasa hanya gara-gara ada wangsit dari Bu Tien. Ia memang orang yang cerdas dan punya siasat yang jitu, yang hampir-hampir tak dimiliki sebagian besar rakyat Indonesia. Akan tetapi, seperti yang telah terjadi, Soeharto bukanlah seorang presiden yang tangguh ketika tanpa Bu Tien. Seperti yang kita ketahui, Soeharto makin mengalami kemunduran ketika Bu Tien wafat.

Seharusnya, begitu Bu Tien wafat pada 28 April 1996, Soeharto sudah tidak mau lagi dicalonkan menjadi presiden. Bu Tien sendiri sebenarnya sudah pernah menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia, kalau dapat jangan mencalonkan Soeharto lagi. Sebab, pada waktu itu usia Soeharto sudah 72 tahun dan Bu Tien 70 tahun.

Jika umur sudah setua itu, dalam tafsir kejawen, sudah saatnya Soeharto menyampaikan sabda pandhito ratu.

Akan tetapi, Soeharto tidak melakukan hal itu, malah ia bersedia dicalonkan kembali, sehingga terbukti setelah Bu Tien meninggal, dan pada 70 hari sesudah MPR mengukuhkan Soeharto sebagai presiden dan B.J. Habibie sebagai wakilnya pada 21 Mei 1998, terjadi perubahan besar. Soeharto oleh rakyat dipaksa "turun" dari kursi kepresidenannya.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Soeharto tanpa Bu Tien tidak bisa jadi presiden. Logikanya seperti yang dikatakan Arwan yang banyak menulis buku tentang laku spiritual Soeharto ini, bila wangsit keprabon yang dimiliki Bu Tien yang masuk diri Soeharto itu sudah hilang, kekuasaan Sueharto juga akan hilang. (Sumber:Agnestia)

Hati-hati banyak sekali penipuan oleh mafia di internet dan kami tidak menjamin iklan ini jujur !!!