Sepak terjang mafia Italia berakhir di Pulau Dewata

Sepak terjang mafia Italia berakhir di Pulau DewataSejumlah kejahatan akrab dengan Antonio Messicati Vitale (40), gembong mafia asal Italia. Keluar masuk penjara merupakan hal yang biasa. Namun, dia melarikan diri karena terlibat penganiayaan yang menewaskan seseorang pada 2011 lalu.

Sejak kejadian itu, Antonino masuk dalam daftar mafia kakap yang diburu polisi. Sebelum vonis dijatuhkan, Antonino yang diancam 24 tahun penjara kabur ke luar negeri pada 16 April silam. Salah satu tempat yang disinggahi adalah Bali.

Tempat persembunyian Antonino di Bali diketahui setelah kepolisian Italia berhasil melacak komunikasi dengan menyadap laptopnya dan komunikasi Antonio dengan keluarganya. Setelah itu pihak kepolisian di Negeri Pizza mengirim red notice ke Polri pada November lalu.

Titik terang pencarian terbuka ketika polisi menggerebek rumah Antonino di Portella di Mare, Palermo, pada 17 April 2012. Dari rumah ini polisi menyita barang bukti, berupa rekaman video dan sejumlah foto.

Dalam video itu, pria kelahiran 1972 itu tengah merayakan pesta ulang tahun ke-40, bersama sejumlah koleganya dengan diiringi lagu yang dimainkan pemain biola dan gitar. Polisi juga menemukan sejumlah foto Antonio yang berpose di kolam renang, dengan latar tempat yang eksotik.

Akhirnya, pada 7 Desember 2012, petugas gabungan dari Kepolisian Italia, Mabes Polri dan Polda Bali, menggerebek Vila Puri-Puri Kecil di Legian, Kuta. Pria berkacamata itu tak berkutik, tidak ada perlawanan saat diringkus.
"Dia sudah sekitar enam bulan bersembunyi di Bali," kata Kanit Jatanras Polda Bali Komisaris Pande Putu Sugiarta, Jumat (7/12).

Director Special Agent dari kepolisian Italia Kolonel Andrea Vitalone mengatakan, Antonino merupakan pentolan mafia paling dicari di Italia. "Dia mafia narkoba, perdagangan manusia, penjualan senjata ilegal, serta masih banyak kasus lain yang membelitnya," kata Andrea yang ikut penyergapan itu.

Sepak terjang Antonino dalam dunia hitam tak lepas dari darah yang mengalir dalam tubuhnya. Dia merupakan putra dari Pietro Messicati Vitale, godfather Klan Villabate. Di zamannya, Pietro merupakan mafia yang paling ditakuti.
Pada tahun 1985, Pietro ditangkap oleh polisi yang bernama Beppe Montana.

Namun nahas, hanya selang beberapa hari, Beppe tewas. Usut punya usut ternyata sang polisi tewas ditangan anak buah Pietro.

Akhirnya, Pietro bebas pada tahun 1988. Hanya berselang 50 hari Pietro tewas ditembak oleh geng mafia lainnya saat menaiki skuter di Mongerbino, Palermo. Lima timah panas bersarang di tubuh pria 41 tahun itu.

http://www.merdeka.com/peristiwa/sepak-terjang-mafia-italia-berakhir-di-pulau-dewata-yakuza-dan-mafia-di-indonesia.html

wanita-wanita seksi di ruko tempat mutilasi Ancol?

Warga di sekitar Ruko Mediterania Residence, Ancol sering melihat wanita-wanita cantik berwajah oriental masuk ke ruko tempat mutilasi itu. Wanita-wanita seksi itu diduga wanita penghibur yang merupakan rekan istri Alansia, tersangka mutilasi Tonny Arifin Djomin.

Siapa wanita-wanita seksi di ruko tempat mutilasi Ancol?"Wanita-wanita itu teman istri tersangka. Soal dugaan PSK, kemungkinan itu ada tapi masih kita dalami," kata Kasatreskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi kepada wartawan, Jakarta, Jumat (15/3).

Daddy menambahkan soal banyak wanita cantik yang selalu terlihat di lokasi penemuan korban mutilasi tak ada hubungannya dengan motif pembunuhan Tonny karena persoalan jasa PSK.

"Istri tersangka kan cukong, jadi cuman rekan bisnis," ungkap Daddy.

Salah satu alasan pelaku mutilasi, Alansia dalam memotong korbannya disebut sakit hati karena selalu ditagih hutang judi bola sebesar Rp 200 juta. Korban, Tonny Arifin Djonim diketahui sebagai bandar judi bola.

"Korban itu bandar judi bola, motifnya yang jelas itu, korban menagih hutang tersangka karena kalah judi bola sampai teriak-teriak. Jadi tersangka malu dan sakit hati," ujar Kasatreskrim Polres Jakarta Utara AKBP Daddy Hartadi kepada wartawan, Jakarta, Jumat (15/3).

mafia HongKong juga berkeliaran di Jakarta

Setelah Yakuza, mafia HongKong juga berkeliaran di Jakarta

Indonesia rupanya menjadi negara sasaran para mafia internasional. Setelah Yakuza, kini mafia Hongkong 'Triad' beraksi di ibu kota negara.

Berawal dari masalah utang piutang judi bola, seorang Warga Negara Asing (WNA), China tega memutilasi temannya sendiri menjadi belasan bagian. Alanshia alias A Liong yang mempunyai tato naga di punggungnya kerap dihubungkan dengan keanggotaan Triad dari Cina daratan atau biasa disebut Hongkong.

Di Indonesia, Alanshia kerap dihubung-hubungkan dengan kepemilikan sejumlah narkoba yang ditemukan di apartemennya. Narkoba itu jenis Key 656 gram, pil 140 butir, sabu 32,35 gram, dan serbuk putih yang belum disebutkan jenisnya.
Namun, polisi tak mau ambil pusing. Untuk kepemilikan narkoba dilimpahkan kepada korban mutilasi yang juga rekan bisnis Alanshia sendiri, Tonny Arifin Djoomin.

Rekam jejak Alanshia juga sempat dikirim dari negara asalnya melalui surat catatan merah (red notice) kepada pemerintah Indonesia perihal tindakan kriminalitas warga China tersebut.

Dalam red notice yang diperlihatkan kepada wartawan, tertulis dalam bahasa Inggris, "Ringkasan fakta kasus penemuan tubuh wanita dalam kondisi rusak di pipa saluran di Desa Dao, He Zi, Kota Pingquan Chaoyang, Provinsi Heibei. Korban bernama Liu Juan, dengan nama tersangka Liu Jun alias Alanshia.' Liu Jun dijerat dengan hukuman seumur hidup.

Kini, Alanshia yang pertama kali masuk Indonesia pada tahun 2009 ini, harus menyudahi jejak Triad-nya di Indonesia. Kasusnya sudah sampai di meja hijau. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Alanshia dijerat dengan pasal pembunuhan yang ancaman hukumannya seumur hidup.

Kalau pun Pengadilan Negeri Jakarta Utara memvonis Alanshia dengan hukuman lebih ringan, di Negeri 'Tirai Bambu', pria yang menjadi buronan internasional itu, sudah siap menunggu hukuman seumur hidup.

http://www.merdeka.com/peristiwa/setelah-yakuza-mafia-hongkong-juga-berkeliaran-di-jakarta.html

Cerita istri Yakuza dari Pontianak

Salah satu bisnis hitam anggota Yakuza di beberapa negara adalah prostitusi dan penjualan perempuan. Perempuan-perempuan asing yang tertangkap di Jepang biasanya memiliki kasus sama. Mereka diperalat oleh Yakuza dan terpaksa mencari uang di dunia malam sebanyak mungkin untuk menebus paspornya kepada para Yakuza.

Tidak heran ada perempuan Indonesia kelahiran Pontianak, menjadi istri seorang anggota Yakuza di Jepang. Para perempuan asing itu biasanya men-charge tamu sekitar 12.000 Yen atau sekitar Rp 1,4 juta (kurs 116 per yen) sejam, plus minuman keras yang diminum bersama tamu. Bahkan terkadang mereka juga harus menemani tidur tamu-tamunya itu.

Seperti diceritakan Richard Susilo dalam buku berjudul: "Yakuza Indonesia". Richard mengutip tulisan Yukio Murakami yang mewawancarai perempuan asal Pontianak itu, lalu dimuat dalam tabloid Nikkan Gendai, 25 Januari 2012. Menurut dia, kasus semacam itu tak ubahnya kasus perbudakan zaman sekarang. Sindikat kejahatan meraup uang dengan memakai perempuan Thailand dan Filipina.

Mereka dipekerjakan di snack (sunaku kurabu), klub, atau tempat pemandian air panas di daerah-daerah agar jauh dari polisi. Para perempuan itu hanya diberi makanan kotak atau bento dan kosmetik untuk berdandan. Para perempuan budak itu seperti sapi perah, yang bekerja untuk membayar pinjaman kredit karena paspor ditahan. Mereka tidak boleh ke mana-mana dan pasti akan dikuntit dari jauh kalau pergi keluar, sehingga tidak akan mungkin kabur.

"Apabila perempuan itu cantik dan banyak tamunya, maka suatu waktu pasti akan dibuat alasan yang dibuat-buat, misalnya tamu komplain pelayanan tidak bagus, sehingga si perempuan didenda cukup banyak, akibatnya jumlah uang tabungan tidak penuh-penuh dan paspor tidak bisa diterima kembali. Itu menjadi akal bulus para sindikat kejahatan di Jepang."

Banyak sekali kasus semacam itu terjadi di Jepang. Semua itu terjadi karena si perempuan kurang berusaha untuk kabur kalau memang tidak mau dipekerjakan demikian. Atau, mereka memilih pasrah dan lebih memilih uang sehingga melakukan demikian.

"Walau kami bekerja begini, masih lumayan dapat uang lebih banyak bila di-rupiahkan, bisa menabung sedikit dan bisa mengirim uang sedikit kepada keluarga di Indonesia, daripada kerja di Indonesia rasanya susah banget dapat uang," kata perempuan Indonesia asal Pontianak yang bekerja pada sebuah bar, klub malam di Shinjuku.

Cerita Yakuza ribut dengan preman di Bali

Cerita Yakuza ribut dengan preman di Bali

Mulai tahun ini diramalkan bakal banyak anggota Yakuza keluar dari Jepang. Demikian laporan majalah mingguan Asahi Geino, 17 Januari 2013. Sementara penjahat asing juga semakin berani beraksi di Jepang. Nama Indonesia memang tidak disebut langsung, tapi beberapa hari terakhir banyak heroin di Jepang datang dari Malaysia, tetangga Indonesia.

Berikutnya obat-obat perangsang dari Afrika. Di sisi lain, mafia-mafia asing dari Vietnam dan Pakistan mulai terorganisir di Jepang menjadi kelompok perampok dan maling di rumah-rumah warga. Mereka mencuri perhiasan dan berlian dari daerah Tohoku, lalu mengekspor hasil kejahatannya ke luar Jepang.
Catatan itu ditulis kembali oleh Richard Susilo dalam bukunya berjudul: "Yakuza

Indonesia". Menurut dia, mencari uang di Jepang kini kian sulit bagi para Yakuza. Oleh sebab itu sekarang banyak di antara mereka yang melakukan ekspansi bisnis hitam ke luar negeri. Alasannya, di luar Jepang bisnis gelap mereka lebih menguntungkan.

Bagi para Yakuza, beraksi di luar Jepang lebih bebas dan aman dari pada beraksi di dalam negeri. Sebab kini di pemerintah Jepang telah menerapkan undang-undang baru anti-Yakuza. Polisi, terus memelototi aktivitas mereka, sehingga tidak lagi bebas. Bila tak hati-hati mereka bakal ditangkap dengan ancaman penjara cukup lama.

Karena terus diburu polisi, belakangan para Yakuza membentuk markas di luar Jepang, dan mereka berhasil. Biasanya, mereka memiliki kekuatan finansial besar, dan memiliki koneksi baik dengan komunitas lokal, pejabat, polisi atau preman setempat. Apalagi rata-rata mereka juga sangat pintar dan berpengalaman.
Seorang anggota kepolisian Jepang membenarkan kabar itu. Bahkan dia menyebut bahwa Indonesia kini sudah menjadi sasaran para Yakuza yang telah memiliki jaringan atau kelompok sendiri, khususnya di kalangan orang Jepang yang sudah lebih dulu tinggal di Indonesia, dan berhasil membaur sehingga identitasnya tidak lagi ketahuan.

"Mereka ada di luar Jepang. Bila pintar tentu mereka akan kuat di sana, dan di Jepang mereka juga tetap memiliki shinoji (pendanaan) yang baik pula. Tetapi, bagi Yakuza yang tidak pintar biasanya akan tertahan di luar negeri, karena biasanya dia juga tidak punya uang."

Bagi yang berhasil dan memiliki uang, sebagai anggota Yakuza memiliki solidaritas tinggi kepada markasnya di Jepang dan biasanya akan memasok sebagian uangnya ke Jepang atau dengan cara dipanggil pulang oleh bosnya. Mereka juga akan mati-matian mempertahankan statusnya sebagai Yakuza di luar negeri secara diam-diam.

Seorang anggota Yakuza sempat menuturkan, bagi para Yakuza yang tidak pintar berstrategi di luar negeri, biasanya akan terlibat bentrok dengan preman lokal setempat. Contohnya di Bali. Seorang polisi setempat sempat membenarkannya. Suatu waktu para Yakuza sempat bentrok dengan preman Bali, sehingga polisi menjadi kesal dan meminta para Yakuza kembali ke Jepang daripada ribut di Bali.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, di mana sebenarnya Yakuza di Indonesia ini? Yang jelas, kata Richard, anggota Yakuza Jepang tidak akan mungkin ada di Pelabuhan Tanjung Priok, di Pasar, atau di tempat-tempat kumuh, tidak pula berada di tempat-tempat buruh, pekerja kasar, menjadi kuli bangunan atau semacamnya.

Di Indonesia Yakuza sangat ekslusif. Mereka punya banyak uang, pintar, memiliki pengalaman banyak di Jepang, dan memiliki kesabaran tinggi, maupun hal-hal lain yang tidak dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Yakuza di Indonesia akan susah dideteksi oleh orang awam yang tidak mengerti bahasa Jepang.
Mereka memiliki kedekatan dengan para pebisnis di Indonesia, punya jaringan baik dengan orang kaya, dan berteman akrab dengan aparat. Intinya, mereka adalah penyamun, yang sulit dideteksi. Namun demikian, selama anda tidak mengganggu mereka, Yakuza juga diam. Yang pasti, Yakuza itu ada.

http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-yakuza-ribut-dengan-preman-di-bali-yakuza-di-indonesia-iv.html

Ada Yakuza cuci uang di Indonesia

Organisasi kejahatan terselubung (mafia) tumbuh hampir di seluruh negara dengan nama berbeda-beda. Misalnya nama organisasi mafia Lacosa Nostra Sisilia yang bermarkas di Sisilia Italia, Yakuza di Jepang, Triad di China dan The Solntsevskaya Bratva di Rusia. Jaringan bisnis haram mereka tumbuh di dalam hingga keluar negeri.

Mereka juga mengorganisir aksi kejahatan, baik di negeri sendiri maupun di negeri orang. Lalu apa kaitannya dengan Indonesia? Ekonomi Indonesia kini disebut-sebut sedang bagus, tumbuh di atas 6 persen. Maka ibarat pepatah lama, ada gula ada semut. Iklim investasi di Indonesia semakin manis. Maka semut pun hadir, tak peduli investor positif, negatif, orang baik atau jahat, semua datang ke Indonesia. Salah satunya mafia itu.

Sejauh ini memang baru Yakuza yang sedikit terang terdeteksi ada di Indonesia. Seperti ditulis Richard Susilo dalam bukunya berjudul: "Yakuza Indonesia". Mafia Jepang ini disebut-sebut sudah mengais-ngais bisnis hitam di Indonesia sejak 1970-an. Bahkan kini sudah ada anggota Yakuza yang punya bisnis besar di Jakarta.

Laporan polisi Jepang beberapa tahun lalu juga pernah menyebutkan masuknya narkoba ke Jepang antara lain dari Indonesia. "Itu dikelola Yakuza Indonesia. Ada pelaku yang sudah campuran, ayah atau ibu orang Indonesia," kata Tomohiko Suzuki, penulis Jepang yang tertarik dengan Yakuza Indonesia kepada Richard.
Para Yakuza itu juga terindikasi melakukan pencucian uang. Mereka membeli tanah atau properti memakai nama orang Indonesia, lalu tanah diperjualbelikan agar mendapat untung besar. Uang itu diputar terus agar keuntungan semakin besar, termasuk menginvestasikan uang di pasar modal Indonesia. Semua tahu pasar modal Indonesia sedang bagus, bisa cepat kaya, dan resiko rendah dibanding pasar modal China.

Pencucian uang juga dilakukan dengan cara investasi besar, misalnya membangun pabrik kimia, perkayuan, pertambangan, minuman keras dan bioteknologi. Investasi usaha dan pembangunan pabrik para anggota Yakuza itu jelas berbeda dengan perusahaan besar asal Jepang lainya, misalnya Toyota atau Panasonic. Pabrik dan usaha mereka biasanya tidak jelas.

Hal itu dibenarkan Shigeyuki Tani, Wakil Kepala Anti-Sindikat Kejahatan Teroganisir Badan Kepolisian Nasional (NPA) Jepang. Kejahatan Yakuza, kata dia, kemungkinan besar mulai banyak di Indonesia karena perekonomian bagus, seperti yang terjadi di beberapa negara Asia lain. Kejahatan mereka seperti pencucian uang dan penipuan.

Menurut Tani, kegiatan Yakuza di Indonesia dilakukan dengan cerdas dan sulit dideteksi bagi yang tidak memahami bahasa dan budaya Jepang. Mereka membawa uang hasil penipuan dari Jepang ke Indonesia untuk diputihkan. Atau sebaliknya, membawa uang hasil penipuan di Indonesia lalu dibawa ke Jepang. Oleh sebab itu dia meminta masyarakat Indonesia berhati-hati agar tidak menjadi sasaran penipuan para Yakuza.

Alasan Yakuza melakukan pencucian uang di Asia, khususnya Indonesia selain karena perekonomian sedang tumbuh dan resiko investasi saham rendah, juga karena konversi mata uang satu berbanding 100. Setelah dicuci di Indonesia, uang itu tentu menjadi bersih karena berasal dari satu transaksi dagang.

Orang Indonesia mungkin tidak sadar telah terjadi demikian. Yang terlihat mungkin ada seorang pengusaha Indonesia keturunan yang kaya, hebat, punya banyak uang, transaksi jual beli tanah, investasi usaha besar dan sebagainya, tapi ternyata uang yang dipakai dari hasil membunuh, uang darah, pemerasan dan prostitusi.

Sebab itu, sebaiknya jangan mudah terkesima dengan segala kehebatan orang asing atau janji-janji investasi. Bisa jadi sebenarnya itu penipuan atau investasi bodong. Sebaiknya, sebagai tindakan pencegahan dan hati-hati, anda telusuri lewat internet atau lewat mana saja tentang informasi orang-orang itu.

Orang asing kaya, khususnya dari Jepang, biasanya memiliki banyak usaha jelas. Tapi kalau ada orang asing kaya (dari Jepang khususnya) tanpa punya banyak usaha, atau mengaku punya perusahaan namun setelah dicek sulit ditelusuri, maka anda harus berhati-hati. Bisa jadi dia bagian dari kelompok Yakuza.

http://www.merdeka.com/peristiwa/ada-yakuza-cuci-uang-di-indonesia-yakuza-di-indonesia-i.html